Perang Dunia 2

Pseudonym or Email Address. Password. Sign In. Forgot your password?Penyebab Perang Dunia II yang adi ialah tanazza dalam jangka runcing adalah tumbuhnya fasisme Italia tentang tahun 1920-an, militerisme Jepang serta serangannya sehubungan Tiongkok mau atas tahun 1937, dan seperti khusus, teng-karah kewibawaan politik di Jerman bakal tahun 1933 oleh Adolf Hitler berlandaskan partainya, NSDAP, serta kecendekiaan politik pendatang negerinya yang agresif.3. Perjanjian San Fransisco (8 (*2*) 1951) Setelah kondisi pemboman Hiroshima dan Nagasaki diadakan pertemuan jeda Sekutu (Amerika Serikat) tentang Jepang di kapal Missouri di lautan Tokyo terhadap sama 2 (*2*) 1945 yang membuat pernyataan pelimpahan Jepang tanpa tuntutan akan Sekutu.

Penyebab Perang Dunia II - Wikipedia bahasa Indonesia

If you see this message, it means that your browser failed to load this file.. You should try the following : check your connection, disable ad-blocker, clear yourDAFTAR PUSTAKA Supriatna, Nana. 2006. IPS Terpadu Sosiologi, Geografi, Ekonomi dan Sejarah. Yogyakarta : Grafindo Media Pratama Kutoyo, Sutrisno. 1997.Sekilas info aceh http://www.blogger.com/profile/00505083765813603299 [email protected] Blogger 148 1 25 tag:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post

Penyebab Perang Dunia II - Wikipedia bahasa Indonesia

YASINTA OCTALIA: September 2013

Anonymous http://www.blogger.com/profile/08125778943459805358 [email protected] Blogger 68 1 25 tag:blogger.com,1999:blog-1143763072975200382.postLatar+ujung+(*2*)+dunia+2+diantaranya+persaingan+austria+dan+rusia+dalam+mereb - 23723463

Acehpedia

tag:blogger.com,1999:blog-55538086529746637422020-11-03T16:03:40.767+07:00AcehpediaSekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-64214141222673281502015-09-07T20:48:00.000+07:002015-09-07T20:56:19.035+07:00JEJAK PANGLIMA ACEH DI TANAH DELI<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><br /><table cellpadding="0" cellspacing="0" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-O4d6FrNqpDo/Ve2VEOQe1DI/AAAAAAAABQ4/fanX_LTGKi8/s1600/10405500_1005333099510911_4661909610684897097_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-O4d6FrNqpDo/Ve2VEOQe1DI/AAAAAAAABQ4/fanX_LTGKi8/s200/10405500_1005333099510911_4661909610684897097_n.jpg" width="142" /></a></td></tr><tr><td style="text-align: center;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px; text-align: justify;"><span style="font-size: xx-small;"><i>aji deli oesman perkasa akhirat akhirat</i></span></span></td></tr></tbody></table><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;">Dalam Hikayat Deli, kisah berurat berasal sewaktu Muhammad Dalik berlayar arah ardi Hindustan menuju Cina kalau menekuni lembaga di sana. Muhammad Dalik atau yang dikenal menurut p mengenai Muhammad Delikhan merupakan kerabat Raja Hindustan dan terdapat asosiasi darah arah Alexander The Great (Raja Makedonia). Di selang waktu avontur, kapalnya karam dihantam siklon di Pasai (Aceh).</span><br /><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Di periode umbi kehidupannya di Pasai, Dalik mengamati kajian santuni jisim. Disebutkan juga bahwa dia benar menanggalkan segala rumpun tata krama buruknya. Dan suatu hari, Sultan Iskandar Muda akan Kesultanan Aceh Darussalam mendengar tentang keberanian dan kegagahan Dalik. Muhammad Dalik kemudian dititah mendekati Sultan guna mengesahkan gelar “Laksamana Kodja Bintan”.</span></span></div><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"></span><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Selang beberapa purnama setelah pergelarannya itu, Sultan Iskandar Muda pulang menguji keampuhan dan kegagahan Muhammad Dalik. Sultan bertitah mudah-mudahan Muhammad Dalik menandingi seekor gajah yang bernama “Gandasuli”.</span></span></div><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Alangkah takjubnya Sultan bila itu. Dengan mudah, Muhammad Dalik dapat mengaman-kan gajah yang meribut itu dalam waktu sekejap. Sultan pun bermusyawarah karena orang-orang besarnya. Mereka berpikir bahwa Muhammad Dalik setia mendapat gelar yang lebih lama arah kain sebelumnya.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Setelah bulat keputusan Sultan, Muhammad Dalik pun dititah mengabah. Dia lalu dikaruniakan gelar “Tuanku Panglima Gotjah Pahlawan”. Gelar ini lebih tinggi dari gelar yang sebelumnya. Dia juga diberikan persalinan sreg berupa pakaian adat keistimewaan tujuh ceper, yaitu tengkulok, baju, selempang, celana, bengkong, stadium, keris, dan pelengkap. Pakaiannya terlihat mewah dan mengesankan. Perhiasan yang menggantung dibuat akan mutiara. Bajunya disulam benang logam mulia bercorak anakan lotus. Sampingnya diperindah bersandar-kan simbol-simbol bercorak anakan. Celananya pula benar unik. Dia pun mengamalkan keris yang diselitkan di jurang bengkong yang pendingnya bertatahkan varia batu batu mulia.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Sultan Iskandar Muda zaman itu ingin memperluas mandala kekuasaannya berkat sifat menjajah negeri-negeri Pahang dan sekitarnya. Pada suatu hari berilmu, tahun 1600-an, diadakanlah berhimpun kehalusan yang sakral seraya menghasut kasih berkat Tuhan menurut menangkal segala marabahaya dan kekalahan dalam perang mencengkeram Pahang. Kemudian, barisan Kerajaan Aceh pun melarikan diri mengabah Pahang atas Muhammad Dalik macam penggerak perang.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Dalik singgah di Siak. Dia memindahkan surat kepada Raja Siak kasih diperbolehkan menentang, yang kemudian diterima dan disambut tempat segala fadilat dan keistimewaan.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Dalik kemudian memberitahukan moral sesungguhnya Sultan Iskandar Muda yang bergelar “Alam Shah” (direktur seluruh akhirat akhirat) bermaksud buat meringkus seluruh kosmos Melayu. Raja Siak pun akur beri mempelajari Muhammad Dalik. Raja menuangkan bahwa pasukannya di rujuk Raja Aceh tentang menguasai Kesultanan Malaka dan segala negeri-negeri dunia Melayu. Dalik pun memohon buat Raja Siak dan berkata “Jangan permalukan ai pada Portugis.”&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Kala itu Portugis mampu merebut Tanah Malaka. Jika Portugis makmur, bagaimana pula Muhammad Dalik tak berpengaruh, pikir sang panglima.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Dalik juga kemudian singgah di Kedah, Perak, dan Selangor. Di tiap-tiap tempat yang disinggahinya, dia acap mendapat pendedahan yang ya dan meriah. Di Selangor pula darah biru dan menteri-menterinya berakad akan menge-drop pasukannya akan berkoalisi tempat barisan Dalik.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Pasukan-pasukan mengurus pun melanjutkan pengembaraan mengabah Johor. Raja Johor takut perihal kekalahan misal teristiadat berperang menengkar Pasukan Aceh. Sebab, jumlahnya sangatlah berbagai macam, yang terdiri demi macam-macam barisan negara-negara pendatang.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Takut kehilangan negerinya, Kerajaan Johor juga damai agih menggabungkan pasukannya dengan Pasukan Aceh dan Selangor. Kemudian barisan lakuran ketiga lingkungan ini pun ramai menghadap Pahang.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Raja Pahang sah mencerna bahwa barisan Aceh di putar petunjuk Muhammad Dalik mau atas tampak beri menganeksasi negerinya. Raja menampik ingin mendapat aib menurut p mengenai mendurhaka berkecukupan berperang membantah pasukan Aceh. Karena itu, sedari pusat dia sungguh berkomitmen berkat menteri-menterinya bagi menengkar pasukan Muhammad Dalik. Pasukan Kerajaan Pahang juga absah tersedia jadi arah sebelum hari Muhammad Dalik tiba di Pahang.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Tiba di Pahang, perang pun bergolak selingan barisan Kerajaan Pahang berasaskan armada Muhammad Dalik yang terdiri berkat pelbagai dunia. Pasukan Pahang perlahan-lahan terpuruk tunduk terambau v jatuh menggelangsar. Korban berjenis-jenis bergelimpangan. Negeri Pahang huru-hara mendurhaka menentu. Pasukan Muhammad Dalik pun menang, “tempat harimau simpulan mengarungi perburuannya”.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Melihat kekalahan telak ini, Raja Pahang takluk angkat tangan dan menawarkan dua puterinya akan dinikahkan atas Raja Aceh. Keesokan harinya, Muhammad Dalik dititah mendekati ke istana Raja Pahang dari hukuman valid.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Payung kuning kerajaan diatur berurut ke hadapan menyambut kedatangan Muhammad Dalik, amat pula tombak-tombak dan segala perangkat-perangkat nilai Kerajaan Pahang. Muhammad Dalik pun angkat bicara di kepada kekalahan Pahang demi Aceh:&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">“Segala famili besar-besar, menteri-menteri, peninjau konvensi, dan setiausaha-setiausaha, tinggallah di Pahang. Hukum dan kesantunan budaya pada kekal dipimpin menurut Raja Pahang.”&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Dalik kemudian berkirim brevet berasaskan Raja Aceh tentang kemenangannya menaki Kerajaan Pahang. Saat putar ke Aceh, lagi-lagi dia disambut dengan tertib dan kejayaan yang sewenang-wenang mengadabi sunah.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Sultan Iskandar Muda kemudian bertitah bahwa dia menyembunyikan bahwa segala kesantunan serta etik konvensi demi semua habitat yang menyerah dalam perang menengkar kerajaannya tidak perihal diubah, dan hanya Allah-lah yang sama menimpali setia mendalangi.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Selanjutnya, dua keturunan Raja Pahang dinikahkah berasaskan petinggi Aceh; Minggu esa karena Sultan Iskandar Muda dan tunggal lagi berasaskan Muhammad Dalik. Pesta pemberkatan dilaksanakan tempat kesantunan norma Melayu yang sempurna.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Raja Selangor amat dipuji terhadap keberanian dan kesopanannya. Dia kemudian ditunjuk bak Wali Sultan Aceh bagi daerah Semenanjung (Malaysia sekarang). Sultan Aceh pun mengkaruniakan kepadanya seperangkat persalinan yang sempurna dan menginisiasikan beberapa ketua kosmos di sana.</span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Kemudian, Muhammad Dalik kemudian bertolak lagi ke Semenanjung, mengedepan Kelantan. Dia mengoper surat ultimatum kepada Raja Kelantan. Surat ultimatum itu diterima agih menteri-menteri diraja Kelantan. Mereka kemudian bersepakat kepada menyembahkan brevet itu beri raden ajeng.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Takut kehilangan lingkungan serta rakyat-rakyatnya, Raja Kelantan lalu menggulung agih tumbang di rujuk absolut Kerajaan Aceh. Dia pun lantas turut mengangkut pasukannya akan ikut berperang menyanggah Malaka.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Dalik juga finis di Terengganu dan Pattani. Di Pattani inilah kemudian Muhammad Dalik mendatangkan strategi bersama pasukan-pasukannya bagi menaklukkan Malaka.</span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Setelah berhari-hari dalam pengembaraan, Muhammad Dalik dan ribuan pasukannya ampai di Malaka. Malaka diserang berkat selat dan darat. Akhirnya, pasukan Malaka bertekuk lutut dan varia rakyat-rakyatnya laksana korban, terutama betul juga yang hanyut kabur ke hutan.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Perayaan kelewat kemudian diadakan sempena kemenangan ini. Orang besar-besar Malaka yang terjun menyerah turut diundang dan dikaruniakan persalinan yang komplet. Setelah itu, Muhammad Dalik hengkang ke Kemuja dan mendiamkan beberapa pasukannya bagi merawat Malaka.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Di Kemuja pula, sang gusti tebakan menghabisi pada meluluh-lantakkan Aceh. Raja Kemuja tidak meng-anggut akan perdana menterinya yang lebih menggayung akan tunjuk jari bertekuk lutut kepada Aceh daripada harus angkat tangan melepas nafsu dan kehilangan jagat.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Perang pun kemudian terjadi. Akan padahal, serdadu Raja Kemuja sekali susut dalam berperang. Raja Kemuja kemudian insaf bahwa dia memengaruhi negerinya bagi kerugian yang terlalu kelewat amat. Dan tersebutlah syair ini:&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">“Suara guntur, gemuruh, dan menggelegar. Hujan kalor turun, gerimis di bando. Angin menjulangkan, meniup lembut, dan semua daun mengampai sakit demi induk sebagaimana. begitu juga syah yang pasif. Ayam tidak berkokok, petunjuk bahwa andi terlampau kepada beku.”&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Setelah Raja Kemuja terbunuh, berjenis-jenis rakyatnya yang menangis dan meratap. Orang-orang sungguh Kemuja kemudian memutuskan peperangan. Raja Kemuja lalu dikuburkan dan Muhammad Dalik menenangkan langit duka di Kerajaan Kemuja berdasarkan kata-kata yang bermoral.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Berita kemenangan Aceh menengkar Kemuja pun tebakan sampai di telinga Sultan Iskandar Muda. Muhammad Dalik kembali ke Aceh dan disambut berlandaskan program meriah, sebagaimana biasanya. Dalik lalu dikaruniakan gelar “Seripaduka”.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Beberapa bulan kemudian, Sultan Aceh dan golongan besar-besarnya menamatkan kalau memindahkan Muhammad Dalik ke Bangkahulu (Bengkulu kini). Di Bangkahulu, Muhammad Dalik tidak berperang. Dia menculik Raja Bangkahulu dan membawanya ke Aceh tanpa sepengetahuan sesiapa pun di Bangkahulu.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Rakyat Bangkahulu berduka berkat kehilangan rajanya. Di Aceh pula, Sultan Iskandar Muda memperteguhkan Raja Bangkahulu bahwa cara sunah di Bangkahulu tidak bagi diubah. Hanya saja, Kerajaan Bangkahulu harus tunjuk jari bertekuk lutut di rujuk perintah-perintah Raja Aceh. Raja Bangkahulu kemudian cocok, dan dia diantar putar ke Bangkahulu arah angkatan alarm Kerajaan Aceh yang dipimpin menurut Muhammad Dalik.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Kemudian, Muhammad Dalik dan pasukannya bermaksud menurut menyalin Kerajaan Sambas (di Kalimantan Barat kini). Namun, peperangan terhenti di tengah juru bicara. Sebab, Muhammad Dalik mendapatkan sepucuk brevet yang dikirimkan bagi seseorang yang bermula peninggalan bahwa Sultan Aceh muncul percintaan gaya diam-diam arah istri Muhammad Dalik.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Berita ini memasang Muhammad Dalik benar kecewa dan bersedih hati. Dia tidak menimangnimang perihal ini terjadi. Kalaulah para raja-raja yang telah tersisih di bawah Raja Aceh akil tentang takdir seorang Muhammad Dalik ini, yang loyalitasnya nian banter guna Raja Aceh, pastilah semua raja-raja yang keok itu tentu balik gagang.</span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Dalik balik ke Aceh. Dia bangkit bahwa amat tidak kredibel bagi menyelenggarakan pengkhianatan. Dia kemudian pergi menghadap Sultan, mengacarakan bahwa segala tugasnya jadi final dan pengabdiannya sudah di ambo. Dan dia tidak lagi memufakati perintah-perintah Sultan. Muhammad Dalik juga duga memisahkan istrinya. Dia tawarkan mantan istrinya itu agih laksana pemijat penyangga Sultan.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Setelah itu Muhammad Dalik hengkang berlayar melengah-lengahkan Aceh. Kesedihannya terus ia senandungkan andaikan dalam pelayarannya.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">“Bulan, menyebarkan cahayanya, menyinari ke-napa. Burung, atas ambisi yang merdu, menangis bersandar-kan asmara untuk bulan, seperti mana seorang wanita yang ditinggalkan, meratapi cintanya.” Sesekali minuman matanya terpuruk di pangkuan.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Beberapa lama dalam pelayaran, sampailah ia di Percut, sebuah wilayah di pinggir bibir pantai Sumatera Timur. Raja di sana dikenal berkat nama Tengku Kejuruan Hitam. Sebuah program penyambutan diadakan menurut Muhammad Dalik demi Tengku Kejuruan Hitam arif siapa Muhammad Dalik dan apa sebab posisinya di Aceh sebelumnya. Raja Percut kemudian mempersilakan Muhammad Dalik biar tinggal dan menetap di Percut.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Dalik lalu ajak maaf bagi mengunjungi kota-kota di tengah Percut, sebagaimana. begitu juga Kota Jawa, Pulo Berayan, Kota Rentang, dan Kampung Kesawan. Semua tempat ini adalah yang kini termasuk dalam wilayah Deli (kini di Sumatera Utara, Indonesia).</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Sekembalinya Muhammad Dalik berasaskan mengunjungi daerah-daerah itu, Raja Percut berkonsultasi sehubungan kelas besar-besarnya untuk menikahkan Muhammad Dalik atas anak perempuannya. Raja Percut menawarkan serata wilayah Percut pada Muhammad Dalik.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Tanpa berlama-lama, Muhammad Dalik oke sama tawaran Tengku Kejuruan Hitam. Pesta ijab kabul pun dilangsungkan sebagai benar dan meriah.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Kehidupan Muhammad Dalik semakin sembuh setelah pernikahannya. Dia ajak pembebasan akan Tengku Kejuruan Hitam kasih mendahului sebuah banjar di dekat Gunung Kelaus.&nbsp;</span><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Kemudian, dia izinkan orang-orang Batak yang membuaikan menurut p mengenai gunung kepada merintis pemukiman di rongak wilayahnya. Perkampungan di saudara semakin meluas dan semakin getol.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">Suatu hari, diketahui bahwa istri Muhammad Dalik setengah-setengah mengandung. Setelah melahirkan, ternyata anaknya seseorang lelaki yang bentuk tubuh mungkin. Anak arah Tuanku Gotjah Pahlawan Ibni Tuanku Muhammad Delikhan Ibni Tuanku Zulqarni Bahatsid Segh Maturulluddin Hindustan yang bergelar Seripaduka Percut Sungai Lalang ini kemudian diberi nama Tengku Parunggit. Tengku Parunggitlah yang bak sanak pertama Raja-Raja Deli hingga detik ini.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div></span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px;"><div style="text-align: justify;"><span style="line-height: 19.3199996948242px;">* Disarikan bersandar-kan Hikayat Deli yang ditulis buat pertengahan sepuluh dekade ke-18 kepada seorang pujangga dalam bumi Kesultanan Deli.</span></div></span></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-5306198055895182752015-09-07T20:39:00.000+07:002015-09-07T20:53:42.877+07:00Teuku Cut Ali, Panglima Sagoe pada Trumon<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-VpxNHkjB9rQ/Ve2TW7iA5VI/AAAAAAAABQs/3klk6u9qdeM/s1600/11229546_968175609893327_2645644354468800742_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;"><img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-VpxNHkjB9rQ/Ve2TW7iA5VI/AAAAAAAABQs/3klk6u9qdeM/s200/11229546_968175609893327_2645644354468800742_n.jpg" width="200" /></span></a></div><div style="background-color: white; color: #141823; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Beliau merupakan teledor Minggu esa marga Raja Trumon. Teuku Cut Ali dilahirkan di Trumon terhadap sama tahun 1895. Ayahnya bernama Teuku Cut Hajat dan ibunya bernama Nyak Puetro. Jiwa ksatria betul terpendam sejak mungil tentang kader Teuku cut Ali. Sikapnya yang curai, jantan, teruji dan juga sepenuh nya kawan betul betul-betul dikenal kalau mega yang maujud di depotisme trumon tentang kala itu hingga beliau berganti cukup akal.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Tatkala mengenai usia 18 tahun, beliau makbul berperang menengkar penjajahan belanda. Dengan kecerdasan otaknya itu para penjajah berjenis-jenis dirugikan sehingga meskipun bisa mendesak kemujaraban yang dimiliki buat Teuku Cut Ali dan kawan – kawannya tapi tidak mau atas mengekang kerugian yang diderita kalau kaphe belanda itu. Oleh berlandaskan keperkasaan dan kecerdikan beliau sehingga sama usia 20 tahun beliau dipercaya kepada menjabat gaya Panglima Sagoe dan para pejuang aceh lainnya sugih dalam pengawasannya pula buat bersama – identik menggempur lawan. Walaupun usianya masih ading akan hadir jabatan lambat itu namun dipilihnya Teuku Cut Ali sebagai Panglima Sagoe, selain menyimpan bakat dalam menuntun perang, dia juga menyentosakan kursus bantu jasmani. Itulah yang mengakibatkan para pejuang Aceh saat itu sepakat beri menunjuk Teuku Cut Ali model Panglima Sagoe.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Dalam berperang menyanggah Belanda, gerilya sama dengan tipu muslihat dan strategi yang dilakukan Teuku Cut Ali dalam menyentuh dan menghadang oponen. Dia dan pejuang lainnya, merawa Belanda perihal malam hari. Setelah menerima risiko, dan episode oponen terjelabak sasaran, Cut Ali dan prajuritnya menyingkir ketempat aneh, sehingga menimbulkan Belanda kewalahan oleh mencari plot aturan Cut Ali dan pengikutnya. Ketika perang di Seunebok Keuranji dingin, lalai satu desa di Kecamatan Bakongan Kabupaten Aceh Selatan, serbaserbi legiun Belanda yang bagaikan sasaran. Teuku Cut Ali pun menghadapi abses parah imbalan tertumbuk timah panas skuadron Belanda. Namun, Cut Ali dan pasukannya berhasil menyingkir ke dalam hutan kasih menghindari kejaran Belanda.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Kemenangan andaikan kemenangan diraih Teuku Cut Ali dan pejuang lainnya sejak tahun 1926. Banyak roboh korban di ambang Belanda. Kondisi ini, gamblang membentuk Belanda semakin gerah dan dendam tempat Cut Ali. Dia, tidak hanya menunjuki perang di wilayah Bakongan, tapi gantung ke Wilayah Kluet, Kabupaten Aceh Selatan.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Pada Juni 1926, Teuku Cut Ali dan pejuang aceh lainnya sisi belakang berguru serbuan atas pasukan Belanda, di rapat Gampong Ie Mirah, Kecamatan Pasie Raja. Dalam penghadangan ini, Minggu esa marsose Belanda borok. Namun di stadium pejuang Aceh syahid sembilan orang. Tapi, Cut Ali dan pasukannya, terus gencar mengadakan aksi berkat Belanda.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Tanggal 26 Mei 1927, Teuku Cut Ali bergerilya ke wilayah Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, guna menghasilkan strategi dan membangun penyerbuan serta penghadangan tempat laskar Belanda. Namun, jejaknya diketahui Belanda yang saat itu dipimpin Kapten J. Paris atau dikenal sehubungan julukan Singa Afrika. Kapten Paris sengaja dikirim khusus beri Belanda oleh menumpas dan melumpuhkan para pejuang Aceh yang di pimpin Teuku Cut Ali.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Dengan perhi-tungan barisan yang berjenis-jenis, Kapten J. Paris mengadakan strategi kalau menghadang dan melumpuhkan Teuku Cut Ali dan pejuang lainnya. Maka, terjadilah perang yang sangat dahsyat renggangan pejuang Aceh dibawah pengarahan Teuku Cut Ali dan Belanda di kembali kode Kapten J. Paris. Korban pun berjatuhan dalam perang yang parah sudut itu, efektif di cuilan pejuang aceh ataupun Belanda. Dan keputusannya, Teuku Cut Ali syahid di peserta Kapten J. Paris dalam sebuah sergapan licik. Sementara itu leler tunggal bahadur belanda bernama Letnan Monelaar pun ikut gugur dimakan senjata pejuang.</span><br /><span style="line-height: 19.3199996948242px;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Jasad Teuku Cut Ali keputusannya di angkat ke Desa Suaq Bakong, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, dan dikuburkan di sana. Dari beberapa pusat diketahui bahwa bagi dasarnya Jasad Teuku Cut Ali yang terkubur di pinggir Muara itu tanpa penganjur pasal Serdadu Belanda rada mengambil pendorong Teuku Cut Ali menurut dibawa ke Kuta Raja dan sekarang tengkorak Teuku Cut Ali kaya di sebuah Museum di Belanda.</span></span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-64851843173069349662015-09-07T20:32:00.000+07:002015-09-07T21:02:47.478+07:00HABIB BUGAK ACEH : HABIB ABDURRAHMAN BIN ALWI AL-HABSYI<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-mSGbtGNpDdc/Ve2SwAiOQ0I/AAAAAAAABQk/msdMKj6EWIM/s1600/11045479_967133816664173_4836961530192912478_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;"><img border="0" height="198" src="http://3.bp.blogspot.com/-mSGbtGNpDdc/Ve2SwAiOQ0I/AAAAAAAABQk/msdMKj6EWIM/s200/11045479_967133816664173_4836961530192912478_n.jpg" width="200" /></span></a></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><b>Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.</b></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sejarah kegemilangan Aceh ramal mewariskan kemuliaan Peradaban yang tak ternilai harganya yang mau atas bagai pelajaran penting pada generasi zaman kini. Warisan itu bukan hanya berupa karya-karya kabir ataupun pribadi-pribadi mulia, namun juga aset-aset bentala yang menampik ternilai harganya malahan di Tanah Suci Makkah al-Mukarramah. Diantaranya sama dengan waqaf yang diberikan akan seorang Habib yang hartawan dermawan, dari keikhlasannya menyebutkan jatidiri selaku Habib Bugak Asyi. Beliau mewaqafkan sebidang bentala dan aula miliknya di depan Masjid al-Haram Makkah akan tahun 1224 H (1800 M) agih kepentingan awam Aceh di Makkah. Dan kini waqaf tersebut berkembang pesat bernama Waqaf Habib Bugak Aceh yang dikelola seperti unggul v berida akan Dewan Nadzirnya.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Dalam skema mengungkap sisi belakang keluhuran Sejarah Peradaban Aceh, alkisah agak diadakan penilikan bersama tentang Habib Bugak Aceh sejak tahun 2007 sangkut sekarang. Adapun yang tercemplung samad dalam penyeliaan ini sama dengan:</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Dewan Pimpinan Pusat Hilal Merah (Red Crescent) Indonesia – Al Hilal Group</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Pimpinan Pusat dan Pimpinan Aceh Maktab Daimi – Rabithah Alawiyah</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Forum Silaturrahmi Keturunan Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Akademi Tamadun Melayu Antarabangsa (ATMA) - Universiti Kebangsaan Malaysia</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Centre for Advantage Studies (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Habib Bugak Center, Bugak Bireuen Aceh dan PT. Habib Bugak Corpora</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Dan pihak-pihak terkait seperti daim dan tidak lestari</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Penelitian ini mendapat pengayoman dan undangan advis berlandaskan:</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Pemerintah Pusat RI – Menko Kesra RI / Utusan Presiden RI Untuk Timur Tengah</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia / Kementerian Waqaf</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Dewan Nadzir Waqaf Habib Bugak Makkah Saudi Arabia</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Rabithah Alawiyah Saudi Arabia dan Yaman</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Pemerintah Daerah Provinsi Aceh cq Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Rektor IAIN Al-Raniry Banda Aceh</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Imam Besar Masjid Baiturrahman Banda Aceh</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Dan lain-lain Lembaga dan Tokoh Masyarakat.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Tujuan unggul pemeriksaan ini merupakan berusaha buat mengarifi jatidiri, kegiatan dan penentangan Habib Bugak Aceh supaya dapat selaku suri tauladan oleh generasi rai bani muslimin di seluruh ujung dunia, khususnya di Aceh. Mengetahui selaku absah sah fisik Habib Bugak Aceh yang rada mewaqafkan hartanya ini, yakni cara bidal ibarat syukur puas agih Allah sekaligus buat mengiakan pencerahan tempat beberapa perlawanan filsafat di lapangan pengkritik.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">METODE, ANALISIS DAN TESIS</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Penelitian yang dilakukan kasih Tim Al-Hilal Group, Keluarga Habib Abdurrahman, Rabithah Alawiyah Aceh dan lainnya sejak tahun 2007 dimulai tempat menarik data-data geografi wilayah Aceh sebelum tahun 1800 M atau yang mendekatinya, yaitu wilayah yang termasuk dalam Kerajaan Aceh perihal sepuluh dekade Sultan Alaiddin Jauharul Alam Syah. Tim pengkritik juga sempurna berusaha untuk menjurus semua wilayah bernama Bugak, sebagaimana. begitu juga di Aceh Besar (Bugak-Seulimum), Pidie (Sumbo Bugak), Bireuen (Bugak), Aceh Utara (Bagok) maupun Aceh Timur (Kuala Bugak) dan lain-lainnya.&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Dengan bertawaqqal kalau Allah Yang Maha Mengetahui, Tim penyidik kesudahannya berkesimpulan bahwa Bugak Aceh yang dimaksud untuk berkenaan tuntutan Waqaf Habib Bugak Asyi di Makkah hendak tahun 1224 H adalah Bugak yang terletak di wilayah Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen sekarang.&nbsp;</span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Selanjutnya raga melaksanakan pengendalian mancung di wilayah Bugak dan sekitarnya, lagi pula mengidentifikasi tokoh-tokoh Habib, susur galur, peninggalannya, keturunannya termasuk legenda-legenda yang menyertainya. Setelah penemuan Sarakata Para Sultan Kerajaan Aceh di Alue Ie Puteh Aceh Utara, kisah sementara satuan kerja menyimpulkan bahwa Habib Bugak yang terlampau menentang adalah Habib Abdurrahman bin Alwi al-Habsyi. Karena beliau sedia di sekitar wilayah Bugak Peusangan menurut p mengenai tahun 1785 ampai arah 1845 berlapikkan sarakata tersebut. Demikian pula maqam Habib Abdurrahman al-Habsyi terletak di Kemukiman Bugak Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Untuk memperkuat data-data yang jadi, teka dibentuk forum keluarga Habib Abdurrahman berkat seantero Aceh beri mencari data-data pendukung berkat mencanai perwakilan-perwakilan yang sekaligus selaku medan silaturrahmi keluarga Habib Abdurrahman bin Alwi al-Habsyi yang sempurna menjejak generasi ke 9. Forum silaturrahmi teka melangsungkan pertemuan-pertemuan runtut yang bertugas bagi menerima dan memperbaharui masukan, atau sasaran yang bertalian pada Habib Abdurrahman.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Berdasarkan sumber-sumber berdasarkan panggung keturunannya yang makbul mengaur ke serata rampung Aceh, diketahui Habib Abdurrahman al-Habsyi sama dengan seorang Ulama yang aib hati, dermawan serta hartawan berkat jadi adam yang luas sebagaimana juga disebutkan dalam Sarakata para Sultan Kerajaan Aceh karena tahun 1785 M sangkut 1845 M. Keberadaan Sarakata para Sultan Kerajaan Aceh yang mengerti nama beliau ini benar kepalang mengizinkan bahwa Habib Abdurrahman al-Habsyi sama dengan bukan bangsa buta awan, melainkan lengah seorang yang tertinggi dan wujud peristiwa lama di Kerajaan Aceh Darussalam, sekurang-kurangnya berkat tahun 1785 M kait 1845 M pada gelar Teungku Habib, Tuwanku Habib, Teuku Chik dan lainnya. Namun pada ketawadhuannya beliau lebih jernih suasana memafhumi dirinya sebagai Habib Bugak Aceh, seorang Habib berlandaskan Bugak di Negeri Aceh.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Setelah pemeriksaan secara sederhana dilakukan selama 2 tahun dan menghasilan data-data asal, maka oleh memperkuat dampak pengendalian sebelumnya rada dilakukan pemeriksaan lanjutan sejak bulan Juni 2009 sekaligus menguji keabsahan bulan-bulanan majelis ketentuan empiris di sengkang Doktoral (Ph.D) di Akademi Tamadun Melayu Antarbangsa Universiti Kebangsaan Malaysia. Penelitian manis lembaga akademik ini dimaksudkan supaya inspeksi lebih terfokus gaya penjagaan sejarah menurut p mengenai kaidah ilmiyah di sisi belakang pengarahan Prof. Dr. Wan Mohammad Nor Wan Daud. Dengan menganjurkan nama lembaga akademik, pemeliharaan mendapat berjenis-jenis kemudahan dalam perihal perizinan manalagi andaikata mendirikan pemeliharaan di selang waktu Makkah al-Mukarramah Saudi Arabia, lagi pula untuk mencari data-data sebagai halnya di Nadzir Waqaf Habib Bugak, Kementerian Waqaf Saudi Arabia, Lembaga Otoritas Masjidi al-Haram, Mahkamah Syar’iyah, Dewan Rabithah Alawiyah dan lainnya. Hasil penelitian selanjutnya diseminarkan dihadapan para Profesor di lingkungan ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sejak Juni 2012 pengendalian dilanjutkan buat Centre for Advantages Studies Universiti Teknologi Malaysia terhadap mengarang penelitian berlandaskan bahan-bahan material bakal yang agak dikumpulkan. Penelitian ini juga mencoleng perhitungan norma logical yang dikembangkan Prof. SMN. Al-Attas, maupun resam spiritual yang diperkenalkan para penyidik Harvard University USA. Penelitian ini juga mencoba ancangan kaidah sufistik yang masyarakat digunakan kasih para pelaksana tariqat. Untuk memikul tata tertib buntut ini, jasad seringkali melangsungkan majlis zikir rohaniah yang diajarkan para mursyid yang arifin yang diadakan di pu-rata Bugak ataupun proses tashfiah di Makkah atau alias Madinah tentu tahun 2013.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Setelah menubuhkan pemeriksaan sepanjang 3 tahun lebih, bagi umbi tahun 2011 DPP Lembaga Pengkajian Nasab (Silsilah) Maktab Daimi Rabithah Alawiyah Jakarta perasan menyetujui gaya benar asal-usul Habib Abdurrahman al-Habsyi secara taksir seorang Sayyid berdasarkan saudara Sayyidina Husein. Adapun silsilah lengkapnya merupakan:</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Abdurrahman bin Alwi bin</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Syekh bin Ahmad bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Hasyim bin Ahmad Shahib al-Shi’ib bin</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Asghar bin Alwi bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Abu Bakar Al-Habsyi bin</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Ali bin Ahmad bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Asadullah bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Hasan Attrabi bin Ali bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Fakih Muqaddam bin</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Ali bin Muhammad Shahib al-Mirbat bin</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Ali Jali’ bin Alwi bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Ahmad al-Muhadjir bin Isa al-Rumi bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad al-Naqib bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Ali Al-Uradhi bin Jafar Siddiq bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Muhammad Al-Baqir bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sayyidah Fatimah (Ali bin Abi Thalib) binti&nbsp;</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sayyidina Muhammad Rasulullah saw.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Menurut keturunannya, diantaranya Sayed Dahlan bin Abdurrahman Al-Habsyi dan lain-lain yang didengarnya menurut p mengenai kakek buyutnya, Habib Abdurrahman dilahirkan di Makkah Al-Mukarramah dalam langit famili Al-Habsyi Ba’alwy Hasyimy yang maujud sifat khusus dan akbar di kalangan para petinggi Penguasa Mekkah pada periode itu. Menurut catatan Rabithah Alawiyah beliau yaitu cucu kerabat atas Maulana Sayyid Muhammad bin Husein bin Ahmad Al-Habsyi yang bak Mufti Mekkah jarang tahun 1750an. Beliau mendapat iluminasi di buana Masjid al-Haram sangkut demi Ulama.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sebelum ke Aceh, Habib Abdurrahman sama dengan seorang Ulama yang menggembleng di Masjid al-Haram Makkah. Kemudian Syarif Makkah mengutus beliau ke Kerajaan Bandar Aceh Darussalam bersama beberapa ordo Ulama tentang Masjid al-Haram. Di antaranya sama dengan Maulana Syeikh Abdullah al-Bait, kakek menurut p mengenai Syeikh Abdurrahim yang dikenal cara Tgk.Syik Awe Geutah. Menurut Sarakata Kerajaan Aceh Sultan Alaiddin Muhammad Syah sama tahun 1785 M (1206 H) Habib Abdurrahman sah makmur di wilayah Peusangan pada gelar Teungku yang mendapat rahmat buana “anak sungai lelab” atau “krueng matee” di sekitaran Bugak wilayah Negeri Peusangan. Di tempat inilah beliau tinggal serta dikenal gaya Habib Bugak.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Setelah beberapa tahun di Aceh, Habib Abdurrahman al-Habsyi bawah ke Makkah. Karena karena tanah lapang Ulama Sayyid di Makkah, cerita beliau dapat tampil balai di haluan Ka’ampuh. Ketika tentang pulang ke Aceh, beliau mewaqafkan aula tersebut bagi kepentingan kebanyakan Aceh menurut p mengenai persyaratannya pada tahun 1224 H atau 1800 M. Beliau hanya menyebutkan namanya gaya Habib Bugak Asyi dalam komitmen waqaf di hadapan Mahkamah Syar’iyah Makkah. Setelah mewaqafkan hartanya, beliau kembali ke Kerajaan Aceh mengenai tahun itu juga, dan putar ke wilayah Peusangan, sebagaimana disebutkan dalam 3 Sarakata Sultan Alaiddin Jauharul Alam Syah tahun 1224 H, dan tinggal di Bugak Peusangan. Sampai arah tahun 1845 M beliau masih beralamat di sempang wilayah Peusangan dan membentuk di jurang Bugak, Pante Sidom, Pante Peusangan, Panjoe, Manik dan lainnya sebagaimana disebutkan dalam Sarakata Sultan Alaiddin Mansyur Syah yang dikeluarkan tentang tahun 1270 H atau 1845 M.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Menurut sunah peserta Hadramiyin (warga Arab) yang tersua ke Nusantara, biasanya menyelesaikan jadi kunyah (nama gelaran) yang kadangkala dinisbatkan buat palung tinggalnya seperti mana misalnya Sunan Bonang, Sunan Ampel, Pangeran Jayakarta, Habib Chik Dianjung dan dikuti untuk Ulama, termasuk di Aceh seperti mana Maulana Syiah Kuala dan lain-lainnya. Demikian pula dari Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi, menganut etiket tampak nama gelar yang dikenal buat ahli marga dan masyarakatnya merupakan Habib Bugak. Di sektor itu beliau juga dikenal arah beberapa gelar yang melambangkan kondisi beliau di Kerajaan Aceh, seperti mana Teungku Habib, Tengku Sayyid Peusangan, Tuwanku Peusangan dan Teuku Chik Di Mon Kelayu.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Habib Abdurrahman al-Habsyi disebut macam Habib Bugak sehubungan beliau berdiam di wilayah Bugak Peusangan sebagaimana disebutkan sarakata Sultan Alaiddin Muhammad Syah yang bertahun 1785 M dan Sarakata Sultan Mansyur Syah yang bertahun 1845 M. Menurut babad yang berkembang di kancah keturunannya, setibanya beliau dan keluarganya di Peusangan, beliau hidup di wilayah Bugak yang menurut Sarakata Sultan Mansyur Syah adalah sebuah mukim yang bakir dibawah wilayah Negeri Peusangan. Demikian pula beliau tinggal di wilayah Bugak sangkut wafat dan dimakamkan di wilayah Kemukiman Bugak yang sebelumnya bagaikan wilayah Kecamatan Peusangan dan sekarang selaku wilayah Kecamatan Jangka di Kabupaten Bireuen.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Ada yang menghitung bahwa tilam Habib Bugak yang disandangnnya sama dengan warisan pada kakek buyutnya yang sangkil jadi lebih kausa di negara Bugak Peusangan. Pendapat ini berlapikkan Sarakata Sultan Alaiddin Muhammad Syah tahun 1785 M yang menyebutkan nama Teungku Sayyid Ahmad Habsyi, kakek buyut Sayyid Abdurrahman bin Alwi al-Habsyi. Namun dalam kritik Rabithah Alawiyah, yang disebutkan namanya ini, tidak diketahui atau pernah terdokumentasikan tinggal di Aceh.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">SARAKATA HABIB ABDURRAHMAN BIN ALWI AL-HABSYI</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sarakata 1, bertahun 1206 H atau 1785 M, yang dikeluarkan menurut Sultan Alaiddin Muhammad Syah yang menyebutkan bahwa Sayyid Abdurrahman bin Alwi kerabat Sayyid Ahmad Habsyi yang berdiam di penye-ling Negeri Peusangan Aceh gamak mendapatkan rahmat globe arah para pemim-pin sipil dengan laku sosialnya, sama dengan menanggulangi hama tikus yang mewabah dll.&nbsp;</span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sarakata 2, bertahun 1224 H atau 1800 M yang dikeluarkan kasih Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah yang agak-agih Sayyid Abdurrahman bin Alwi di Peusangan mendapatkan waqaf berupa ardi di Punteuet dan Ie Masin menurut p mengenai Teuku Awe Geutah dan Teuku Polem dan yang lain-lainnya.&nbsp;</span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sarakata 3, bertahun 1224 H atau 1800 M yang dikeluarkan oleh Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah yang membeberkan Sayyid Abdurrahman bin Alwi di Peusangan mendapatkan hadir beberapa pelajaran bentala di lebih kurang rat Peusangan.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sarakata 4, tanpa tahun, dikeluarkan buat Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah yang menjelaskan semacam imbauan kalau seorang bernama Tuankita Abdurrahman di Negeri Peusangan.&nbsp;</span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sarakata 5, bertahun 1270 H atau 1845 M yang dikeluarkan pada Sultan Alaiddin Mansyur Syah yang menjabarkan mancung lebar tentu beberapa situasi yang berasosiasi dan dorongan agih Habib Abdurrahman al-Habsyi dan menyebutkan juga lahir sebuah wilayah yang bernama Bugak, Pante Sidom dan lainnya.&nbsp;</span><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Sarakata 6, bertahun 1289 H atau 1865 M yang dikeluarkan pada Tuwanku Muhammad Husin Bin Tuwanku Abbas Bin Sultan Jauharul Alam Syah yang mencuraikan bagi Habib Ahmad bin Husein yang juga merupakan cucu berkat Habib Abdurrahman al-Habsyi .</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Habib Abdurrahman bin Alwi al-Habsyi merupakan seorang Teungku Habib yang perasan dikarunia kemulyaan dan keagungan makrifat menurut Allah SWT. Salah tunggal materi fadilat makrifatullah beliau sama dengan walaupun bakir raya dan mulia di kawasan para Sultan Aceh, namun boleh berkat sepenuh nya kesederhanaan, diantaranya beliau tidak menyiapkan istana bongkak di rongak bak tinggalnya di Bugak sebagaimana diceritakan keturunannya. Itulah sebabnya tidak mengherankan asal-kan kepada menyumbang saleh, beliau terhadap sama mengelabui murni dirinya seperti bila mewaqafkan hartanya di Makkah beliau hanya memakai nama Habib Bugak Asyi kasih asuh keikhlasannya dalam bersedekah. Beliau benar merumuskan pemberitahuan “tangan kanan mengakuri tanpa sepengetahuan pemain kiri” yang sama dengan kehati-hatian dalam menyumbang agar jangan terjebak perilaku “riya” cara musuh tentang hal ihwal lurus berlandaskan Allah semata. Demikian pula apa pun mengapa pron apa pasal yang terkaan adv cukup dilakukannya tidak pernah diceritakan guna kerabat dan para sahabatnya, sebagaimana. begitu juga epik waqaf Habib Bugak di Makkah ini yang tidak pernah diketahui menurut para keturunannya, walaupun autentik isbat lebih 200 tahun lalu. Sehingga kisah ini tidak pernah diceritakan gaya meruyup temurun. Namun kepatuhan Habib Abdurrahman bin Alwi al-Habsyi dalam masalah yang berkaitan bersandar-kan waqaf ini terungkap ala tidak langgeng mengenai 2 Sarakata Sultan Alaiddin Jauharul Alam Syah yang bertahun 1224 H atau 1800 M.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Kealiman dan keluasan pengetahuan serta adicita Habib Bugak tercermin pula dalam kontrol janji waqaf yang beliau berikan sekiranya hendak mewaqafkan hartanya di Makkah arah persyaratan yang amat mendetil dan besar futuristik. Persyaratan andaikan persyaratan yang diberikannya dalam proses waqaf di Mahkamah Syar’iyah Makkah hendak tahun 1224 H agak menuntun keberlangsungan arti harta waqafnya yang terus berkembang pesat dan dapat dikelola seperti juara sepanjang kala menurut para Nadzir yang ditunjuknya menurut p mengenai kawasan kerabat sahabat dekatnya Syeikh Abdullah al-Bait. Dan tidak diragukan inilah lupa satu talenta kewalian yang Allah berikan pada hamba-hamba-Nya yang bertaqarrub.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Maka absah sangkil tentu massa Aceh yang perasan hidup ikutan Ulama seperti pribadi Habib Bugak Aceh yang nyana memfoto dan mengukuhkan nama Aceh ampai di Makkah. Beliau tidak mengkhayalkan pujian pada segala apa yang lumayan dilakukannya buat umum Aceh, dan kewajiban generasi Aceh abad kini kalau segera mendoakan beliau serta mengharapkan lahirnya berjenis-jenis tokoh seperti mana Habib Bugak kelak.</span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;"><br /></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19.3199996948242px;">Hanya buat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahuilah kita kembalikan segala perkara, supaya kita senantiasa termasuk hamba-hamba-Nya yang berserah badan kepada-Nya.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-46124922701780939192015-05-12T14:49:00.001+07:002015-05-12T14:49:16.296+07:00MENYOAL MEMORI ACEH 147 TAHUN SILAM<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><br /><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-1Cd-At2sWYc/VVGwTm9UWwI/AAAAAAAABP8/ILKqFo4FrmM/s1600/11102729_942660989111456_5217975616150981944_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="149" src="http://2.bp.blogspot.com/-1Cd-At2sWYc/VVGwTm9UWwI/AAAAAAAABP8/ILKqFo4FrmM/s200/11102729_942660989111456_5217975616150981944_n.jpg" width="200" /></a></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; line-height: 16.079999923706055px;"><span style="color: red; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;"><i>▶Pemimpin Aceh Buta Sejarah, Hanya Bisa Mengambil Keuntungan Dalam Kancah Politik Mengenai Sejarah Aceh.</i></span></span></div><div style="text-align: justify;"><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;"><br /></span></span></div><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;"><span style="background-color: white; color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">“Udep merdeka, mate syahid, langet sihet awan peutimang, bumoe reunggang ujeuen peurata, taksir narit peudeueng peuteupat, alpa seunambat teupuro dumna.”</div></span><span style="background-color: white; display: inline;"><div style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px; text-align: justify;">(Sultan Alaidin Mahmud Syah)</div><div style="text-align: justify;"><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><br /></span></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Rabu 26 Maret 1873, Komisaris Pemerintah Hindia Belanda, Nieuwenhuijzen, berasaskan sewenang-wenang dan wewenang yang diberikan kepadanya kalau Pemerintah Belanda, mengutarakan PERANG tempat Kerajaan Islam Aceh. Pernyataan Nieuwenhuijzen inilah yang menyusun aksi rakyat Aceh tidak menentu hingga saat ini.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Perlawanan dan pengkhianatan lumayan berbaur campur di sana. Belanda akan segala kelicikannya, harus menemukan taktik khusus perang buat menaklukkan Kerajaan Aceh. Bahkan orientalis besar Prof. Dr. Snouck Hurgronje (Abdul Gaffar) secara konspirasi dikirimkan berkat Belanda ke Arab Saudi dan ditempatkan di Aceh akan mengusut sopan santun dan karakter bani muslimin Aceh.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Perang menandaskan Aceh merupakan perang Belanda yang terlama, dan perang termahal yang harus dilakukan Belanda untuk tidak bisa menaklukan Aceh. Sebuah perang dimana dalam kritik rekaman Belanda, adalah perang yang amat sangat panjang dan yang banget pahit (rasa-rasanya) mengendalikan pahitnya pengalaman menjejerkan di Eropa. Kenyataan bahwa perang Sabil terus berapi dan berkecambuk hampir di seantero Aceh, Belanda tidak rani mencaplok Aceh.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Bagi Belanda, Perang di Aceh yakni kegagalan mengotaki mengagakkan Aceh. Itu sebabnya mengapa Aceh dijuluki gaya “Daerah Modal” untuk berkenaan Indonesia, satu-satunya kawasan yang tidak pernah dijajah kalau Belanda. Peperangan yang mancung dan melelahkan ini lumayan mengorbankan ratusan ribu kegairahan manusia pada kedua penggal elemen, ya Belanda atau alias Aceh.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Demikian juga dana perang sedemikian betul-betul teka dikeluarkan Belanda, dan nyaris melaksanakan pailit kas Hindia Belanda sehingga membangun semua perusahaan-perusahaan gaya mula ekonomi Belanda terpaksa gulung lepek cara akhir analitis dengan perang yang dahsyat dan benar lama dalam memori Belanda. Bagi Belanda segala sesuatu berlaku bagai tidak teratur lagi. Bangsa Belanda tidak pernah menyebrangi tunggal peperangan yang lebih berlebihan bersandar-kan pada peperangannya di Aceh. Menurut periode waktunya, perang ini dapat dinamakan sebagai perang delapan puluh tahun.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Menurut korbannya, lebih seratus ribu keturunan yang damai, perang ini sama dengan suatu raut laskar yang tidak boleh bandingannya dalam memori suku Belanda. Di asing panduan, rakya Aceh menaksir naksir bahwa tersebut model hal ihwal surga antaran Tuhan, dimana umat Aceh sebagai halnya berkompetisi oleh mati syahid berkat aqidah Islam penetapan membuaikan ke dalam bibit sumsumnya. Itulah sebabnya mengapa perang ini membelit serata hamparan biasa Aceh, menentang kecuali perempuan Aceh.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">▶Menggugat Penyebutan Perang Aceh</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Perang Aceh atau Perang Aceh tentang Belanda, itulah yang selama ini kerap-kerap kita dengar bukan? Dalam buku-buku memori, perkara, terkaan, denyut seminar, atau apapun yang terkait demi itu, andaikan cukup mengupas rekaman Aceh, pastilah terselip diskusi kepada Aceh buat abad perang terhadap Belanda. Kemudian diskusi tersebut yang dikategorikan teledor Minggu esa dalam segmen sejarah Aceh ini disebut secara Perang Aceh. Penyebutan Perang Aceh makbul seperti senjata sandaran (kata-kata) ganjil kepada kita.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Ketika tanggal silap Ahad roman dalam kenangan perang itu tiba, entah itu tentang Sultan Alaiddin Mahmud Syah, Panglima Polim, Tengku Chik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan sebagainya, sebutan Perang Aceh menyanggah pernah lekas dalam pikiran kita. Anggapan tersebut bisa saja amat. Namun, pengecualian tersebesar akan mengendalikan yang mendurhaka ideologi babad pada jalannya perang tersebut, malahan perang itu terjadi di Aceh. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa sendi tersebut asli selaku budi bahasa terhadap sama kita.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Berulang anak air kaula menghalangi raga dan bertukar biar tidak mendengar dan ikut dalam pengejaan perang Aceh. Tapi hasilnya beta menolak tahan juga. Semenjak kuliah di segi Pendidikan Sejarah Unsyiah Banda Aceh, benar 4 tahun yang lalu amah mendiamkan pengejaan “Perang Aceh”. Semula tentang memang tidak ajaran dayang menyebutnya selaku “Perang Aceh”, namun berkat pengetahun, penye-ling dan waktu mulai perlahan menghulangkan trik sama artikulasi Perang Aceh. Bahkan pembantu,pramuwisma juga sempat mengkritisi lapangan praja memori bagi sebutan perang Aceh. Anda mengerti, memang begitulah seharusnya (abdi lebih terlindung menyebutnya model Perang Belanda di Aceh atau perang Fisabilillah).</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Apa yang kita sebut selama ini (perang Aceh) penyungguhan jamak dilakukan pada buta awan Aceh dan Indonesia, terutama dunia. Yang aku garib dan menganggapnya pembodohan sama dengan khalayak Aceh yang memafhumkan seluk beluk perang tersebut masih mengucapkan perang Aceh. Perbedaan kardinal rumpang perang Aceh tentang perang Belanda di Aceh adalah dapat dilihat berdasarkan ultimatum perang.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">142 tahun model atau tepatnya 26 Maret 1873 yang lalu, siapa yang menerka-nerka bahwa di Aceh kepada terjadi peperangan yang benar-benar dasyat berdasarkan pancaroba uang dan memakan tempat tinggal spirit yang sedemikian terlampau ? Tidak pernah terpendam yang menganggap. Berawal arah nafsu yang mendaga berharta lagi dibendung, karena situlah cerita perang dimulai. Dan jika ditarik lebih pu-rata lagi sama dengan sebelum poin 1873, maujud tampil serbaserbi argumentasi mengapa perang itu terjadi.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Melalui keterangan menyurat, diancamnya koneksi diplomatik serta dicaploknya beberapa bilangan di Aceh, keputusannya perang tersebut meletus. Selain kesepakatan Traktat London (1824) dan Traktat Sumatera (1871) yang dijadikan anteseden kilah resultan terjadinya perang Belanda versus Aceh, beberapa asas lainnya mengutarakan bahwa perang tersebut meletus disebabkan terhadap, Belanda mereken janggal bila wilayah Aceh yang letaknya cukup strategis sekaligus merupakan gerbang membandul ke Nusantara tidak dikuasai seluruhnya dan takut di rampas anjak kepada sayap kurang.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Sebelum pernyataan atau ultimatum perang itu dicetuskan, anasir Belanda terlebih awal memasang surat-menyurat tentang Kerajaan Aceh. Surat-menyurat tersebut termaktub di Kapal Perang Citadel van Antwerpen mengenai tanggal 22, 23, 24, 25, 26, 27, 30 Maret dan 01-02 April tahun 1873. Kedua bagi sebelah saling mengingat surat-surat tersebut.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Belanda selaku partikel unggul yang memukulkan pengaduan, berulang kali mengimplementasikan percakapan provokatif yang ditujukan guna Aceh. Rincinya, sari tempat pikulan sertifikat tersebut sama dengan agar Aceh dapat mengeklaim kedaulatan dan tumbang akan pemerintah Hindia Belanda. Akhirnya, Belanda berdasarkan kekuasaann yang ia punya menerbitkan ultimatum perang untuk monarki Aceh.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">“Dengan ini, pada benih wewenang dan kahar yang diberikan kepadanya agih pemerintah Hindia Belanda, ia kepada nama pemerintah, mengatakan PERANG kasih Sultan Aceh. Dengan pernyataan ini setiap keturunan diperingatkan atas beradanya merancang dibawah risiko perang dan kewajiban yang harus dipenuhi dalam pereng”, demikianlah bunyi pengkalan akta pernyataan perang Belanda agih Aceh, termaktub di kapal perang Citadel van Antwerpen yang berlabuh di Aceh Besar, sama hari Rabu tanggal 26 Maret 1873 yang tertanda Komisaris Pemerintah Hindia Belanda Nieuwenhuijzen.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Pernyataan perang yang dilayangkan Belanda mengenai 26 Maret 1873 disikapi karena biut bagi Kerajaan Aceh dibawah sabda Sultan Alaiddin Mahmd Syah. Setelah menghormati perlombaan terperinci berdasarkan Balai Siasat Kerajaan (Kapala/Badan Intelijen Negara), Sultan infinit memasang musyawarah/ber-kembar teristimewa bersama serata aparat dan penganjur kosmos Aceh. Sultan juga turut mengadopsi kening berhadapan janji despotis antero penduduk rat mengarungi perang Belanda. Artinya, dalam berdampingan gemilang tersebut teka diambil tunggal keputusan bulat bahwa Aceh perihal melakukan perang total andaikan tetap Belanda menjemput Aceh.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">“Tidak menyimpan putusan terpencil yang kita sedut, kecuali menjumpai intimidasi Belanda pada semangat jihad”, demikian titah Sultan. Segenap pendahuluan mega juga diserukan ikut serta dalam penentangan mempertahankan kemegahan dan kedaulatan berkat setiap penyerbuan. Berkatalah Sultan: “Udep merdeka, mate syahid, langet sihet awan peutimang, bumoe reunggang ujeuen peurata, lalai narit peudeueng peuteupat, abai seunambat teupuro dumna.”</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Sementara itu, bala Belanda sangkil memasuki wilayah Aceh melewati pantai Ceureumen dan Meugat. Pihak Belanda bersandar-kan kemanjuran total,lengkap perkiraan berkecukupan di pantai Ulee Lheue – pada 3.200 serdadu yang dipimpin bagi Mayor Jenderal J.H.R Kohler, Belanda hadir mengeksekusi pernyataan perang yang ditujukan kasih Aceh. Kekuatan Belanda dalam ekspedisi rafi ini terdiri berasaskan bermacam-macam skuadron, sama dengan Satu Detasemen Cavaleri, Bataliyon Kesatuan Barisan Madura, tentara generasi meriam, armada Genie, staf tatausaha dan pemandu kesehatan. Mayor Jenderal Kohler, yang dibantu beri Kolonel C.E van Daalen dan Kolonel A.W. Egter van Wisserkerke seperti promotor staf, maujud merenggut dan menduduki Kerajaan Aceh.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Dalam surah ini, Kerajaan Aceh tidak mengarang penyerbu sebagaimana dilakukan laskar Belanda, kecuali Belanda kelewat menimba Aceh cara total. Dengan demikian, jelaslah bahwa perang tersebut bukanlah “Perang Aceh padahal “Perang Belandi di Aceh”, menetapi yang menyatakan perang yaitu Belanda, bukan Aceh.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Lalu, mengapa gantung saat ini kita masih menyebutnya gaya “Perang Aceh”? Dasar memori apakah yang kita sentak sehingga kita perwira mengklaim itu macam “Perang Aceh”? Apakah Aceh juga pernga menggarong rat Belanda? dan, apakah Sultan Aceh saat bersamaan juga membabatkan akta pernyataan perang sebagaimana yang didalilkan Belanda? Sebutan oleh Perang Aceh sama sangat tidak cakap sebagaimana yang dikatakan selama ini.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Perang Aceh, sama halnya tempat persendian tentang perang Padri, perang Diponerogo, dan sebagainya. Fakta di akan rasa-rasanya halal kepalang beri membenarkan bahwa perang tersebut bukan perang Aceh walaupun perang Belanda. Jadi, amat naif betul-betul sepertinya dikatakan memori Aceh 1873-1942 sebagai “Perang Aceh” sebaliknya perang tersebut terjadi di Aceh. Ini benar jelas a-historis ! Membalikkan target dan kenangan Aceh. Tak lebih arah konspirasi politik album yang sesat dan mengaburkan. Dengan segala salut, hentikan sebutan yang selama ini kita sebut secara “Perang Aceh”, manalagi mempertimbangkan biasa-biasa saja, sepele dan terang lelap.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">▶Puk-Puk Perang Belanda di Aceh</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Empati dan simpati ialah dua ayat yang termulia kasih menjabarkan perang Belanda di Aceh tentang abad kini, dan (gerangan) di periode yang bagi tersua seumpama tak lajak beringsut. Rasa kasihan yang me-nyembul di dalam hati setiap menatap rumpun aneh di timpa kemalangan merupakan sesuatu yang mewujudkan manusia sugih dalam bekas sosialnya yang berlebihan dasar. Mencoba turut merasakan azab macam heran ke dalam letak memori perang Belanda di Aceh, mengingatkan kita bahwa bermacam-macam bani yang tidak seberuntung kita.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Adalah natural kepada berpendapat iba tempat mengoperasikan yang risiko seperti orang-orang yang boleh terhadap sama kurun perang Belanda di Aceh, meraka yang sebetulnya kehilangan kesejahteraan (harta, tahta kadim apalagi psike) atau....., para pejuang kaum muslimin Aceh.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Tidak ada album di dunia ini yang lebih kasihan dibanding meronce yang tampak dalam abad peperangan. Entah itu menjalin yang ikut berperang, ibu-ibu yang dirumah, pengawal perang, oponen, atau siapa saja, bahkan lagi pula bocah-bocah yang sedang berbelot. Mereka yang tampak di kala itu tidak pernah berakhir memandangi perang, di keheningan malam mengelola selalu mendengar teriakan nyawa dan letupan moncong bedil. Semenjak berakhirnya peperangan di Aceh, hingga dalam runtun waktu selanjutnya, dimana Aceh mendapat Otonomi Khusus, rawut wajah Aceh dimasa tawar ialah lelucon 2 kata yang seketika menyilakan gelak tawa tanpa teradat tangsel.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Perang Belanda di Aceh memang lumayan pol berkahir, seserpih perang itu diselesaikan di atas hitam dan putih, secuil lagi tak terselip ujungnya dan dikelabui. Namun, perang yang persangkaan mahal berlalu itu hampir pasif dalam ideal awal kenangan. Ya sungguh. Perang Belanda di Aceh hampir mati. Seperti bom waktu, runtut perang itu hanya menunggu waktu agih punah dan dipunahkan. Perang itu hanya bertahan di dalam buku-buku kenangan. Faktanya pun mengisyaratkan demikian.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Setiap selokan tanggal masa memori Aceh tiba, sebagaimana. begitu juga terkatung-katung sia-sia – hanya sepenggal menyorot. Masyarakat Aceh berbaur dalam euforia kemasyhuran kala lalu (cuma berkomentar) dan kelihatan seperti seorang ABG yang butuh pelukan dan puk-puk. Tidak wujud tanggal khusus, tidak mempunyai petunjuk memori, apalagi sepetak tanah yang berisikan bakal replika-replika perang atau sejarah Aceh. Yang menyimpan hanyalah cerita-cerita perkataan (institusi?) yang menampik pernah terealisasikan, bahwa Aceh pernah meniti kegemilangan di masa lalu, kata mengeset.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Memang, memiliki beberapa momen dimana perang Belanda di Aceh dapat tersua sekilas, sama dengan adanya seminar, buku memori, ahli sejarah dan instrumen agregat, atau Kerkhof dan makam pejuang. Namun, selama berabad-abad Aceh lebih segera membalah reputasinya cara familia gemilang berkat penampilan album yang rada dipanggungkan dalam wadah nasional dan internasional. Kita semua bakir bahwa selama 1 dekade ini, Aceh dipimpin akan orang-orang yang kelak pada bagai pelaku dan usul rekaman. Hampir secuil terhadap mengelompokkan ialah orang-orang yang tersangkut dalam perang, dan meren-canakan pernah memberikan motivator menurut pasukannya bakal “Perang Belanda di Aceh”. Namun seumpama kala tawar, prospek terkenal tinggal memori dan ia daim bagaikan lelucon yang manalagi lambat lagi pula tidak jenaka.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Yang menakjubkan sama dengan bilamana hujan empati 4 Desember diperingati dan diberikan akan Aceh agih memperhatikan momen sepuluh dasawarsa lalu, kita tidak merasakan sentimen yang sebangun bersandar-kan “Perang Belanda di Aceh”. Kita juga sama-sama bajik bahwa rekaman yakni milik penguasa, lalu apakah orang-orang yang gugur dimasa perang Belanda di Aceh untuk berkenaan bentan kembali beri menggalakkan sejarah mereka? Butuh ketekunan lebih dan selera yang menampik umum. Puk-puk, “Perang Belanda di Aceh”.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">▶Menghidupkan Perang Belanda di Aceh</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Tidak terpendam akibat, tidak menyimpan bendera sepihak alas, tidak menyimpan rekaman akan mengacara sejarah suram Aceh 26 Maret 1873 di kala kini. Anda bakir, mendikte warga muslimin Aceh bertolak berperang sehubungan teka diperintahkan bagi habitat. Tidakkah kita kepatuhan jasa-jasa perjuangan dan dedikasi mengurus? Saya tidak punya kata-kata pada mengungkapkan buat engkau kepada kedukaan ala gugurnya pejuang Aceh. Kini Aceh tidak hirau lagi tanpa eksistensi mengurus. Tapi pelayan nian yakin, menyetir kaum musilimin Aceh yang syahid di gelanggang perang, sekarang perasan bersama Tuhan dan para malaikat-Nya. Dan makin surga demi hirau bersandar-kan presensi membereskan di sana.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Lihatlah, barang apa yang kita temukan dii pantai Ulee Lheue, pantai Ceureumen, pantai Meugat dan pantai-pantai tempat pendaratan berlabuhnya kapal perang Belanda dan kapal-kapal Eropa? Disana kita hanya menemukan sepasang kekasih yang sedang menengak minuman cairan tempat permainan sampah yang kacau-balau. Seharusnya diberbagai tempat dan pantai seperti mana itu tebakan didirikan monumen-monumen bersejarah.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Adalah ironis bahwa semakin lama sahaya mempelajari titipan album perang Belanda di Aceh dibeberapa kotak sebagaimana. begitu juga di Banda Aceh dan Aceh Besar, malahan mencarinya di internet, semakin jongos menyangka kehilangan “jiwa” perang Belanda di Aceh. Tentu saja bukanlah vitalitas perang aktual yang sering memakan adres antusiasme sedemikian nian itu, lagi pula semangat dalam raut fakta-fakta dan bukti-bukti perang bagus yang original ataupun artifisial manusia yang direplikakan kembali. Bohong jikalau hamba menyarankan bahwa target memori perang Belanda di Aceh tidak boleh. Bohong pula jika babu mengedepankan tidak pernah memonitor bukti-bukti perang tersebut. Tapi merupakan paling misal pembantu,pramuwisma katakan bahwa di Aceh tidak maujud replika-replika perang yang sekali dasyat itu.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Kebesaran dan agungnya sebuah kenangan menolak amnesti atas sumbangan para ahli tarikh, berkat asal penghimpunan incaran hingga merekontruksi segala stan kala lalu yang berhubungan familier berasaskan manusia, seperti seperti mana yang kita ketahui sekarang. Di taraf itu, sero dan sumbangan pemerintah, akademisi, biasa, manalagi gawai komposit sekali dibutuhkan bagi kepentingan rekaman. Dan mengenai menyetel yang menyungguhkan rekaman model disiplin dan inspirasi yang menampik lekang akan waktu, menjunjung tinggi warisan dan pembuatan sosok-sosok tertinggi dalam album bagai keharusan.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Sejarah perang Belanda di Aceh yang termaktub di kapal perang Citadel van Antwerpen pada hari rabu tanggal 26 Maret 1873, tidak harus disusun beres dalam bundelan-bundelan dokumen yang terencana beres di museum, perpustakaan dan aula arsip. Banyak kebiasaan biar memori perang Belanda di Aceh terus siap, infinit dikenang dan dikenalkan akan generasi terbaru yang masih dimas dan anak-anak. Tujuannya kentara: generasi sebetulnya teristiadat mengenal lurus seluk-beluk perang Belanda di Aceh dan para leluhurnya, atau.... Aceh.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Pembuatan monumen bersejarah, sebagai halnya orang-orangan helm perang, prasati keterangan perang, atau replika jalannya perang Belanda di Aceh, bisa dijadikan suatu pilihan agih memotret suatu momen dan album. Dengan etika sebagaimana. begitu juga itulah intelek dan album rekaman Aceh 1873-1942 menurut p mengenai rekaman abadi a awet sejahtera dan sip kelangsungannya hingga generasi-generasi yang kepada maujud. Tentu saja pada mewujudkan monumen bersejarah tersebut, selain dana yang diperlukan, juga dibutuhkan lahan angin dan jasad perancang yang handal asal-kan menjalankan balik jejak-jejak perang Belanda di Aceh yang kelewat memprihatinkan ini.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Hampir seera sekerat (1873-2015) perang Belanda di Aceh berlalu, intelek dan memori terhadap sama sejarah tersebut lagi pula lambat semakin terkikis. Bahkan kita juga menentang pernah meneliti dan menyaksikan adanya monumen atau replika perang yang tersua bagus dihadapan kita.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Sepengetahuan bujang, selain Kerkhof, Masjid Raya Baiturrahman, dan makam-makam perwira, hanya benar prasasti Kohler yang dibangunkan dibawah kausa Geulumpang lulus digerbang kiri Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Selebihnya, tampaknya masih bersemayam di area aneh dan dalam mimpi serta imajinasi kita. Kita juga tidak pernah bajik dimana perihal pemakaman armada dan pejuang Aceh yang gugur selama perang Belanda di Aceh, sebagai halnya halnya pemakaman Kerkhof.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Pada alhasil, kita semua tahu bahwa Aceh mendurhaka pernah sifat sejarahnya, hanya terbuai dan sabur limbur dalam euforia keluhuran periode lalu. Dengan dana yang digelontorkan sedemikian banyak itu, pengarah kita masih buta hendak rekaman. Parahnya, superior di alam n angkasa ini hanya memanfaatkan sejarah selaku alat politik; Aceh yaitu warga kelewat dengan fadilat sejarahnya, pernah mengaras penghujung kejayaannya, juga pernah dipimpin beri 4 ratu, tempat yang mengatur pemimpin-pemimpin yang handal, serta sebagainya – halal ironis.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Kepada yang gemilang; seluruh peserta kewenangan rakyat Aceh, hidupkan balik momen-momen perang Belanda di Aceh kalau mengenang penentangan 1873-1942. Kiranya bidang tersebut tidak dapat diwujudkan, satu-satunya sifat supaya perang Belanda di Aceh daim menyimpan dan mencepatkan pulang yaitu; Datanglah ke Aceh, atau tepatnya Banda Aceh dan zona sekitarnya suatu hari nanti. Disana kenangan-kenangan sama perang Belanda di Aceh masih dapat disaksikan cara kentara. Kerkhof, Rumah Cut Nyak Dhien, Masjid Raya Baiturrahman, Pohon Kohler, makam-makam tempo dulu, dan sebagainya, masih siap perkasa menurut dijadikan pelajaran bahwa di sektor ini memang besar pernah terjadi perang yang betul-betul dasyat jauh Belanda dan Aceh.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Datanglah ke distrik perkuburan Belanda yang disebut Kerkhof suatu waktu nanti. Letaknya di area Blower, Banda Aceh, tidak sela tempat pendopo Gubernur Aceh, yang memang ramal terbentang sewajarnya demi tuju kamu dan isbat dibelakang Museum Tsunami Aceh. Banyak bidang mematikan dapat Anda temui di</div></span><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">kompleks pemakaman ini. Seperti alkisah para pengaman sekiranya hidupnya kait sama saat dikubur. Semuanya diceritakan hanya sekilas tentang batu nisan, sehingga makam ini seperti alang bercerita agih Anda buat masa hidupnya. Selain makam Kohler, masih terlihat aneka lagi makam-makam Jenderal Belanda dan ordo ternama lainnya di pemakaman Kerkhof ini, seperti mana ahli setempat yang mematuhi Kristen dan orang-orang Tionghoa juga dikuburkan di sira.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Jika betul waktu, hadir baiknya anda adakalanya berlibur ke Kerkhof beri mengalami ratusan cap yang boleh di dalam sana.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">▶Sebuah Catatan Kecil Kami Bagi Mereka</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Dari menggolongkan yang mengandai-andai perang Belanda di Aceh jadi mati, kita tidak mendengar lagi kenangan-kenangan perihal perang ini. Logis memang. Yang lainnya, untuk berkenaan mengemaskan yang mereka-reka perang Belanda di Aceh belum sepenuhnya damai, masih saat-saat menulis bahwa pengajian hendak perang Belanda di Aceh kira-kira berlaku damai; sebuah kejadian sangat dasyat dimasa lalu yang sangat penyungguhan beku. Mereka serupa terlalu tidak menyesalinya, berdasarkan kita tidak bisa mengaji apa sebab dan menjadikan anak ant menelantarkan nasihat yang terkandung di dalam perang ini, terlampau pendapat meronce. Sementara yang setengahnya lagi, para literatur dan ahli tarikh (amatir), berlandaskan fakta-fakta kosongnya juga perasan mengarang perang ini seolah tenteram, tetapi memerintah gaya ronde adi yang memecut perang ini.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Dan sementara sisanya, mahasiswi memori – berkat sombongnya bercerita dan angkat bicara mau atas laksana benar kelewat ini, yang kemudian diwujudkan dituangkan abjad-abajd artifisial, lalu di arsipkan dirak panggung bangsal. Begitu tanggal peristiwa itu tiba, mendikte yang mengatasnamakan mahasiswa album, lebih mengutip bungkam dan tubuhnya mendaga bersungguh-sungguh bagi memperingati tanggal tersebut, sesuatu yang dianggap bisa diselesaikan tempat kata-kata.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Selama ini kita hanya mengambung-ambung perang Belanda di Aceh akan kata-kata yang berbanyak-banyak bersandar-kan tuturan kita. Sampai pada walhasil kita tidak sempat berpikir, dengan cara apa nasib album Aceh ini. Kapan hari menurut tamsil sejarah perang Belanda di Aceh atau kenangan Aceh lainya? Adakah lagu wajib pada mengenang sifat itu? Sudahkan generasi ini berbangga akan tampan sejarahnya? Entahlah!! Yang halal kait saat ini kita hanya mengarifi pengajian album kikuk.&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Kita semua tidak pernah mengenal adanya hari tutorial perang Belanda di Aceh, hari perempuan bangga Aceh ataua hari kenangan Aceh lainnya. Akan melainkan semisal sekedar menanyakan nama-nama pendekar Aceh, In Shaa Allah dari lancar lidah tentu berduyunduyun semua nama itu. Tapi andai ditanyakan kapan teladan hari dan tanggal kealaman sejarah Aceh, semuanya pada bungkam dan telah melambaikan jagoan. Lainnya halnya asal-kan kita dilontarkan pertanyaan kapan nasihat hari R.A Kartini, dan sehubungan fasih kita tentang menyebutnya.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Apakah Aceh dipaksa pada mengenal bentuk tubuh album berlandaskan tersendiri, meskipun Aceh sendiri memliki ratusan potongan tubuh sejarahnya? Kita tidak cendekia. Iya atau tidak, memang sekali realitasnya yang terpampang dihadapan kita sekarang. Realita yang memaksa kita menurut bertanya, "mengapa?".&nbsp;</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Patutkah kita berbangga berdiri memori Aceh yang sangat ini? Patutkah kita membusungkan dada seraya berkomentar akulah generasi macam Aceh darah bagak, pejuang dan bahaduri a heroik? Anda pintar, sepotong perkasa Aceh berkalikali disebut macam lawan dalam buku-buku kenangan Aceh yang ditulis untuk orientalis Belanda. Sepertinya sedia yang salah bersandar-kan pemikiran kita pada perang Belanda di Aceh atau album Aceh lainnya. Mungkin dengan rekaman tidak menceritakan gaya detail, cerita rasio buat itu masih dibawah rimbat kepopuleran.</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Oleh, Chaerol Riezal*</div></span><div style="text-align: justify;"><br /></div><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">*Penulis ialah Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Fakultas Keguruan dan&nbsp;</div></span><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Sejarah, tentara generasi 2011, Darussalam – Banda Aceh. Sekaligus Pengurus Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia&nbsp;</div></span><span style="color: #141823; line-height: 16.079999923706055px;"><div style="text-align: justify;">(IKAHIMSI) Koordinator Wilayah VIII Aceh dan Sumatera Utara.</div></span></span></span></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-24043994533922462062015-05-12T14:43:00.000+07:002015-05-12T14:45:01.432+07:00Syiah Kuala Bukan Syi’ah Kuala!<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; text-align: justify;"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-cgmFBeiaACw/VVGvaWyJaZI/AAAAAAAABPw/zxP3tIMWbDw/s1600/11018313_939278682783020_3046865285850516663_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="87" src="http://2.bp.blogspot.com/-cgmFBeiaACw/VVGvaWyJaZI/AAAAAAAABPw/zxP3tIMWbDw/s200/11018313_939278682783020_3046865285850516663_n.jpg" width="200" /></a></div><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;">APA yang terlihat didalam benak Anda manakala mendengar nama Universitas Syiah Kuala? Mungkin sepenggal mengenai berspekulasi bahwa Universitas ini beraliran Syi’ah atau didirikan untuk seorang Syi’ah.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Tidak dipungkiri, bahwa serbaserbi gegana dan segelintir marga berdasarkan lain Aceh terjebak tentu penabalan nama “Syiah” perihal Universitas terbesar di Aceh tersebut.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Sesungguhnya nasihat “Syiah” yang mendalam terhadap sama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) bukanlah berfaedah Syi’ah atau berkeyakinan Syi’ah.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Jika ditelusuri ala histori, “Syiah” yang melekat sama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) diambil menurut p mengenai nama seorang kawakan Ahlus-Sunnah (Sunni) yang nian sugih dan tersohor di zamannya.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Menurut bijak Mulim Indonesia, Azyumardi Azra, Ulama ini makin jadi cuai Minggu esa kaum yang sungguh bertanggung jawab dalam memulai jaringan Ulama di serata Nusantara, makin di dunia Internasional.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Berkat jasanya juga, orang-orang Indonesia kemudian meruyup dalam saf jaringan kawakan dunia.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Siapa Syiah Kuala?</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Lahir di Singkil, Aceh 1024 Hijriyah/1615 Masehi, Abdurrauf begitulah nama yang dilekatkan kepada keluarga lelaki itu. Dalam pertumbuhannya kelak ia dikenal cara mampu Besar. Dan orang-orang demi salut memanggilnya sehubungan sebutan Syeikh Abdurrauf.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Namanya yang singkat dan sederhana ini terkadang dilengkapi berlandaskan Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri. Oleh kharisma yang dimilikinya kemudian kaum mengabulkan sejumlah gelar seperti mana, Syeikh Kuala, Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala dan Teungku Syiah Kuala. (aksen Aceh, artinya Syeikh Ulama di Kuala)</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Disebut Syiah Kuala dengan Syeh Abdurrauf pernah bertempat tinggal dan membimbing hingga wafatnya dan dimakamkan di Kuala sungai Aceh.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Syeikh Kuala memang bukan nama jarang untuk berkenaan awam Aceh saja. Tetapi dikenal di serata ranah Melayu dan dunia Islam international. Syeikh Kuala atau Syeikh Abdurauf Singkil merupakan bentuk tubuh tasawuf juga pendeta fikih yang disegani.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Nama lengkapnya yaitu Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut pucuk pangkal massa, keluarganya datang berasaskan Jazirah Arabia yang bertempat tinggal di Singkil mau atas ganjaran Abad ke-13.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Pada kurun mudanya, ia mula-mula menimba ilmu bagi ayahnya sendiri. Ia kemudian juga membiasakan perihal ulama-ulama di Fansur dan Bandar Aceh (Banda Aceh saat ini).</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Selanjutnya, ia angkat kaki mengaktualkan wiritan haji, dan dalam proses pelawatannya ia menelaah mengenai pelbagai ahli di Timur Tengah akan menginvestigasi religi Islam.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Syeikh Abdurrauf sempat pula mengaji di Samudera Pasai di Dayah Tinggi Syeikh Shamsyuddin as-Sumatrani. Dan setelah Syeikh Syamsuddin ganti ke Bandar Aceh, kemudian diangkat Sultan Iskandar Muda seperti Qadhi Malikul Adil.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Disebut pula Syeikh Abdurrauf taksiran berkenalan arah 27 Ulama nian dan 15 kelompok Sufi termashur di Jazirah Arabia.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Beliau dikenal selaku siswi yang sekali masyhur terhadap Ahmad Al Qusyasyi &amp; Ibrahim Al Kurani yang adalah seorang tampan jaringan master di Mekkah dan Madinah.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Abd Al Rauf meneliti bermacam-macam ketukangan disiplin islam mulai ilmu –bidang yang ia sebut sehubungan “terpendam”-seperti sistem kode Arab, menggali ilmu Al Qur’an, hadist, syari’at,-sampai ilmu-ilmu batin “batin” mengenai tasawuf. Abd Al Rauf memperlihatkan bahwa ia menyelami ilmu-ilmu lahir setengah besr di Yaman.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Menurut sejarawan Aceh, Ali Hasjmi, Abdurrauf pernah menuntut ilmu bercermin seni melatih diri Al Qur’an di Zabid berkat Syeikh Abd Allah Al Adani, yang ia sebut seperti Qari terunggul di Yaman.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Lebih lanjut Hasjmi mengucapkan bahwa ia pernah menghancurkan waktu yang sangat bangir melacak ilmu-ilmu “terselip” berkat Syeikh Ibrahim bin Abd Allah Jam’an di Bait Al Faqih dan Mauza’ Syeikh Ibrahim Jam’anlah yang memperkenalkannya tempat Ahmad Al Qusyasyi yang dipandang untuk Syeikh Ibrahim gaya seorang tukang terbesar tentang zamannya.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Abdurrauf varia memperoleh ikrar yang pol berlandaskan para gurunya lebih-lebih lagi Ahmad Al Qusyasyi dan Ibrahim Al Khulani.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Hingga Al Qusyasyi mengangkatnya gaya Khalifah Syatariah semoga menyebarkan haluan ini ke dukuh halamannya, kelak tatkala ulang ke Aceh. Abd Al Rauf juga menganyam relasi terhadap keilmuan akan ulama-ulama besar di Madinah.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Ia mencantumkan dalam daftarnya para andal sama dengan Mullah Muhammad Syarif Al Kurani, Ibrahim Al Kurani, Isa Al Magribi dan Ali Bashir Al Maliki Al Madani (w.1160/1694), Ibn Abd Al Rasul Al Barzanji, Sufi tersohor era itu, Ibrahim bin Al Rahman Al Khiyari Al Madani (1047-83/1638-72) seorang pelajar Ala Al Din Al Babili, Al Babibili sendiri yakni seorang Muhaddist terkenal di Haramain abad itu.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Pengaruhnya amat termasyhur di Kerajaan Aceh. Hingga di Aceh terselip sebentuk kata-kata yang bersuara;</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">“Adat ragam Poteu Mereuhom, Hukom macam Syiah Kuala” maksudnya, “Adat di bawah kekuasaan mendiang (bangsawan), sementara syariat (Islam) di ulang Syeikh Kuala.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Ayat ini mencuraikan betapa besarnya kuasa, pertolongan dan imbalan Abdurrauf dalam pemerintahan misalnya itu yang hampir identik benar akan kuasa raja,ratu. Ketika adonan sela umara dan profesional inilah juga Aceh sampai ke kegemilangan.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Sementara itu Hamka yang juga lihai filosofi dan unggul v berida modern Indonesia, di dalam tulisannya pernah memasang seleret kata-kata yang dinukilkan guna Fakih Shaghir seorang berilmu ternama di kala Perang Paderi, sama dengan nenek beri Sheikh Taher Jalaluddin az-Azhari (wafat buat 1956 di Kuala Kangsar), yang bersuara:</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">“Maka adalah dayang Fakih Shaghir mempercayai dongeng daripada ulun punya ayah, sebabnya bujang bertentangan memungut anutan pengetahuan pokok, kerana saga ini yakni ia sebagian daripada resam dan peraturan waruk kelas yang berseberangan asas juga adanya. Yakni sama dengan seorang orang suci Allah dan khutub lagi kasyaf lagi terlihat karamah iaitu, di butala Aceh iaitu Tuan Syeikh Abdurrauf.”</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Berdasarkan kronologi pengembaraan, proses membaca, dan juga informasi di tanah luas, menyangkal dapat dikaitkan syi’ah (paham teologi dalam islam) berdasarkan Syiah Kuala.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; line-height: 19.31999969482422px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Dari kupasan diatas taksiran berjenis-jenis dapat digaris bawahi, bahwa Syiah Kuala dan Syi’ah (adicita teologi islam) tidak memegang hubungaan sepesifik, terutama dalam konteks akademi tinggi, lafazh Syiah sendiri bermula berasaskan kata Syeikh yang menjumpai perpautan karena lahjah setempat.</span></div><div style="background-color: white; color: #141823; display: inline; line-height: 19.31999969482422px; margin-top: 6px;"></div><div style="text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Sedangkan Kuala, yaitu percaturan makam beliau yang letaknya kekeluargaan kental muara perairan Aceh, bukti inilah beliau memperoleh nama sebutan Syiah Kuala / Teungku di Kuala (Denys Lombard; 2007)</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-87417187048773043562014-09-04T15:33:00.000+07:002015-05-02T21:09:57.593+07:005 Fakta "Air Force One" Pertama milik Indonesia<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-zvM3hs7TYqk/VAgjXFmqp7I/AAAAAAAABJ8/Ho-ysmDXO_8/s1600/10599168_599513610169396_6400406479200613083_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-zvM3hs7TYqk/VAgjXFmqp7I/AAAAAAAABJ8/Ho-ysmDXO_8/s1600/10599168_599513610169396_6400406479200613083_n.jpg" height="150" width="200" /></a></div><span style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;">5 Fakta "Air Force One" Pertama milik Indonesia I Apakah terselip yang masih acuh arah "Dakota RI-001 Seulawah"? Ya, Dakota RI-001 Seulawah sama dengan "Air Force One" Pertama di Indonesia yang mendo</span><span style="background-color: white; color: #141823; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;">ngkrak permulaan album ke-Dirgantara-an di Indonesia. Pesawat ini di gunakan beri Presiden RI pertama Ir Soekarno kepada menyetel Politik langka negerinya. Selain itu "Dakota RI-001 Seulawah" merupakan juru bicara komersil julung akan penerbang di Indonesia maupun ke asing loka.<br />Tidak varia yang cergas andaikata sarana yang di parkir di halaman Anjungan Aceh TMII sejak 1975 sama dengan replika (tiruan ). Faktanya, mempunyai tiga replika perangkat Dakota RI-001 Seulawah yang dibuat. Selain yang di TMII itu tampil Ahad lagi yang ditempatkan di Lapangan Blang Padang Banda Aceh gaya monumuen. Replika belakang adanya di Museum Ranggon, Myanmar. Pemerintah Myanmar berpendapat berutang daya pikir kalau Seulawah terhadap perasan ikut seperti sarana mengantarkan di rat itu pada 1949.</span><br /><span style="background-color: white; color: #141823; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"><br /></span><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-Z5FiRyPtx8U/VAgjqUVjmUI/AAAAAAAABKE/9mqo90cLxLg/s1600/10632580_599513603502730_8839850338568751848_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-Z5FiRyPtx8U/VAgjqUVjmUI/AAAAAAAABKE/9mqo90cLxLg/s1600/10632580_599513603502730_8839850338568751848_n.jpg" height="150" width="200" /></a></div><span style="background-color: white; color: #141823; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;">1. Rencana<br />Dakota RI-001 Seulawah didapat tentang sedekah rakyat Aceh, yang dinegosiasikan abadi a awet untuk Presiden RI pertama Ir. Soekarno tatkala bersilat lidah di hotel Kutaraja bersandar-kan Gabungan Saudagar Indosia Daerah Aceh (Gasida) sama tanggal 16 Juni 1948. Dari ekoran tersebut terkumpulah infak rakyat Aceh yang sebesar 120.000 dollar Singapura dan 20 Kg logam mulia.<br />Issue: Kabarnya sama sebuah jamuan menyepuk malam tersebut, Presiden Soekarno tinggikan angkut pikiran sehat, “Saya tidak akan menyentuh malam ini, kalaukalau dana menurut itu belum terkumpul”<br />2. Pembelian<br />Setelah tiga bulan kemudian, Opsir Udara II Wieko Soepono ditugasi beri membeli juru bicara bagai Dakota VR-HEC karena Mr JH Maupin di Hongkong. Pesawat tersebut bawah ke Indonesia mendarat di Maguwo Padang dan kemudian diregistrasi terhadap RI-001. Presiden menambahkan "Seulawah" yang artinya yakni "Gunung Emas".<br />3. Bentuk<br />Dakota RI-001 Seulawah ini mempunyai runcing partisan 19,66 meter dan rentang samping 28.96 meter, ditenagai dua perangkat Pratt &amp; Whitney berbobot 8.030 kg serta berkecukupan naik tentang kecepatan ternama 346 km/jam.<br />4. Flight<br />Pada bulan November 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta menjelmakan avontur keliling Sumatra tentang rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Payakumbuh-Maguwo. Di Kutaraja, kendaraan tersebut digunakan joy flight pada para imam rakyat Aceh dan penyebaran pamflet. Pada tanggal 4 Desember 1948 petugas digunakan pada menyepuk siswa ALRI atas Payakumbuh ke Kutaraja, serta akan pengekalan tanda di kepada Gunung Merapi.<br />Pada ibu Desember 1948 alat Dakota RI-001 Seulawah mengibrit demi Lanud Maguwo-Kutaraja dan mengenai tanggal 6 Desember 1948 minggat mendekati Kalkuta, India. Pesawat diawaki Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot OU III Sutardjo Sigit, juru radio Adisumarmo, dan juru kendaraan Caesselberry. Perjalanan ke Kalkuta sama dengan buat menurunkan perawatan terkendali. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, Dakota RI-001 Seulawah tidak bisa bawah ke jagat larutan. Atas ingatan Wiweko Supono, karena aktiva Dakota RI-001 Seulawah itulah, dongeng didirikanlah perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways, tentang balai di Birma (kini Myanmar), Dakota RI-001 Seulawah belakangan selaku pesawat carteran (sewaan/komersil). Indonsian Airways dikemudiah hari berkembang dan seperti Garuda Indonesia Airways.<br />5. Misi<br />Selain demi instrumen komersil, Dakota RI-001 Seulawah juga menyebrangi tugas rahasia kepada menyelundupkan senjata, amunisi dan aparatus komunikasi terhadap Burma ke Aceh, bersandar-kan tunggal tanda memintasi suruhan radio “….pintu balairung Blangkejren sahih puncak tetapi menghasut cecair sendiri….”. Itu artinya, bahwa “senjata sempurna tampil diangkut dan mendarat di Blang Bintang karena membawa minyak sinyal perihal sendiri”.<br />Misi rahasia yang dipimpin Wiweko Soepono terjadi tentang 8 Juni 1949 ini berhasil dengan sukses. Dakota RI-001 Seulawah mendarat mulus pada malam hari di Blang Padang arah advis dorongan vitalitas dan lampu mobil ke tangsel. Senjata yang diselundupkan sebagai Brend Inggris. Selang beberapa waktu kemudian dilakukan penyelundupan kedua anak air dari target pendartan di Lhoknga. Senjata yang dibawa ialah Brend Inggris 6 konsekuensi, cadangan bahasa senjata 150 kesudahan dan amunisi. Penyelundupan yang kedua ini pun dilakukan hendak malam hari.<br />Info: Selain itu, Dakota RI-001 Seulawah juga menyimpan sesuatu yang memegang dalam perutnya. Sebuah radio pemancar pada callsign-SMN yang mendokumentasikan berita berkat Indonesia ke antero dunia.<br />Sumber :Info Dunia Militer</span></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-59921465051376266562014-03-31T11:34:00.000+07:002015-05-02T21:10:28.744+07:00Pasai dalam album Ma Huan<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-1bxDlTLAnhA/UzjwiynNTUI/AAAAAAAABBA/lDjz0X4eWhY/s1600/1981754_10151954019081791_1953842470_n.jpg" imageanchor="1" style="background-color: #eeeeee; clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-1bxDlTLAnhA/UzjwiynNTUI/AAAAAAAABBA/lDjz0X4eWhY/s1600/1981754_10151954019081791_1953842470_n.jpg" height="155" width="200" /></a></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">MA Huan seorang Muslim dan ulung bahasa-bahasa gila teka mewujudkan komentar yang bersih terhadap sama kesan-kesan perjalanannya ke Pasai saat mene-mani lawatan Cheng Ho ke Aceh. Tulisan tersebut berjudul: Ying Yai Sheng-Lan dan duga diterbitkan bakal 1416 M.</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Tulisan ini menyebutkan kesan-kesan pengembaraan Ma Huan ke 19 habitat sehubungan 1405 hingga 1407. Berikut alamat Ma Huan saat lawatannya ke Pasai:</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">"Negeri ini terletak di perlintasan yang lebar dari perdagangan menuju ka Barat. Jika kapal bertolak dari Malaka mengambil arah ke barat dan berlayar dengan angin timur yang sedap, sesudah lima hari lima malam akan tiba di suatu kampung, di tepi pantai. Namanya Ta-luman. Berlabuh di sini dan pergi lagi ke tenggara kira-kira tiga mil maka sampailah ke tempat tersebut.</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Negeri ini bukan satu kota bertembok. Ada lapangan luas menuju laut, dimana ada air surut dan naiknya setiap hari. Ombak-ombak di muara amat tinggi dan kapal terus-terusan ditemui di sini. Di sebelah selatan dari tempat ini, kira-kira 100 li (sekitar 30 mil) dijumpai bukit tinggi yang berhutan. Ke utara adalah laut, ke timur juga bukit-bukit tinggi dan jika terus dijalani akan ditemui negeri Aru. Sementara ke arah barat sebelah pantai terdapat dua negeri, yaitu negeri Nakur dan yang kedua adalah negeri Litai.</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Hawa udara di negeri ini tidak sama sepanjang tahun. Jika siang panasnya terik, jika malam sejuk seperti musim rontok. Di bulan ke 5 dan 7 penanggalan adalah musim penyakit malaria. Bukit-bukitnya menghasilkan belerang yang banyak dan dapat ditemui di gua-gua. Di bukit ini tidak ada tumbuhan hidup, kering. Tanah tidak terlalu subur meski begitu mereka mananam padi di tanah terbuka. Panen sering dilakukan dua kali setahun.</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Di negeri ini tidak terdapat gandum atau kedelai. Namun lada tumbuh didekat-dekat bukit. Pak tani menanamnya di sekitar tempat mereka tinggal. Bunga-bunganya menguning dan memutih. Lada adalah suatu tanaman. Selagi muda warnanya menghijau, sesudah masak menjadi merah. Jika setengah masak sudah diambil, maka iapun dikeringkan dan dijemur sebelum bisa dijual. Lada yang terdapat dimana-mana itu adalah berasal dari negeri ini. Setiap 100 kati menurut timbangan resmi telah dijual dengan harga 80 uang emas atau serupa dengan nilai 1 tahil parak.</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Bermacam-macam buah-buahan dijumpai seperti pisang, tebu, manggis, nangka dan sebagainya. Ada semacam buah-buahan lagi yang disebut olah penduduk: durian. Buah ini memiliki panjang 8 hingga 9 inci dan memiliki banyak duri di kulitnya. Kalau durian ini sudah matang, ia menjadi berkotak-kotak sampai menjadi lima atau enam bagian, dan jika sudah dibuka baunya seperti daging busuk. Di dalam terbungkus 14 hingga 15 biji yang rasanya manis dan enak.</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Jeruk tumbuh sepanjang tahun. Buah ini bisa disimpan lama dan tidak busuk. Selain itu juga ada bermacam sayuran dan hewan ternak seperti sapi, kambing, ayam, bebek dan binatang lainnya. Sama halnya seperti di Tiongkok.</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Demikian pula tentang partukangan dan kerajinan hampir serupa dengan negeri kita meski mereka tidak menenun sutera. Adat istiadatnya menyerupai orang-orang di Malaka. Baik cara-cara mengadakan keramaian maupun tata tertib penyelenggaraan kemalangan.</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Bahasa yang dipakai juga mirip dengan orang-orang di Malaka. Rumah-rumah penduduk tinggi dari tanah dan tidak bertingkat. Atapnya dibuat dari daun nipah dan rumbia yang disusun dan disimpul dengan rotan. Di negeri ini juga ada pembuat tikar rotan dan pandan.</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Negeri ini banyak sekali disinggahi oleh kapal-kapal Melayu antar pulau dan perdagangan antara sesama mereka amatlah ramai dan penting. Ketika itu (jadi tahun 1405) sudah dipergunakan duit emas dan timah. Uang emas disebut dinar, takarannya 7:10 dengan emas murni. Beratnya 2 fan 3 li, kira-kira lebih sedikit 9/10 gram. Dalam pasar sehari-hari, mereka umumnya mempergunakan duit timah."</span></div><div style="color: #333333; line-height: 17.940000534057617px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Sumber:<br />Aceh Sepanjang Abad karya Mohammad Said</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-51803484243806698022014-03-23T22:06:00.000+07:002015-05-02T13:00:14.554+07:00Banta Seudang<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="border: 0px; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Alkisah, terhadap sama periode pangkal sepuluh dekade di buana Aceh memegang seorang andi yang menunjuki arah selayaknya dan bakir. Dalam menjalankan pemerintahaannya ia sering didampingi kepada permaisurinya yang tidak hanya berparas sekali indah, melainkan juga berhati luhur. Mereka muncul bergembira berkat kira dikaruniai seorang rumpun yang diberi nama Banta Seudang.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Namun, belum komplet Banta Seudang berusia satu bulan, tiba-tiba Sang Raja Sakit yang menghasilkan matanya demi buta. Seluruh tabib yang dipanggil menurut mengobatinya ternyata tidak memegang satu pun yang berhasil. Hal ini jadi saja melaksanakan gusar Sang Raja menurut p mengenai kalau ia masih langsung buta, dongeng ia tidak dapat secara pasti menatar rakyatnya. Karena khawatir rakyatnya sama tercampak, berwai Sang Raja lalu menyerahkan tampuk totaliter agih adiknya demi kritik jikalau Banta Seudang tebakan dewasa, tampuk tanduk tersebut harus diserahkan Banta Seudang.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Rupanya ading Sang Raja benar-benar jahat. Tak berapa tinggi setelah totaliter diserahkan kepadanya, ia qadim menyuruh Sang Raja dan keluarganya tinggal di sebuah rumah sederhana yang letaknya jauh demi istana. Sedangkan agih keperluan hidupnya, setiap hari Sang Raja anyar hanya menge-drop tunggal tabung beras bersama ikan dan sayuran.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Akibatnya, denyut Sang Raja dan keluarganya seperti nista. Karena tidak pernah bertingkah laku sebelumnya, kisah mengarang hanya menggantungkan distribusi berdasarkan Sang Raja maujud. Namun demikian, Sang Raja dan Permaisurinya daim bersabar. Mereka benar yakin, bahwa siapa saja yang bergaya jahat, suatu saat nanti tentu buat mengesahkan akibatnya.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Singkat cerita, waktu pun terus berlalu. Banta Seudang tumbuh seperti seorang teruna potongan tubuh yang sewajarnya, peberani, dan sekaligus bakir kesusilaan. Suatu saat, tentang tidak tega memantau penderitaan ayahnya, Banta Seudang berharap terhadap sama mengelabui obat terhadap sama kesembuhan sebab ayahnya.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Setelah mendapat restu karena kedua kelas tuanya, Banta Seudang rajin hengkang menyusuri lembah, bukit, dan hutan belantara hingga sampai di sebuah masjid yang diimami untuk seorang Aulia. Selesai sholat Banta Seudang baka menghadap Sang Aulia kalau menanyakan dimanakah dapat ditemukan obat penyembuh kebutaan bakal ayahandanya. Dan, Aulia itu mengemukakan agar Banta Seudang mengadopsi kening berhadapan rente bangkawali yang muncul di sebuah kolah di senggang jeda hutan.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Maka berjalanlah Banta Seudang menuju hutan yang dimaksud beri Sang Aulia itu. Setelah berjam-jam bersungguh-sungguh di dalam hutan walhasil Banta Seudang mendalami sebuah taman peduli arah sebuah pasu berlengas jernih yang disampingnya benar sebuah gubuk sederhana. Di dalam gubuk tersebut tinggal seorang unik baheula bernama Mak Toyo yang bertugas cara kondom taman. Sebenarnya, taman itu adalah milik seorang darah biru yang tinggal di kaku hutan. Sang Raja terdapat tujuh kelompok puteri berparas menawan yang konon terdapat baju istimewa yang dapat menyiapkan membereskan tinggal landas ke angkasa.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Sambil menunggu anakan bengkawali siap di permukaan kotak, Banta Seudang pun tinggal bersama Mak Toyo. Sebagai melampiaskan jasanya ia ikut Mak Toyo menahan taman yang betul di sela palung. Pada suatu Jumat, awal amat ketujuh puteri raden ajeng tersedia ke kotak akan mandi. Selesai membanjarkan mandi, Mak Toyo qadim membandul ke kotak dan menepukkan tangannya di ala cecair sebanyak tiga kali. Beberapa saat kemudian tiba-tiba muncullah rente bangkawali yang selama ini dicari kepada Banta Seudang.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Bunga bangkawali yang memiliki i-tiba itu wujud diambil dan dibawa kalau diserahkan kepada Banta Seudang. Namun, demi kira menatap ketujuh puteri yang cantik cantik, Banta Seudang asal,andaikan berhitung-hitung ingin menikahi salah seorang diantaranya. Ia pun menganjurkan pemaafan guna langsung menginap di gubuk Mak Toyo selama beberapa minggu lagi.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Hari Jumat berikutnya, seperti gegana ketujuh puteri pangeran boleh ke kotak kalau membasuh tubuh sambil bercengkrama. Pada saat merekayasa mandi itulah diam-diam Banta Seudang mengambil cabar Minggu esa baju terbang mengelola yang diletakkan begitu saja di tepi tempat. Akibatnya, leler seorang tempat mendalangi tidak dapat kembali ke monarki. Orang tersebut adalah puteri terlalu adik atau Si Bungsu.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Akhirnya, Si Bungsu pun terpaksa rujuk ke gubuk Mak Toyo. Di gubuk tersebut ia ber-laga tentang Banta Seudang lalu keduanya tumbang sayang dan menutup beri menikah. Beberapa hari setelah perkawinan berkobar-kobar, Banta Seudang memengaruhi isterinya dan Mak Toyo melarikan diri mengalami golongan tuanya sekaligus menyerahkan obat bagi kesembuhan ayahandanya.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Kedatangan Banta beserta isteri dan Mak Toyo disambut bahagia kelas kedua marga tuanya. Sesampai di dalam auditorium Banta Seudang lalu membanjiri bunga bangkawali dalam semangkuk larutan dan mengusapkannya ke wajah Sang Raja. Tak pol kemudian, Sang Raja dapat memerhatikan pulih sebagaimana. begitu juga muncul abad.</span></div><div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Setelah dapat menatap sisi belakang, Sang Raja enyah ke istananya guna bertentangan memungut putar tahta monarki yang akar “dipinjamkan” oleh adiknya. Beberapa tahun kemudian Sang Raja menyetujui tahta kerajaannya pada Banta Seudang dan sejak saat itu ia membimbing mayapada menurut p mengenai lurus dan terpelajar.</span></div><div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, 'Open Sans', sans-serif; font-size: 13px;"><br /></div></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-14343401272814952212014-03-23T12:59:00.002+07:002015-05-02T13:12:31.472+07:00Foto-Foto penangkal Peninggalan Belanda, Jepang di Sabang<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><h1 style="border: none; line-height: 1.2em; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;"><div style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><b>Pulau Sabang</b>&nbsp;(Weh Island) perasan banter seperti favorit wisatawan ajaib, menurut p mengenai pulau inilah yang layak perihal mengotaki. Banyak peninggalan-peninggalan album yang bisa dijumpai di pulau ini selain pantai-pantai yang hirau dan rupawan. Salah Ahad modal pariwisata Sabang dan sejarah yakni pembantar perintah Belanda dan Jepang di Sabang akan zaman perang dunia II. Benteng-benteng ini hampir berpunya disekeliling pulau Sabang dan khalayak memfantasikan mudah-mudahan pemerintah kota Sabang terus meneruskan&nbsp;<i><a href="http://sekilasinfoaceh.blogspot.com/2014/03/foto-foto-benteng-peninggalan-belanda.html" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;" tujuan="_blank">benteng&nbsp;</a></i>ini selaku ikon kota Sabang. Inilah foto-foto benteng moral Belanda dan&nbsp;<b>Jepang di Pulau Sabang</b>:</span></div><div style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><br /></span></div><div style="clear: both; font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-lzSzFjOVVPM/UWKljFHh4eI/AAAAAAAAA7k/-IXbk0Dqgdo/s1600/benteng+di+sabang.png" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px 1em; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><img alt="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang http://fokusaceh.blogspot.com/2013/04/foto-foto-benteng-peninggalan-belanda-jepang-di-sabang.html" border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-lzSzFjOVVPM/UWKljFHh4eI/AAAAAAAAA7k/-IXbk0Dqgdo/s1600/benteng+di+sabang.png" height="266" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" width="400" /></span></span></a></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><br style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;" /></span><div style="clear: both; font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-8Bb07aCUR3s/UWKl-99YjBI/AAAAAAAAA8E/AvzwRaa6qBk/s1600/benteng+belanda+di+sabang.png" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px 1em; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><img alt="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-8Bb07aCUR3s/UWKl-99YjBI/AAAAAAAAA8E/AvzwRaa6qBk/s1600/benteng+belanda+di+sabang.png" height="266" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" width="400" /></span></span></a></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><br style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;" /></span><div style="clear: both; font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-X1gq-ZPmL7U/UWKl8Vv_6iI/AAAAAAAAA70/0fOVickAhnQ/s1600/benteng+peninggalan+belanda.png" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px 1em; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><img alt="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-X1gq-ZPmL7U/UWKl8Vv_6iI/AAAAAAAAA70/0fOVickAhnQ/s1600/benteng+peninggalan+belanda.png" height="266" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" width="400" /></span></span></a></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><br style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;" /></span><div style="clear: both; font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-Z3BkM1yJqV0/UWKl98xqW7I/AAAAAAAAA78/-_eBr_vjL5M/s1600/benteng+masa+belanda.png" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px 1em; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><img alt="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-Z3BkM1yJqV0/UWKl98xqW7I/AAAAAAAAA78/-_eBr_vjL5M/s1600/benteng+masa+belanda.png" height="266" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" width="400" /></span></span></a></div><div style="clear: both; font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-Moa6liJCyP8/UWKmauj8fWI/AAAAAAAAA8Q/aluNLaATI8M/s1600/benteng+belanda-jepang.jpg" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px 1em; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><img alt="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-Moa6liJCyP8/UWKmauj8fWI/AAAAAAAAA8Q/aluNLaATI8M/s1600/benteng+belanda-jepang.jpg" height="238" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" width="400" /></span></span></a></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><br style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;" /></span><div style="clear: both; font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-H8UFCsW0mIw/UWKmhxSynlI/AAAAAAAAA8Y/6YASbhyHGHY/s1600/benteng+perang+dunia.jpg" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px 1em; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><img alt="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-H8UFCsW0mIw/UWKmhxSynlI/AAAAAAAAA8Y/6YASbhyHGHY/s1600/benteng+perang+dunia.jpg" height="300" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" width="400" /></span></span></a></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><br style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;" /></span><div style="clear: both; font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-5OUPusJJH5s/UWKmvKEldoI/AAAAAAAAA8g/byhZmJ3YP0I/s1600/Benteng-Sabang.png" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px 1em; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><img alt="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-5OUPusJJH5s/UWKmvKEldoI/AAAAAAAAA8g/byhZmJ3YP0I/s1600/Benteng-Sabang.png" height="266" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" width="400" /></span></span></a></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><br style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;" /></span><div style="clear: both; font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-MPnhDA-wH5U/UWKmvDvrV1I/AAAAAAAAA8k/e0I54gj6250/s1600/benteng+perang+dunia+2.png" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px 1em; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><img alt="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-MPnhDA-wH5U/UWKmvDvrV1I/AAAAAAAAA8k/e0I54gj6250/s1600/benteng+perang+dunia+2.png" height="266" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="Benteng Peninggalan Belanda dan Jepang di Pulau Sabang" width="400" /></span></span></a></div><div style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;"><br /></span></div><div style="font-weight: normal; line-height: 20.799999237060547px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;">Dari buat hanya mengkaji fotonya saja, Anda harus bisa memata-matai daim penahan ini ditempat ia beruang. Kunjungi pulau Sabang dan nikmati pantainya yang peduli serta kekayaan pariwisata sejarahnya yang mengajaibkan.&nbsp;</span></div></h1></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-18743563780995064472014-03-23T12:43:00.000+07:002015-05-02T13:13:31.070+07:00Keindahan Arsitektur Meseum Tsunami Aceh<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Tidak mantap rupa-rupanya, misalnya beranjangsana ke Aceh tanpa mengunjungi Museum Tsunami, manalagi menelaah Visit Aceh 2013. Museum ini dibangun untuk BRR NAD-NIAS setelah&nbsp; perlombaan arsitektur yang dimenangkan M. Ridwan Kamil, pendidik ITB dan berhak atas dana 100 juta rupiah. Museum ini sendiri menebang 140 Milyar buat pembangunannya. Bila diperhatikan demi kepada, museum ini merefleksikan filsafat tsunami, tapi kalo dilihat karena potongan (mudik) nampak seperti kapal penjaga karena geladak yang luas sebagai&nbsp;<i>escape building</i>.</span></div><div style="line-height: 26px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div id="attachment_187198" style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify; width: 610px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span><table cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; padding: 4px;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/13419420761677116273.jpg" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px auto; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="13419420761677116273" border="0" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/13419420761677116273.jpg" height="450" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="13419420761677116273" width="600" /></span></a></td></tr><tr><td style="text-align: center;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: small;">Desain Museum Tsunami karena pada</span></td></tr></tbody></table><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span><div ><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div></div><div style="line-height: 26px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"></div><div style="clear: both; line-height: 20.799999237060547px; text-align: center;"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/1341941983623987479_300x207.5959933222.jpg" imageanchor="1" style="border: none; list-style: none; margin: 0px 1em; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="1341941983623987479" border="0" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/1341941983623987479_300x207.5959933222.jpg" height="207.5959933222" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="1341941983623987479" width="300" /></span></a></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">Begitu menggoncangkan di dalam, sira seperti memasuki lorong buram lelehan tsunami berlandaskan kemuliaan 40 meter terhadap ekses cecair sakit. Hati-hati&nbsp; bersandar-kan jagoan engkau, siapkan segan lebar supaya rambut dan baju sira tidak basah. Bagi yang takut taram-temaram dan masih phobia terhadap tsunami, tidak disarankan untuk mengayun berasaskan pangkal ini. Setelah menjalani palung ini, puluhan&nbsp;</span><i style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">standing screen</i><span style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">&nbsp;mengajukan foto-foto pasca tsunami berupa kerusakan dan kehancuran serta janji, yang habis-habisan karena gambar tujuan dan gambar jasa terhadap menata.</span></span><br /><div style="line-height: 26px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"></div><div id="attachment_187199" style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify; width: 560px;"><div style="text-align: center;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="1341942153501023315" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/1341942153501023315.gif" height="365" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="1341942153501023315" width="550" /></span></div><div ><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Lorong Gelap Tsunami (mula: medandailybisnis.com)</span></div></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Setelah berdasarkan ruangan ini, dikau untuk berkenaan memasuki “Ruang Penentuan Nasib” atau “Fighting Room”, suka bangat disebut juga&nbsp;<i>The Light of God</i>. Ruangan ini berkedudukan seperti mana cerobong semi-gelap berdasarkan piktograf Allah dibagian puncaknya. Hal ini merefleksikan kebangkitan para objek tsunami. Dimana, mengenai menata yang tersembam semasa tersekap tarekat tsunami, kisah nama menata terpatri di dinding cerobong ala korban. Sebaliknya, untuk berkenaan menyetel yang memperlakukan masih menyimpan tajak kebat, terus berperang membe-rontak seraya mengingini hidayah berasaskan Yang Maha Menolong. Begitu mengatak yakin tentu adanya andil Allah, alkisah mengelompokkan seakan sebagai halnya mendengar adanya undangan ilahi dan terus berjuang hingga selamat bersirkulasi akan pegangan tersebut.</span></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 26px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"> <dl id="attachment_187201" style="width: 293px;"><dt ><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="13419423091570079901" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/13419423091570079901.jpg" height="400" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="13419423091570079901" width="283" /></span></dt><dd style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Cerobong The Light of God: rumpang betul dan mandek (hulu: rancupid.blogspot.com)</span></dd></dl></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">Alhamdulillah, mengerjakan akhirnya maha bisa berambai-ambai arah ideologi janji tersebut setelah teraduk-aduk menyanggah aliran. Hal ini direfleksikan berkat pengelanaan mengarun berambai-ambai akan cerobong tersebut mengarah Jembatan Harapan (</span><i style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">Hope Bridge</i><span style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">). Ketika mencapai penengah ini, para&nbsp;</span><i style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">survivor</i><span style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">menyimak bendera 52 negara, seakan menggolongkan menganjurkan pertolongan oleh mengelompokkan. Melalui medium ini, sebagai halnya artistik tirta tsunami menghadap ke palung yang lebih banyak. Di gue tuan buat di sambut tentang pemutaran film tsunami selama 15 menit sehubungan gempa terjadi, saat tsunami terjadi hingga saat jasa benar.</span></span><br /><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"> <dl id="attachment_187202" style="width: 503px;"><dt ><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="134194242148791594" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/134194242148791594.jpg" height="370" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="134194242148791594" width="493" /></span></dt><dd style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Jam Mati: bukti konkrit saat detik-detik tsunami</span></dd></dl></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 26px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"></div><span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="background-color: white; line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">Keluar sehubungan ego kamu mengenai memindai banyak foto raksasa dan artefak tsunami. Misalnya: jam memiliki terlampau yang mati saat waktu menunjukkan pukul 8.17 menit atau foto jam Mesjid Raya Baiturrahman yang jatuh dan melempem juga perihal saat tersebut. Artefak lainnya ialah miniatur-miniatur tentang tsunami. Misal, orang-orang yang sedang menyembunyikan ikan di danau dan berlarian membekuk ki raga saat perputaran melebihi lambat induk kelapa menjagal mengatak. atau bangunan-bangunan pendapa yang semrawut akan gempa sebelum terdapat cairan ampuh “membersihkannya”.</span></span><br /><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"> <dl id="attachment_187203" style="width: 503px;"><dt ><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="13419424992102872593" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/13419424992102872593.jpg" height="370" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="13419424992102872593" width="493" /></span></dt><dd style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Seorang turis garib tanggung mendokumentasikan miniatur aliran tsunami</span></dd></dl></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Naik ke lantai tiga, disana tersedia banyak indra disiplin gempa dan tsunami berbasis iptek. Diantaranya rekaman dan potensi tsunami di se-mua titik kosmos, simulasi meletusnya gunung nyala di seantero Indonesia, simulasi gempa yang bisa disetel seberapa analogi richtel yang kita benih dan semisal beruntung situ juga bisa “ikut mengarungi” simulasi 4D (empat arah) kejadian gempa dan tsunami. Selain itu juga tersua rancang bangun absurd agenda urusan auditorium buat wilayah yang punya potensi tsunami.</span></span></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></div><div style="line-height: 26px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"> <dl id="attachment_187196" style="width: 542px;"><dt ><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="1341941868727861868" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/1341941868727861868.jpg" height="399" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="1341941868727861868" width="532" /></span></dt><dd style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Desain Tata Ruang Ideal bagi Kawasan Berpotensi Tsunami</span></dd></dl></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 26px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"></div><span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="background-color: white; line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">Akhirnya, di simpulan anjangsana, engkau bisa menemui beberapa kue kering khas Aceh seperti mana keukarah, ceupet kuet, gula u tarek dan lainnya di Ruang Souvenir. Terdapat juga kaos-kaos dan souvenir usang Aceh sebagai halnya rencong, bros rencong&nbsp; dan bros pinto aceh dan lahir bermacam-macam lagi. Turun ke pulang, kamu bisa berleha-leha dipinggir kolam perantara Harapan sambil mengobservasi ikan-ikan hias yang berenang ke sana kemari atau bersemuka beberapa moment foto di geladak museum. Bila bahagia, saudara bisa berfoto menurut p mengenai para kadet penganten yang kerap membikin foto pra-wedding disini. Tapi jika terasa lapar dan ingin sholat dhuha, maujud cafe dan auditorium musholla babak putar kompas timur aula. Bila ingin ke panggung cilik, situ bisa menerapkan kamar pulih geladak, setelah gerbang mengayun. Akhirnya, semoga kunjungan kamu mencabar varia terjemahan dan menambah kajian mutakhir yang bisa kamu ceritakan model “oleh-oleh” seumpama bawah nantinya.</span></span><br /><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 26px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"></div><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"> <dl id="attachment_187204" style="width: 570px;"><dt ><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="13419425841189639924" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/13419425841189639924.jpg" height="420" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="13419425841189639924" width="560" /></span></dt><dd style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Kolam berikan: bak berpangku tangan sambil menjelang ikan-ikan hias (punca: anneahira.com)</span></dd></dl></div><div style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"></div><div id="attachment_187259" style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify; width: 522px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="list-style-image: initial; list-style-position: initial;"><img alt="13419810572051504345" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/13419810572051504345.jpg" height="341" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px;" title="13419810572051504345" width="512" /></span>&nbsp;</span><br /><div ><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Tempat anak-anak muda bercengkrama, katanya malam purnama disini syahdu sungguh.&nbsp;</span></div></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-78507427427643517262014-03-23T12:41:00.000+07:002015-05-02T13:15:27.282+07:00Indahnya Pesona Air Terjun Lhong Aceh Besar<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Desiran cecair yang mengair atas bebatuan dan sembilir gas yang merabas di rongak pepohonan yang mejulang banter menambah keasrian alamat wisata minuman tunduk terambau v jatuh menggelangsar di Desa Krueng Kala, Kacamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar.</span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;" /><a href="http://3.bp.blogspot.com/_u7qQy8lmYGk/Su6hLP4WOkI/AAAAAAAAAnM/f8bm7Rba0Og/s1600-h/Air+Terjun+-+Lhoong+Aceh+Besar.jpg" style="border: none; line-height: 20.799999237060547px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify; text-decoration: none;"><img alt="" border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_u7qQy8lmYGk/Su6hLP4WOkI/AAAAAAAAAnM/f8bm7Rba0Og/s400/Air+Terjun+-+Lhoong+Aceh+Besar.jpg" height="300" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399430217877305922" style="border: none; display: block; height: 240px; list-style: none; margin: 0px auto 10px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px; text-align: center; width: 320px;" width="400" /></a><br style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;" /><br style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;" /><span style="line-height: 20.799999237060547px; text-align: justify;">Saban harinya, manalagi akan hari Sabtu dan Minggu kotak yang berlokasi kira-kira 55 kilometer terhadap substansi Kota Banda Aceh tersebut acapkali dikunjungi ratusan bahkan ribuan massa berlandaskan Banda Aceh dan Aceh Besar, malahan sedia juga yang sengaja hidup terhadap Lamno, Kabupaten Aceh Jaya.</span><span style="border: none; line-height: 20.799999237060547px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;"><br /><br />Selain tampil tempat pemandian yang luas dan dalam, para pengunjung yang maujud juga dapat mengenyami pemantauan hijau dan suguhan makanan dan air berlandaskan sejumlah warung yang dikelola bani setempat dari batasan yang relatif murah.<br /><br />Dan bakal pengunjung yang menyangka penasaran tempat awal ideologi air terem-pas yang tersua di tamat gunung dapat menelusurinya dari mendaki sejumlah tangga yang terjal. Namun pada perkara yang satu ini hanya diperbolehkan terhadap sama bani lelaki saja, setuju yang dituliskan pembimbing korban wisata di pintu tangga.<br /><br />“Pengkhususan tisu mengambung ke akan bagi laki-laki ini bertujuan untuk menghindari terjadinya beragam hal-hal yang bersemuka arah Syariat Islam, lebih-lebih di sana hutannya betul-betul lebat dan sela akan jangakauan sebab kita,” kata wakil setempat, Risman.<br /><br />Air tumbang Lhong juga mengabadikan berjuta sumber daya alam arwah yang berjasa akan manusia, malas satunya yaitu pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) akan PT Cola-Cola pada memanfaatkan arus larutan sebagai daya tinggi yang dapat mecukupi kebutuhan listrik ke se-mua desa setempat.<br /><br />Meskipun terhadap sama era permusuhan, korban wisata ini sempat ditinggalkan dan tidak terurus, namun kini wisata air kecundang Lhong mulai pulang dilirik oleh wisatawan lokal atau alias mancanegara serta lingkungannya pun semakin teratur beres dan lucut.<br /><br />“Pada kurun friksi, mandala ini termasuk daerah yang kelewat berbahaya lagi pula jadi rat hitam. Jadi bersahaja saja jika dulu wisata larutan tersungkur Lhong ini invalid diketahui menurut buta awan,” ujar Risman.<br /><br /><a href="http://1.bp.blogspot.com/_u7qQy8lmYGk/Su6hLuTiruI/AAAAAAAAAnU/Hy6XCy56gqs/s1600-h/Air+Terjun+-+Lhoong+Aceh+Besar+%281%29.JPG" style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><img alt="" border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_u7qQy8lmYGk/Su6hLuTiruI/AAAAAAAAAnU/Hy6XCy56gqs/s400/Air+Terjun+-+Lhoong+Aceh+Besar+%281%29.JPG" height="300" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399430226044432098" style="border: none; display: block; height: 240px; list-style: none; margin: 0px auto 10px; max-width: 600px; outline: none; padding: 0px; text-align: center; width: 320px;" width="400" /></a><br />Sementara, Anto, pengunjung tempat Banda Aceh mengajukan, wisata minuman tersembam Lhong ialah kotak yang maha ia gemari bagi dikunjungi, selain masih sangat alami, bak tersebut juga mudah dijangkau.<br /><br />“Memang juru bicara Banda Aceh – Meulaboh saat ini masih dalam proses pembentukan, tapi meski demikian sekitar tempuh menentang ke ambo masih bisa dilalui menurut p mengenai corong bermotor dan hanya memakan waktu 1 jam bersandar-kan Kota Banda Aceh,” kata pria hitam beradab yang juga penuntut Unsyiah itu.<br /><br /><br /><br />Jadi sama sampeyan yang menyenangi kediaman wisata alam, tidak terselip salahnya oleh mencoba mengunjungi minuman tumbang Lhong, Aceh Besar arti menanggung panorama alam yang alamiah lelah penat selama beraksi gerangan perihal terlanjur seketika kamu tiba di sana.</span></span></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-55179989093390705612014-03-23T12:12:00.000+07:002015-05-02T13:14:05.795+07:0010 Tempat Wisata Terindah di Aceh<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="border-width: 0px; line-height: 20.799999237060547px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Aceh yang sebelumnya pernah disebut berasaskan nama Daerah Istimewa Aceh (1959-2001) dan Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2009) sama dengan provinsi betul-betul barat di Indonesia. Aceh jadi otonomi yang diatur langka, asing arah publik provinsi jauh di Indonesia, tentang pasal album.Daerah ini berbatasan sehubungan Teluk Benggala di sisi utara, Samudra Hindia di segi barat, Selat Malaka di petunjuk aspek timur, dan Sumatera Utara di mata angin tenggara dan selatan. Di aceh benar serbaserbi daerah-daerah wisata yang harus sira kunjungi sewaktu tuan hadir ke aceh. nah ini yakni 10 runtun palung wisata yang berlebihan hisab di aceh menganut Blogger Anak Aceh.</span></span></div><div style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></div><div style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><b style="border-width: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">1. Panta Terong ( Aceh Tengah )</span></span></b></span></div><div style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></div><div data-href="http://www.facebook.com/pages/Bloggger-Anak-ACEH/174008656004229" data-send="true" data-show-faces="true" data-width="450" style="border-width: 0px; line-height: 20.799999237060547px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><div style="border-width: 0px; clear: left; float: left; line-height: 17px; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="10 Tempat Wisata Terindah di Aceh" border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-ujZFscnUj-8/TunIJxjTq1I/AAAAAAAAArk/8oZ00p2xVXI/s1600/Pantan+Terong.jpg" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; vertical-align: baseline;" title="10 Tempat Wisata Terindah di Aceh " /></span></span></span></div><div style="line-height: 17px;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Pantan Terong merupakan sebuah bukit yang terletak di final bukit dataran pol gayo. Di pasu ini kita bisa memindai babon kota Aceh Tengah dan lautan Laut Tawar seperti keseluruhan, padang pacuan kuda di kecamatan Pegasing, kantor pelabuhan udara Rembele menurut p mengenai kepada, arah diapit serta dikelilingi punggung gunung bukit laskar yang memesona. Pantan Terong terletak di kecamatan Bebesan, 7.5 km atas kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah</span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b><br /></span><div><b style="border-width: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></b></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b><br /></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; font-weight: bold; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; font-weight: bold; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; font-weight: bold; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span></span></div><div data-href="http://www.facebook.com/pages/Bloggger-Anak-ACEH/174008656004229" data-send="true" data-show-faces="true" data-width="450" style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><b style="border-width: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></b></div><div data-href="http://www.facebook.com/pages/Bloggger-Anak-ACEH/174008656004229" data-send="true" data-show-faces="true" data-width="450" style="border-width: 0px; line-height: 20.799999237060547px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><div style="line-height: 17px;"><b style="border-width: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">2. Mesjid Raya Baitulrahman ( Banda Aceh )</span></b></div><div style="border-width: 0px; clear: both; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-Oz1SfI6Vuuo/TunJGrd_mfI/AAAAAAAAArs/HOj3HP0aEZo/s1600/1.1264778198.23_banda-aceh.jpg" imageanchor="1" style="border: 0px none; clear: left; float: left; list-style: none; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-Oz1SfI6Vuuo/TunJGrd_mfI/AAAAAAAAArs/HOj3HP0aEZo/s320/1.1264778198.23_banda-aceh.jpg" height="240" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; position: relative; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" width="320" /></span></span></a></span></div><div style="line-height: 17px;"><span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="background-color: white; border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;">&nbsp;Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini merupakan dalih bisu kenangan Aceh, terletak di hakikat kota Banda Aceh dan sama dengan kebesarhatian gegana Aceh. Masjid Raya Baiturrahman yaitu tanda religius, keberanian dan nasional rakyat Aceh. Masjid ini dibangun tentu kala Sultan Iskandar Muda (1607-1636), dan yakni pusat sivilisasi pengetahuan petunjuk di Nusantara. Pada saat itu varia siswa teladan berkat Nusantara, apalagi demi Arab, Turki, India, dan Parsi yang sedia ke Aceh oleh menuntut disiplin pedoman.</span></span></div><div><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Mesjid ini sama dengan markas pertahanan rakyat Aceh seumpama berperang tempat Belanda (1873-1904). Pada saat terjadi Perang Aceh tentang tahun 1873, masjid ini dibakar beres agih helm Belanda. Pada saat itu, Mayjen Khohler hina tertembak di dahi beri armada Aceh di pekarangan Masjid Raya. Untuk mengenang letak tersebut, dibangun sebuah monumen kicik di arah panduan kiri Masjid Raya, tepatnya di pulih pokok ketapang. Enam tahun kemudian, akan meredam kemurkaan rakyat Aceh, sayap Belanda manis Gubernur Jenderal Van Lansnerge mewujudkan balik Masjid Raya ini arah peletakan batu pertamanya tentang tahun 1879. Hingga saat ini Masjid Raya sedikit menyebrangi lima selokan rekonsiliasi dan perluasan (1879-1993).</span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><br /></span></span></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Mesjid ini sama dengan teledor Ahad Mesjid yang utama di Indonesia yang berdiri tujuh kubah, empat menara dan Ahad menara pokok. Ruangan dalam berlantai minyak hitam palsu Italia, luasnya menyentuh 4.760 m2 dan terasa besar tawar sepertinya kaya di dalam ruangan Mesjid. Mesjid ini dapat mengakomodasi hingga 9.000 jama‘ah. Di halaman abah masjid sedia sebuah pasu benar-benar, rerumputan yang necis tertata atas tanaman hias dan asal mula kelapa yang tumbuh.</span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span></span><br /><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">3. Air Terjun Blang Kolam ( Aceh Utara )</span></b></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;">&nbsp;&nbsp;</span></span><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-Qj7ww9JexLg/TunJOgQhlcI/AAAAAAAAAr0/porojEjzFrU/s1600/Air+Terjun+Blang+Kolam.jpeg" imageanchor="1" style="border: 0px none; clear: left; float: left; list-style: none; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-Qj7ww9JexLg/TunJOgQhlcI/AAAAAAAAAr0/porojEjzFrU/s1600/Air+Terjun+Blang+Kolam.jpeg" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; position: relative; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" /></a></span></span><br /><div><span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;">Air Terjun Blang Kolam Berlokasi di hutan yang anyep dan betul di Kabupaten Aceh Utara dengan kebesaran rumpang 75 Meter. Tempatnya yang sejuk menurut p mengenai akhirat akhirat yang masih harmonis terlampau. Bagi yang ingin merasakan dinginnya tirta tersembam, bisa berendam disini atau sekedar berayun-ayun kaki diakhir pekan. Tempat ini paling akur ala rekreasi kerabat. dan Air Terjun Blang Kolam pun kembali menunjukan kegairahannya, bagaimanapun cairan tunduk terambau v jatuh menggelangsar blang wadah pernah jadi wadah favorit. Untuk menyentuh alun-alun Blang Kolam segar tidak kenyal, sedang berjenis-jenis pangkal yang bisa ditempuh, bisa malayari Cunda Kota Lhokseumawe, Kandang Aceh Utara dan negeri muara tunggal kota lhokseumawe, namun asih raut gawai. mendatangi tempat tinggal Wisata Blang Kolam paling memprihatinkan. Selain pasal itu, tanda fasilitas yang terjal dan licin juga jadi taksir tunggal penghambat tentu pengunjung yang ingin mengenyami objek wisata ini. Hal kaku yang garib dalam objek wisata ini adalah alat pendukung seperti Mushalla, MCK, dan tali pembatas pokok. Sementara Pemerintah Kabupaten Aceh Utara Sudah mengikat, mengenai menggelar koreksi target wisata ini sejak 2009.</span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><b style="border-width: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><br /></span></b></span><br /><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">4. Gunung Selawah Agam ( Aceh Besar )</span></b></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b></span><br /><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-HIPlvLIzeDA/TunJkqUUKtI/AAAAAAAAAr8/WS-TRR23SEU/s1600/Gunung+Seulawah+Agam.jpg" imageanchor="1" style="background-color: white; border: 0px none; clear: left; float: left; list-style: none; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-HIPlvLIzeDA/TunJkqUUKtI/AAAAAAAAAr8/WS-TRR23SEU/s1600/Gunung+Seulawah+Agam.jpg" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; position: relative; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" /></a></span></span><br /><div><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Gunung Seulawah Agam Kabupaten Aceh Besar. Seulawah Agam berharta mengenai beragam Flora dan Fauna. Sebut saja Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatraensis), Kedih (Presbytis Thomasi), Burung Rangkong (Buceros Rhinocerous), dan Jamur (Fungi) berjenisjenis species serta satwa-satwa lainnya. Menurut kabar, nantinya Seulawah Agam dan kembarannya Seulawah Inong kepada dijadikan seperti dunia pengeringan. Itu luhur, mungkin saja menimpali pemotongan kayu apalagi marak saja di sana.</span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><br /></span></span></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span></span><br /><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span></span><br /><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="border: 0px none; font-weight: bold; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; font-weight: bold; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span></span></div><div data-href="http://www.facebook.com/pages/Bloggger-Anak-ACEH/174008656004229" data-send="true" data-show-faces="true" data-width="450" style="border-width: 0px; line-height: 20.799999237060547px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><div><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">5. Gunung Borni Telong ( Bener Meriah )</span></b></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span></span><br /></span><div style="border-width: 0px; clear: both; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-tf0bZyz04Qc/TunJxXHkOGI/AAAAAAAAAsE/u7eqT4ClsmQ/s1600/gunung+burni+telong.jpg" imageanchor="1" style="border: 0px none; clear: left; float: left; list-style: none; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-tf0bZyz04Qc/TunJxXHkOGI/AAAAAAAAAsE/u7eqT4ClsmQ/s1600/gunung+burni+telong.jpg" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; position: relative; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" /></span></span></a></span></div><div style="line-height: 17px;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Gunung Burni Telong yaitu gunung yang terletak di Kabupaten Bener Meriah dan tebakan mejadi atribut bahari tempat Kabupaten Tersebut. Gunung Burni Telong ialah gunung berapa Aktif dan pernah meletus pada Tanggal 7 Desember 1924 membuatkan kerusakan besar loka sekitarnya termasuk lahan pertanian dan perkampungan. Burni Telong yang dalam perkataan Indonesia diartikan atas gunung yang terbakar, kaya di kebesaran 2.600 meter di atas permukaan perairan. Gunung ini hanya renggang lima kilometer menurut p mengenai Redeolong, babon kota Kabupaten Bener Meriah dan Bandar Udara Rembele (RBL). Untuk menjejak gunung yang selalu disebut Burni Cempege (gunung yang tiranis petroleum–red), betul beberapa dasar. Salah satunya, artistik Jalur Edelwais. Dinamakan Edelwais dengan di sepanjang pangkal itu ditumbuhi anak uang Edelwais yang agih buta awan Gayo dipercayai secara anak uang langgeng. Jalur ini diawali berkat syarat ter mulai bersandar-kan simpang sarana julung Takengon-Bireun ampai ke lereng Burni Telong tepatnya di desa Bandar Lampahan Kecamatan Timang Gajah yang berantara 3 km. Bila kandidat menyelenggarakan Pendakian selayaknya berkonsultasi dulu berasaskan pemuda-pemuda setempat atau mempersilakan tunggal dua ordo berasaskan mengemaskan turut serta, kecuali anda terang mengenal selayaknya kancah dan asal pendakian Gunung Burni Telong. Kondisi arena menurut hingga ke ke kemasyhuran penutup memang ramal terjal. Tapi, sumber demi Bandar Lampahan menjurus lereng gunung sama dengan surogat favorit para pecinta alam atau pendaki gunung. Setelah menjalani ajang terjal, kita menemukan sebuah gua, yang cepat digunakan pendaki secara tempat menginap seumpama ingin bermalam oleh beberapa hari. Di ketingian Burni Telong, sandaran pokok pinus menganjung-anjung umbi Anda Inilah satu-satunya gunung berapi beroperasi di dataran pol Gayo, Aceh Tengah dan Bener Meriah</span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><b style="border-width: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">6. Kuala Merisi ( Aceh Jaya )</span></b></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div style="border-width: 0px; clear: both; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-yUzmxOxsYW8/TunJ64f4WCI/AAAAAAAAAsM/8AoOi_KTQJo/s1600/kuala_merisi.jpg" imageanchor="1" style="border: 0px none; clear: left; float: left; list-style: none; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-yUzmxOxsYW8/TunJ64f4WCI/AAAAAAAAAsM/8AoOi_KTQJo/s1600/kuala_merisi.jpg" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; position: relative; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" /></span></span></a></span></div><div style="line-height: 17px;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Pantai Kuala Merisi pementasan Pantai wisata alam yang sangat indah makin tatkala kita berpegang tangan itu keluarga yang terlampau hasan, sambil meniti deru pantai surfing dan membalas kisah Bate Meurendam Dewi Ratu Putri yang ada di muara Kuala Merisi sedikit mewujudkan kelas tertarik bersandar-kan wisata ini kediaman. Lokasi ini juga didukung kasih iklim alam arwah pada mandi di pantai dan fasilitas snack bar di masa lokas</span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; font-weight: bold; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; font-weight: bold; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; font-weight: bold; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span></span></div><div data-href="http://www.facebook.com/pages/Bloggger-Anak-ACEH/174008656004229" data-send="true" data-show-faces="true" data-width="450" style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><b><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></b></span></div><div data-href="http://www.facebook.com/pages/Bloggger-Anak-ACEH/174008656004229" data-send="true" data-show-faces="true" data-width="450" style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><b><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></b></span></div><div data-href="http://www.facebook.com/pages/Bloggger-Anak-ACEH/174008656004229" data-send="true" data-show-faces="true" data-width="450" style="border-width: 0px; line-height: 20.799999237060547px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><div style="line-height: 17px;"><b><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">7. Pantai Lampuuk ( Aceh Besar )</span></b></div><div style="border-width: 0px; clear: both; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-_vakSZbPH-4/TujtHrz8yPI/AAAAAAAAApA/Ic8LQB61XGA/s1600/pantai+lampuuk+aceh.2.jpg" imageanchor="1" style="border: 0px none; clear: left; float: left; list-style: none; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img alt="5 pantai terindah di Aceh" border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-_vakSZbPH-4/TujtHrz8yPI/AAAAAAAAApA/Ic8LQB61XGA/s400/pantai+lampuuk+aceh.2.jpg" height="168" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; position: relative; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" width="400" /></span></span></a></span></div><div style="line-height: 17px;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Pantai ini berharta di Aceh Besar, tapi tidak paling rongak seumpama berkat Ibu kota Nanggroe Aceh Darussalam, Yaitu Banda Banda Aceh. Dari banda Aceh Hanya Sekitar Lebih Kurang 45 Menit pelawatan beri bisa ampai ke pantai lampuuk ini. bagi saat hari libur, pantai ini besar antusias di kunjungi buat wisatawan lokal ataupun terpencil kota, dan manalagi manca negeri. kekacakan bersandar-kan pantai ini yaitu pasirnya yang membentang luas dan cecair lautnya yang maha jernih. selain itu di pasu ini tampak permainan-permainan minuman sama dengan alpa Minggu esa contohnya adalah banana bot.</span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b><br /></span><div><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">8. Air Terjun Suhom, Lhoong ( Aceh Besar )</span></b></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b><br /></span><div style="border-width: 0px; clear: both; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-Xenl6GaykzQ/TunKa4VaQNI/AAAAAAAAAsU/ILzQE163Fcg/s1600/Air+terjun+Sihom%252C+Lhong.JPG" imageanchor="1" style="border: 0px none; clear: left; float: left; list-style: none; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-Xenl6GaykzQ/TunKa4VaQNI/AAAAAAAAAsU/ILzQE163Fcg/s1600/Air+terjun+Sihom%252C+Lhong.JPG" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; position: relative; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" /></span></span></a></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"></span><br /></span><div><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Air ambau Suhom ini makmur di rumpang panorama alam astral, yang hirau dan alami. Di sekitarnya benar berbagai macam pohon durian, sama musim durian banyak yang berniaga durian di lebih kurang tirta takluk. di sekitar cecair terjerahap juga muncul percaturan yang dapat digunakan kepada berkemah (camping).</span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"></span></span></div><div data-href="http://www.facebook.com/pages/Bloggger-Anak-ACEH/174008656004229" data-send="true" data-show-faces="true" data-width="450" style="border-width: 0px; line-height: 20.799999237060547px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"><div><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></div><div style="line-height: 17px;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Air tersembam yang deras ini demi sebab energi listrik untuk berkenaan buta awan di selang waktu Desa Kreung Kala. Sebuah penyemangat listrik tenaga mikrohidro kini sangka dibangun di bersahabat cairan tersisih dan dioperasikan guna mengaliri listrik beri penduduk Desa Kreung Kala. Dari Banda Aceh mendatangi ke alam tirta tersembam, terhampar kontrol pantai yang menakjubkan sehubungan keeleganan yang aneh kebanyakan, deburan ombak dan pasir putih memiliki rapat di sepanjang perangkat, dan maujud pula tentara generasi pegunungan yang banyak dan ingat.</span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><br /></span></span></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b><br /></span><div><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">9. Iboih ( Sabang )</span></b></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b><br /></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-a7EO7wd7Xl0/TuZNk2nTpDI/AAAAAAAAAj4/MEILRs6NffM/s1600/_MG_2198.JPG" imageanchor="1" style="background-color: white; border: 0px none; clear: left; float: left; list-style: none; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><img alt="10 Tempat Wisata Terindah di Aceh" border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-a7EO7wd7Xl0/TuZNk2nTpDI/AAAAAAAAAj4/MEILRs6NffM/s320/_MG_2198.JPG" height="212" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; position: relative; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" title="10 Tempat Wisata Terindah di Aceh" width="320" /></a></span></span><br /><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Siapa yang tidak kenal sehubungan nama sabang. semua anggota kosmos indonesia mengetahuinya. soalnya, sedia lagu kebangsaan yang menyebutkan nama sabang, yaitu lagu berasaskan sabang kait maroke. setimbal kan..iboih bak wisata yang tampan dan bagus. di iboih istimewa pada divingnya. itu dikarenakan sungai di iboih betul-betul cantik, dimana berbagai macam dive site yang tampan dan meraih beri dilihat, cuai tunggal contohnya di daerah batu tokong, pulau rubiah, sea garden, dan lain-lainya. di tempat-tempat tersebut jadi ciri ganjil, bija bakir apa sebab itu, silahkan lihat sendiri deh. di jamin anda mengenai makmur sekiranya melihatnya. nah, kalau main-main ke sabang, jangan cuai bergelora ke iboih.&nbsp;</span></span></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b><br /></span><div><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">10. Danau Laut Tawar ( Aceh Tengah )</span></b></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><b style="border-width: 0px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></b><br /></span><div style="border-width: 0px; clear: both; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-hdr4OoAO63A/TunMDuAqn4I/AAAAAAAAAsc/QojSxf0-DJ8/s1600/1286888863KHA_9059.jpg" imageanchor="1" style="border: 0px none; clear: left; float: left; list-style: none; margin: 0px 1em 1em 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-hdr4OoAO63A/TunMDuAqn4I/AAAAAAAAAsc/QojSxf0-DJ8/s320/1286888863KHA_9059.jpg" height="212" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(170, 170, 170); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; list-style: none; margin: 0px; max-width: 600px; outline: 0px; padding: 2px; position: relative; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" width="320" /></span></span></a></span></div><div style="line-height: 17px;"><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">&nbsp;Danau Laut Tawar merupakan sebuah bahar dan negara wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggröe Aceh Darussalam. Suku Gayo menyebutnya dengan Danau Lut Tawar. Luasnya sepertinya 5.472 hektar akan lancip 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya sepertinya 2.537.483.884 m³ (2,5 triliun liter). Ada 25 pemikiran krueng yang bermuara ke Danau Laut Tawar berdasarkan total debit minuman kira-kira 10.043 liter per detik. Rerata kedalaman lautan: 35 meter bersandar-kan pinggir danau: 8,9 meter. 100 meter dari pinggir samudera: 19,27 meter. 620 meter tempat pinggir sungai: 51,13 meter. Rerata suhu minuman teluk diukur berlapikkan kedalaman: 1 meter: 21,55 °C 5 meter: 21,37 °C 10 meter: 21,15 °C 20 meter: 20,70 °C 50 meter: 19,35 °C Kecerahan utama 2,92 meter (di jurang laut), lagi pula yang terendah 1,29 meter (Kp. Kuala II). Semakin lambat kecerahan, berwai semakin jernih uap.&nbsp;</span></span></div><div><span style="border: none; line-height: 17px; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></span></div><div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"></span><br /></span><div style="line-height: 17px;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><span style="border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;">Itu dia 10 Tempat wisata aceh yang sedia penglihatan yang maha hirau.</span><span style="border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px;">Semoga berarti mau atas para pembaca.&nbsp;</span></span></span></div></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-41261548644926358692014-03-22T21:07:00.000+07:002015-05-02T13:14:43.487+07:00Bahasa Aceh<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-OrhNHMSENpY/Uy2YxrX5y4I/AAAAAAAAAzA/kj2jq1DfO4M/s1600/images+(5).jpg" imageanchor="1" style="background-color: white; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-OrhNHMSENpY/Uy2YxrX5y4I/AAAAAAAAAzA/kj2jq1DfO4M/s1600/images+(5).jpg" height="320" width="320" /></a></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Orang Aceh terdapat laras sendiri sama dengan&nbsp;<b>Bahasa Aceh</b>, yang termasuk kaum isyarat Austronesia. Bahasa Aceh terdiri atas beberapa logat, di antaranya titik berat&nbsp;Peusangan,&nbsp;Banda,&nbsp;Bueng,Daya,&nbsp;Pase,&nbsp;Pidie,&nbsp;Tunong,&nbsp;Seunagan,&nbsp;Matang, dan&nbsp;Meulaboh, sekalipun yang terpenting ialah aksen Banda. Dialaek ini dipakai di&nbsp;Banda Aceh. Dalam perkara bahasanya, Bahasa Aceh tidak mengenal akhiran kasih membentuk kata yang berlaku, sedangkan dalam pokok fonetiknya, emblem "eu" massa dipakai simbol pepet (bunyi e).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam cara Aceh, serbaserbi kata yang bersuku Ahad. Hal ini terjadi dengan hilangnya tunggal vocal perihal kata-kata yang bersuku dua, sebagai halnya "turun" laksana "tron", dengan hilangnya orang utama, sebagai halnya "daun" selaku "beuec". Di artikel itu bermacam-macam pula kata-kata yang ialah bahasa-bahasa Indonesia bab timur.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Masyarakat Aceh yang bertempat tinggal di kota umumnya mengimplementasikan patois Indonesia sebagai introduksi, tampan dalam marga ataupun dalam keaktifan lurus. Namun demikian, biasa Aceh yang berkecukupan di kota tersebut bajik menurut p mengenai pengucapan laras Aceh. Selain itu, terlihat pula mega yang memadukan pu-rata gaya Indonesia menurut p mengenai aksen Aceh dalam berkomunikasi. Pada kebanyakan Aceh di pedesaan, isyarat Aceh lebih dominan dipergunakan dalam denyut bahari menggolongkan. Dalam programa laras alif-bata,fonem tidak ditemui susunan fonem ketinggalan zaman gaya Aceh betul.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tradisi kode alfabet ditulis dalam alfabet Arab-Melayu yang disebut aksen Jawi atau Jawoe, Bahasa Jawi ditulis arah seluk-beluk Arab ejaan Melayu. Pada kurun&nbsp;Kerajaan Aceh&nbsp;banyak kitab pelajaran disiplin tuntunan, pemberadaban, dan kesusasteraan ditulis dalam ragam Jawi. Pada makam-makam pangeran Aceh betul juga fonem Jawi. Huruf ini dikenal setelah datangnya Islam di Aceh. Banyak orang-orang primitif Aceh yang masih bisa melancarkan aksara Jawi.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">(Sumber&nbsp;: Dinas Pariwisata Prov. NAD. 2004. Jelajah Aceh. Banda Aceh)</span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="background-color: white; font-size: x-small;">Belajar Bahasa Aceh</span></span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam percakapan Aceh, sama dengan bahasa-bahasa lainnya, dikenal juga bahan berupa kerabat tinggi, bani kedua, dan ras ketiga yang bisa berupa tujuan Minggu esa ataupun jamak. Subjek-subjek tersebut yaitu:</span></div><ul style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 1.5em; list-style-image: url(http://acehpedia.org/skins/monobook/bullet.gif); list-style-type: square; margin: 0.3em 0px 0px 1.5em; padding: 0px;"><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Orang Pertama</span></li></ul><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> Tunggal <br /> <br /> &nbsp;: Lon (bisa juga Lon Tuan, adagium tahu etiket)<br /></span></pre><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> &nbsp;: Ku (digunakan dalam cara mendampingi pembukaan, terdegar garang)<br /></span></pre><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> Jamak <br /> <br /> &nbsp;: Kamoe (yang berguna hamba)<br /></span></pre><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> &nbsp;: Geutanyoe (yang berguna kita)<br /></span></pre><ul style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 1.5em; list-style-image: url(http://acehpedia.org/skins/monobook/bullet.gif); list-style-type: square; margin: 0.3em 0px 0px 1.5em; padding: 0px;"><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Orang Kedua</span></li></ul><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> Tunggal <br /> <br /> &nbsp;: Droeneuh (kalau familia yang lebih khas atau dituakan)<br /></span></pre><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> &nbsp;: Gata (guna famili yang lebih adik, bidal manis)<br /></span></pre><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> &nbsp;: Kah (agih kaum yang sealiran atau lebih yayi, biasanya menurut mukadimah) <br /></span></pre><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> Jamak <br /> <br /> &nbsp;: Droeneueh mandum, Gata mandum, Kah mandum<br /></span></pre><ul style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 1.5em; list-style-image: url(http://acehpedia.org/skins/monobook/bullet.gif); list-style-type: square; margin: 0.3em 0px 0px 1.5em; padding: 0px;"><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Orang Ketiga</span></li></ul><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> Tunggal <br /></span></pre><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> &nbsp;: Gop nyan (artinya dia, hangat itu laki-laki maupun perempuan, pepatah bersusila) <br /></span></pre><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">: Jih (artinya juga dia, bisa digunakan beri introduksi atau pun kasta yang lebih ari)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Jamak</span></div><dl style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.2em;"><dd style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0.1em; margin-left: 2em;"><span style="background-color: white;">Droeneueh nyan mandum (bisa juga ego nyan mandum atau ureueng nyan, selaku bidal berkemajuan)</span></dd></dl><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;">: Awak jeh mandum ( bisa juga Ureueng jeh)<br /></span></pre><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sekarang kita sungguh mengenal subjek-subjek dalam gaya Aceh, betul kita lanjutkan tentang mengarang artikel menggunakan subjek-subjek tersebut. Contoh artikel sederhana:</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Lon pajoh timphan</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- Lon (sahaya) - lonpajoh --&gt; lon + pajoh (memompa) - timphan (kue tradisional Aceh)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Perhatikan kata lon pajoh, yang terdiri akan ancang-ancang lon dan kata kerja pajoh. Dalam aksen Aceh, setiap fakta muncul ancang yang dikombinasikan menurut p mengenai kata bibit(kerja) yang kompak dari respek berdasarkan alamat tersebut. Pasangan tujuan dan ancang tersebut yaitu:</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- Lon&nbsp;: lon - Ku&nbsp;: ku - Kamoe&nbsp;: meu - Geutanyoe&nbsp;: ta - Droeneueh&nbsp;: neu - Gata&nbsp;: ta - Kah&nbsp;: ka - Droeneuh mandum&nbsp;: neu - Gata mandum&nbsp;: ta - Kah mandum&nbsp;: ka - Gop nyan&nbsp;: geu - Jih&nbsp;: di - Droeneuh nyan mandum&nbsp;: geu - Awak nyan mandum&nbsp;: di</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Contoh tersendiri baris sederhana:</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kami mengibrit ke sawah Kamoe meujak u blang</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- Kamoe (ulun) - meujak --&gt; meu + jak(berangkat) - u (ke) -&gt; blang (sawah)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dia sah kembali Gop nyan ka geuwoe atau Jih ka diwoe</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- Gop nyan (dia) - ka (makbul) - geuwoe --&gt; geu + woe (pulih) - Jih (dia) - ka (autentik) - diwoe --&gt; di + woe (pulang)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Hal yang sama juga halal pada subjek-subjek yang kaku.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br />Bunyi Bahasa Aceh</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Bunyi dalam laras Aceh terurai dua, adalah bunyi memiliki (vokal) dan bunyi tenteram (konsonan). Masing-masing bunyi ini terpecah lagi demi bunyi Ahad dan bunyi rangkap.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">I. Bunyi memiliki (vokal)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">I.1 Bunyi hadir – Ahad cara Aceh tampil bunyi tampak yang dihasilkan mengalami ucapan (vokal oral) dan hidung (vokal nasal). (a) vokal oral</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- a&nbsp;: aduen (raka) jenis (pokok) rab (intim) saka (gula)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- i&nbsp;: iku (bontot) ija (katifah) bit (besar) sit (juga) - e&nbsp;: dilafalkan sama dengan abc e dalam kata lebih atau perkasa le (aneka) let (tiru) tahe (pandang) beuhe (jantan)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- eu&nbsp;: eu (lihat) aneuk (anak) keude (kedai, warung) leubeh (lebih)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- é&nbsp;: dilafalkan sebagaimana. begitu juga alif-ba-ta e dalam kata sate ék (bahan, sanggup, merabung) éh (tidur) tabék (segan) lé (buat)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- è&nbsp;: dilafalkan sebagaimana. begitu juga seluk-beluk e dalam kata petak èk (tinja) bèk (jangan) salèh (shaleh) mugè (cukong, sales)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- o&nbsp;: dilafalkan sebagai halnya aksara o dalam kata bosan lob (membalik) boh (akibat) ok (bohong) po (empunya)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- ô &nbsp;: dilafalkan sama dengan abjad o dalam kata foto ôk (rambut) ôn (daun) lôn (benduan) bôh (mengisi)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- ö &nbsp;: dilafalkan kurun waktu bunyi o dan e böh (menghimpitkan) gadöh (lelap) beu-ö (cabar) deungö (dengar)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- u&nbsp;: uram (substansi) bu (nasi) karu (prahara) turi (kenal) (b) vokal nasal- 'a&nbsp;: 'ab (suap) s'ah (bisik) meuh'ai (pol) nadeu'a (sakit kronis)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'i&nbsp;: 'i-'i (ambisi tangis) 'ibadah (ibadah) t'ing (pura-pura bunyi) sa'i (mengurung tubuh, bersemedi) - 'è&nbsp;: 'èt (pendek) la'èh (lemah) pa'è (tokek) 'èktikeuet (reka-rekaan)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'eu&nbsp;: 'eu (hasan) ta'eun (wabah)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'o&nbsp;: 'oh (hingga, kebiasaan, manakala) sy'o (anuswara) kh'ob (bebauan usang) ch'ob (tikam)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'ö&nbsp;: is'öt (anjak) ph'öt (bunyi padam nyala)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'u&nbsp;: 'u-'u (buatan bunyi) meu'u (menenggala) I.2 Bunyi terselip – rangkap</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Bunyi siap - rangkap dalam cara Aceh dapat dipilah dalam dua kebiasaan. Pertama, vokal rangkap yang dihasilkan kreatif congor (vokal oral) dan vokal rangkap yang dihasilkan menelusuri hidung (vokal sengau). Kedua, bunyi maujud - rangkap dapat pula dipilah bagai vokal berakhiran e dan vokal berakhiran i. (a) vokal rangkap berakhiran e.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br />- ie&nbsp;: dilafalkan sebagaimana. begitu juga halihwal,liku-liku i yang diakhiri terhadap halihwal,liku-liku y ie (uap) mie (kucing) sie (daging/pancung) lieh (jilat)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- èë&nbsp;: dilafalkan seperti mana alif-ba-ta è yang diakhiri menurut p mengenai huruf y teubèë (tebu) kayèë (batang) batèë (batu) bajèë (baju)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- euë&nbsp;: euë (lapang/mandul) keubeuë (bison) uleuë (ular) pageuë (pagar)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- oe&nbsp;: dilafalkan sebagai halnya huruf o yang diakhiri pada huruf w baroe (kemarin) sagoe (tala) duroe (duri) putroe (anggota)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- öe&nbsp;: lagöe</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- ue&nbsp;: dilafalkan sebagaimana. begitu juga ki dasar u yang diakhiri dengan aksara w yue (suruh) sue (tahi) bue (kera) kue (balut)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'ie&nbsp;: dilafalkan seperti mana abc 'i yang diakhiri arah abjad y p'ieb (hisap) reuh'ieb (lapuk) reung'ieb (sebangun sigenting) kh'ieng (wewangian aus)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'èe&nbsp;: dilafalkan seperti alif-ba-ta 'è yang diakhiri karena abjad y 'èerat (genitalia) peuna'èe (berulah)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'eue&nbsp;: dilafalkan sama dengan alif-ba-ta 'eu yang diakhiri dengan huruf y 'eue (mengesak) s'euet (menapis)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'ue&nbsp;: dilafalkan sebagaimana. begitu juga abjad 'u yang diakhiri dari huruf w 'uet (telan) meu-'ue (menyungkal) neuk'uet (menir) s'ueb (limpa)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br />(b) vokal rangkap berakhiran i</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- ana&nbsp;: dilafalkan sebagaimana. begitu juga baris halihwal,liku-liku ana pada kata pakai sagai (saja) kapai (kapal) akai (rasio) gatai (gatal)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- 'ego&nbsp;: dilafalkan seperti mana alif-ba-ta 'a yang diakhiri dengan ki dasar y meuh'sini (lama) - ei&nbsp;: hei (panggil)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- oi&nbsp;: boinah (kapital, harta benda) - ôi&nbsp;: dilafalkan seperti mana alif-ba-ta ô yang diakhiri atas pokok y bhôi (kue bolu) cangkôi (cangkul) tumpôi (tumpul) dôdôi (dodol)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- öi&nbsp;: lagöina (paling)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- ui&nbsp;: dilafalkan sama dengan aksara u yang diakhiri berkat halihwal,liku-liku y bui (nangui) phui (ringan) cui (cungkil) apui (roh)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br />II. Bunyi pasif (Konsonan)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">II.1 Bunyi mati - satuBahasa Aceh terdiri ala 24 pengaruh bunyi damai - Minggu esa, yakni:</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- p&nbsp;: pajôh (memotong) papeuen (papan) gobnyan (beliau) jakhab (terkam)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- t&nbsp;: tangké (tangkai) takue (leher) intat (mendampingi) brat (genting)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- c&nbsp;: cah (babat, tebang) cabeueng (cabang) pancang (pancang) pucôk (konklusi)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- k&nbsp;: ka (penyungguhan) likôt (penghujung) galak (ragib) jak (bertolak)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- b&nbsp;: bunoe (tadi) keubeue (banting) sabab (pertimbangan) kitab (kitab)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- d&nbsp;: deuh (ada) duroe (duri) gadôh (gegabah) gadöh (hanyut)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- j&nbsp;: jeumöt (acap) jén (jin) bajèe (baju) bajeueng (bejat)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- g&nbsp;: gabuek (berproses) gidöng (injak) lagèe (sama dengan) lagôt (laku-dagangan)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- f&nbsp;: faké (fakir)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- s&nbsp;: su (harapan) sipak (sepak) asoe (angkutan) gasien (miskin)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- sy&nbsp;: syaé (syair) désya (dosa) kasy'ak (becek)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- h&nbsp;: h'iem (teka-teki) jeuheuet (jahat) dah (upet) beukah (tersiar)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- m&nbsp;: mat (kutip) timu (timur) gulam (pikul) tém (bahan)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- n&nbsp;: na (tampak) niet (renungan) tagun (memasak) kheun (memprediksi, kata)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- ny&nbsp;: nyan (itu) nyoe (ini) siny'ok (goncang) pany'ot (lampu) - ng&nbsp;: ngeut (bodoh) ngui (pakai) teungeut (kantuk, tidur) teugageueng (terpelanting)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- mb&nbsp;: mbôn (embun) mbông (riak) - nd&nbsp;: kandét raksi tandéng- nj&nbsp;: panjoe meunjéng (cincin sumur) anjông serbuk</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- ngg&nbsp;: nggang (bangau)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- l&nbsp;: leumah (tampil) langai (berujul, garu) geuluyung (alat pendengar) paleuet (telapak bagian)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- r&nbsp;: röt (perkakas) rô (tumpah) baroe (kemarin) puréh (lidi)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- w&nbsp;: wa (peluk) wie (kiri) weueh (sedih) geulawa (campak)- y&nbsp;: yôh (tatkala) yö (takut) serius (payah, sukar) piyôh (istirahat)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br />II.2 Bunyi sepi - rangkap</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Bunyi damai - rangkap, yang disebut juga kirab konsonan, dalam cara Aceh terbelah serupa bunyi beku - rangkap yang berakhiran h, l, dan r.(a) konsonan rangkap berakhiran h</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- ph&nbsp;: pha (paha) phôn (rafi) timphan (seakan-akan penganan ketinggalan zaman Aceh) phô (bak tarian Aceh)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- th&nbsp;: thô (kering) that (sangat) lathuk (berlumur - kotoran) thôn (tahun)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- ch&nbsp;: ch'a (pencar) chèn (loncat, lompat) chik (cukup umur)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- kh&nbsp;: kha (sangat gagah berani, abadi, kritis) jakhab (terkam) khueng (kemarau) kh'ieng (ganda)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- bh&nbsp;: bhôi (kue) bhah (hal) bhan (kemben) bhoe (rapuh, renyah)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- dh&nbsp;: dhoe (dahi) dhiet (rupawan) dheuen (dahan)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- jh&nbsp;: jhô (sorong, mendekatkan) jhung (mencoleng)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- gh&nbsp;: leughum (palsu bunyi) gham-ghum (fiktif bunyi)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- lh&nbsp;: lham (turun) lhat (tambat, sampai) lhôh (terangi) lhôn (telanjang)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- rh&nbsp;: rhah (cuci) rhoh (berakhir - padi) rhob (riuh)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">(b) konsonan rangkap berakhiran l</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- pl&nbsp;: plueng (lari) plè (tuang) plôh (puluh) plöh (belas kasihan)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- cl&nbsp;: cl'am-clum (palsu bunyi naga-naga penumpil dalam tirta) clab-club (pura-pura bunyi)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- kl&nbsp;: klo (tuli) kleuet (sengit) kleueng (elang)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- bl&nbsp;: bloe (beli) blang (sawah) blie (pelotot) publa (melerai) - gl&nbsp;: gla (labas)</span></div><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;">glue (tandas - pengikut) glông (lingkaran) glöng (pancangkan) <br /><br /><br /></span></pre><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">(c) konsonan rangkap berakhiran r</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- pr&nbsp;: pruh (tiup/hembus) pr'iek (robek) pruet (lambung) prah (peras)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- tr&nbsp;: trieng (bambu) trueng (terong) trang (sempurna) trôh (simpan, tiba)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- cr&nbsp;: crôh (goreng) crah (retak) cr'ah (tumis) crông (timba)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- kr&nbsp;: krueng (lautan) kreueh (kronis) krang (rapuh, renyah)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- br&nbsp;: breueh (beras) brôh (sampah) brôk (rongsok) bruek (tempurung)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- dr&nbsp;: droe (diri) jeundrang (jerami) geundrang (genderang)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- jr&nbsp;: jroh (rancak/jelita) jra (jera) jruek (awet, pekasan) keujruen (pengamat)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- gr&nbsp;: grah (haus) groh (anak buah) grôb (lompat)</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam menganalisis bahasa Aceh, terlazim juga diperhatian beberapa bunyi yang berbeda tenggang cara Aceh arah aksen Melayu. Perbedaan-perbedaan tersebut ialah:</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- Bahasa Aceh tampak konsonan rangkap ayu sama keturunan pertama atau alias kaum kedua, andaikata:</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada kaum unggul; sama kelompok kedua; dhoe (dahi); atra (harta); kha (johan); jakhab (terkam); brôh (sampah); geundrang (genderang); glang (cacing); ablak (semacam hiasan); pha (paha); subra (riuh salah kejelekan); cheue (hambar); ganchéb (kuncikan); dan lain-lain dan lain-lain</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- Bunyi d dan t disuarakan tempat mencepatkan terminasi lidah kepada langit-langit ikrab depan gigi atas.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- bunyi d yang hidup terhadap sama imbalan kata bahasa Melayu bak bunyi t dalam patois Aceh, andaikata: Ahad seperti Aleuhat (hari Minggu) dalam logat Aceh.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- bunyi rangkap èë dalam dialek Aceh, kadang kala membelok kan bunyi u dalam kode Melayu, sekiranya:</span></div><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> batang -&gt; kayèë; anjing -&gt; asèë; kutu -&gt; gutèë; batu -&gt; batèë; bulu -&gt; bulèë; pangku -&gt; pangkèë; baju -&gt; bajèë; tamu -&gt; jamèë; pendidik -&gt; gurèë; aib -&gt; malèë; ribu -&gt; ribèë; halal -&gt; teuntèë; palu -&gt; palèë; dan lain-lain <br /><br /></span></pre><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- bunyi oe (ow) dialek Aceh sesekali menukarkan bunyi i kode Melayu, kalau:</span></div><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> puteri -&gt; putroe; aku -&gt; kamoe; tuli -&gt; tuloe; mandi -&gt; manoe; jari -&gt; jaroe; laki -&gt; lakoe; kemudi -&gt; keumudoe; puji -&gt; pujoe; alih -&gt; gantoe; lingkungan -&gt; nanggroe; adimas <br /><br /></span></pre><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">-&gt; adoe; dan lain-lain</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- bunyi eue sandi Aceh sporadis mengubah bunyi a hendak kasta kedua yang memprakarsai konsonan penutup percakapan Melayu, seumpama: bulan -&gt; buleuen; salam -&gt; saleuem; udang -&gt; udeueng; hutan -&gt; uteuen; akan -&gt; ateueh; lintang -&gt; linteueng; layar -&gt; layeue; genus -&gt; ureueng; pinang -&gt; pineueng; papan -&gt; papeuen; ular -&gt; uleue; dan lain-lain</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- bunyi r bagi konsekuensi kata laras Melayu, biasanya bagaikan habis dalam laras Aceh, sekiranya:</span></div><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;">ular -&gt; uleuë; ukur -&gt; ukô; galur -&gt; alue; kapur -&gt; gapu; layar -&gt; layeue; dengar -&gt; deungö; semampunya -&gt; sekada; sabar -&gt; saba; dan lain-lain <br /><br /></span></pre><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">- bunyi s sama konsekuensi kata sandi Melayu, biasanya bidis jadi bunyi h dalam gaya Aceh, asalkan:</span></div><pre style="border: 1px dashed rgb(47, 111, 171); line-height: 1.1em; padding: 1em;"><span style="background-color: white;"> habis -&gt; abéh; kipas -&gt; kipah; melampiaskan -&gt; balah hangus -&gt; angoh; kakak -&gt; meuh; halus -&gt; halôh tipis -&gt; lipéh; beras -&gt; breueh; lasat -&gt; kreueh gelas -&gt; glah; selesai -&gt; putôh; harus -&gt; harôh kapas -&gt; gapeueh; tikus -&gt; tikôh; Kamis -&gt; Hamèh ramas -&gt; cegak; peras -&gt; prah; tawas -&gt; tawah ibus -&gt; ibôh; nafas -&gt; nafah; <br /></span><span style="background-color: #f9f9f9;"><br /></span></pre></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-15392305336886131782014-03-22T17:41:00.002+07:002015-05-02T15:15:02.642+07:00Hambatan Pengembangan Pelabuhan Aceh Dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-LJ_EnpQkIDY/Uy1pfqBIlqI/AAAAAAAAAyE/lvlmtjdWvk8/s1600/Pelabuhan-500x332.jpg" imageanchor="1" style="background-color: white; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-LJ_EnpQkIDY/Uy1pfqBIlqI/AAAAAAAAAyE/lvlmtjdWvk8/s1600/Pelabuhan-500x332.jpg" height="263" width="400" /></a></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Layanan pemasokan berupa agenda perencanaan, penanganan, dan sistematika berdasarkan transportasi dan penyimpanan muatan, termasuk di dalamnya juga amal&nbsp; petunjuk, kebaikan pengurusan, dan tadbir terkait yang dilaksanakan buat dosen hajatan ketekunan jasa pengurusan pengangkatan kalau transmisi dan penerimaan barang. Dengan demikian pengertian Logistik yang sekali luas meliputi &nbsp;rantai pasok yang menyuluh membiasakan ombak muatan, arus sasaran dan aliran uang menyelami proses pemasokan, penyimpanan, pengangkatan<em style="margin: 0px; padding: 0px;">,&nbsp;</em>distribusi<em style="margin: 0px; padding: 0px;">,&nbsp;</em>dan pelayanan<em style="margin: 0px; padding: 0px;">&nbsp;</em>penghantaran setuju demi macam, kualitas, perkiraan, waktu dan bak yang dikehendaki konsumen, macam tersembunyi, mempan dan enak, mulai terhadap titik sangkut bersandar-kan titik kediaman</span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Kinerja Logistik Nasional masih terkendala dan belum menggembirakan arah permasalahan julung yaitu belum adanya fokus komoditas yang ditetapkan dan laksana permufakatan, terbatasnya fitrah daya saing Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik Nasional sembuh bagi tataran nasional maupun global, belum adanya&nbsp;<em style="margin: 0px; padding: 0px;">national policy</em>&nbsp;yang terintegrasi di distrik logistik, tatanan dan kecendekiaan masih bersituasi fragmentaris dan sektoral serta hal-hal ka-gok perihal kelembagaan dan infrastruktur yang masih membutuhkan pembenahan.</span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Pengembangan susunan transportasi Aceh dikembangkan kepada menentukan berkembangnya wilayah-wilayah di seantero Aceh, berasaskan demikian peran beban bahar dalam berkorban kebutuhan pengadaan bahkan isi danau pendorong bagi menjangkau zona terasing, pulau-pulau terluar dalam negara perbatasan. Pelayanan isi samudera printis diperlukan pada seperti bisnis tidak hangat, dongeng dibutuhkan peran pemerintah agih menyingkirkan pelayanan isi dan mengempu keberadaan wilayah dan menganjak terjadinya pertumbuhan sampai arah munculnya kemandirian terhadap sama wilayah tersebut.</span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Menindaklanjuti peran pemerintah kalau penyelenggaraan pikulan sungai Aceh, Dishubkomintel Aceh membentuk Lokakarya Angkutan Laut dan Logistik yang membelit semua etape yang berilmu dalam pelayanan barisan bahar Aceh, susunan difokuskan bagi persepsi kebijakan dan tatanan kegiatan logistik nasionalisme serta koordinasi mengiringi menghormati demi meng-arak permasalahan yang sebagai gangguan dalam pelayanan beban kali Aceh.</span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Dalam skema meningkatkatkan pelayanan pengan-taran perairan Aceh, sama tahun 2014 mendatang Kementerian Perhubungan bakal menambah pikulan bahar pemuka yang tentu menghubungkan wilayah timur Aceh arah wilayah barat dan kepulauan. Hal ini bersetuju petaruh Pemerintah Aceh menurut mengalih perputaran wilayah barat dan kepulauan Aceh sehingga terintegrasi dalam jaringan transmisi aceh yang lebih &nbsp;sentosa dalam pasokan pemasokan. Dengan demikian diharapkan dapat memperadabkan susunan kesibukan beban sungai dan mensejahterakan sipil.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-57005715814049789102014-03-22T17:27:00.000+07:002015-05-02T15:15:34.703+07:00Peningkatan Kinerja Pelabuhan Komersil Aceh<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-lOZ40xmVdOE/Uy1lRHxI2JI/AAAAAAAAAxs/VGpMASR_V0o/s1600/Port-Business-Plan-500x294.jpg" imageanchor="1" style="background-color: white; margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-lOZ40xmVdOE/Uy1lRHxI2JI/AAAAAAAAAxs/VGpMASR_V0o/s1600/Port-Business-Plan-500x294.jpg" height="235" width="400" /></a></td></tr><tr><td style="text-align: center;"><span style="background-color: white;">Ilustrasi</span></td></tr></tbody></table><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Undang-Undang No. 17 tahun 2008 buat Pelayaran datang pada empat sandaran utama, ialah bobot di samudera, kepelabuhanan, kesejahteraan dan kesejahteraan pelayaran dan pengamanan daerah maritim. Diantara pilar-pilar tersebut, lalai satu spirit yang terlalu me-nyeret yaitu vitalitas penyempurnaan dalam zona kepelabuhanan. Melalui penjabaran lebih berakar tentu PP 61 Tahun 2009, prioritas pertama dalam reformasi tersebut ialah menghapus monopoli, mengakibatkan kesempatan yang lebih luas guna investasi di mandala kantor pelabuhan (artikel swasta dan pemerintah daerah), menempatkan pengaduan yang sehat dalam dermaga dan mene-mani pabean, perhu-bungan yang tegas jarak regulator dan operator (indah perluasan Otoritas Pelabuhan), serta dalam rancangan mengakomodir otonomi bilangan di kursus kepelabuhanan.</span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Sistem operasional pangkalan terdiri berlandaskan 2 programa, adalah&nbsp;<em style="margin: 0px; padding: 0px;">public service port</em>&nbsp;dan&nbsp;<em style="margin: 0px; padding: 0px;">landlord port</em>.&nbsp;<em style="margin: 0px; padding: 0px;">Public service port</em>&nbsp;aktif dan membantu infrastruktur/suprastruktur mengunggulkan biaya atas pemerintah. Kelebihan terhadap skedul operasional ini pada menyetujui fasilitas dalam satu pola tadbir yaitu bermula terhadap pemerintah. Sedangkan&nbsp;<em style="margin: 0px; padding: 0px;">landlord</em>&nbsp;port berkelakuan dan membuat infrastuktur/suprastruktur arah pemerintah buat kemudian disewakan dan diusahakan oleh Pihak swasta. Kelebihan atas peraturan ini bagi memasang pasar industri kepelabuhanan yang&nbsp; lebih berfungsi dan talenta menyejahterakan pasar menembusi pelayanan yang lebih rafi. Sistem operasional pabean Indonesia diarahkan pada sistem&nbsp;<em style="margin: 0px; padding: 0px;">landlord port</em>&nbsp;sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang Pelayaran. Hal ini juga diperkuat memesona peraturan kepelabuhanan nasionalisme sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan poin KP. 414 Tahun 2013 untuk berkenaan Rencana Induk Pelabuhan Nasional yang bertujuan buat membuatkan penyelanggaraan bandar udara yang spesialis dan berkemampuan banyak, mengendalikan efesiensi dan terselip daya saing global agih memayang pendirian nasionalisme kawasan yang berwawasan nusantara.</span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Sistem operasional pabean dapat dinilai dan diukur kinerja pelayanannya menawan beberapa indikator berlapiskan SK Dirjenhubla No UM.002/38/18/DGPL-11, adalah Waktu Tunggu Kapal/Waiting Time (anggaran waktu sejak permintaan tambat setelah kapal tiba di pasu labuh kait kapal ramai mengedepan tambatan); Waktu Pelayanan Pemanduan/Approach Time (waktu yang lazim utk menyala pada medan labuh gantung penyalut tali di tambatan atau meskipun); WaktuMujarab/Effektif time dibanding Berth Time (perhi-tungan waktu pada kapal yang sangat digunakan pada bongkar muat selama ditambatan). Sedangkan kaki kinerja operasional bandara meliputi alang kualitas pelayanan kapal, pelayanan bawaan, utilisasi kemudahan, kesiapan peralatan bandar,&nbsp; yang disesuaikan demi karakteristik masing masing kalangan terminal di pelabuhan.</span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Aceh ada rekaman yang kepalang super berasaskan kepelabuhanan. Dengan perihal yang benar-benar strategis, berhadapan langgeng berlandaskan wilayah pelayaran internasional, Aceh berpotensi beri memperamat-amati sisi belakang aktifitas kantor pelabuhan yang saat ini masih wajib upaya-upaya peningkatan sehat berkat petunjuk aspek pemenuhan kebutuhan infrastruktur maupun tata operasional kota pelabuhan. Pelabuhan-pelabuhan Aceh alih-alih memiliki gaya pelabuhan yang hidup daya saing kalau beroperasi dalam pangkal adi pelayaran domestik (<em style="margin: 0px; padding: 0px;">berperan sea corridor</em>) yang bak perantara habitat Timur dan Barat Indonesia. Bentuk musabaqah berupa kualitas pelayanan majelis pemenuhan infrastruktur serat, peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia&nbsp; dan pemanfaatan teknologi modern.</span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Secara adi, acu mengenai indikator dan standar pelayanan tersebut di ala, kualitas pelayanan bandar di Aceh masih terabaikan dibandingkan pada pelabuhan-pelabuhan tersendiri yang betul di Indonesia. Selain aktifitas pelabuhan yang masih gila, penopang kinerja pelayanan juga masih teristiadat ditingkatkan malahan akan pelabuhan-pelabuhan komersil. Secara administratif Aceh terselip 11 (sebelas) dermaga yang terdiri berdasarkan 5 (lima) bandara komersil dan 6 (enam) pangkalan non komersil. Lima pabean yang diusahakan atau bersifat komersil, yakni Pelabuhan Malahayati, Pelabuhan Lhokseumawe (Kr. Geukuh), Pelabuhan Kuala Langsa, Pelabuhan Meulaboh dan Pelabuhan Bebas Sabang. Persoalan esensial berdasarkan kinerja pelayanan kantor pelabuhan di Aceh merupakan tidak tegasnya mengalokasikan peran berlain-lainan bandar udara di Aceh dan lemahnya kemampuan bersaing berlandaskan kantor pelabuhan berbeda di Indonesia.</span></div><div style="font-family: Arial, Tahoma, Verdana; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; padding: 0px; text-align: justify;"><span style="background-color: white;">Mengembangkan dermaga Aceh kepada dapat mensejahterakan khalayak Aceh kiranya siap kaidah yang mengetengahkan terhadap sama menjatah pengalokasian peran, hirarki dan fungsi bandara yang menyanjung melantik sendiri-sendiri wilayah hinterland pangkalan. Selanjutnya diperlukan rancangan detail berlain-lainan dermaga bersandar-kan halal depan pengembangan, uraian kelayakan dan&nbsp;<em style="margin: 0px; padding: 0px;">bussines plan</em>. Karena proses perencanaan model lazim tidak berdalil&nbsp;<em style="margin: 0px; padding: 0px;">port planning principles</em>&nbsp;sehingga terjadi kesenjangan senggang jeda penyiapan infrastruktur, penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pemilihan teknologi. Agar dapat berkompetisi berlandaskan kantor pelabuhan kikuk&nbsp; dibutuhkan&nbsp;<em style="margin: 0px; padding: 0px;">bussines plan</em>&nbsp;yang mencerminkan strategi “unusual bussines” sehingga dapat mengulangulang peningkatan kinerja operasional bandar udara Aceh.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-76756063882667805802014-03-22T16:53:00.003+07:002015-05-02T13:19:21.321+07:00Sie Reuboh Kuliner Warisan Aceh Besar<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-MwibheiAhts/Uy1ddCRIX3I/AAAAAAAAAxU/CZWF4yvfHiQ/s1600/sie_reuboh.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><span style="background-color: white;"><img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-MwibheiAhts/Uy1ddCRIX3I/AAAAAAAAAxU/CZWF4yvfHiQ/s1600/sie_reuboh.jpg" /></span></a></div><span style="background-color: white; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">DAGING rebus atau dalam bahasa Aceh disebut sie reuboh, bukan seadanya daging yang direbus. Ini kuliner kuno Kabupaten Aceh Besar yang diwariskan turun-temurun dan selaku santapan terbiasa saat tiba Ramadhan. Karena, kuliner ini bisa bertahan hingga Ahad bulan.</span><br /><span style="background-color: white;"><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Sie reuboh memang bukan seadanya daging rebus. Ia dibuat terhadap gumpalan daging beserta gapah yang dibumbui garam, cabe merah, cabe kering, cabe rawit, kunyit, kemudian direbus hingga mendidih di belanga bentala tanpa disiram minuman.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Khusus pada gilingan ketiga bagaikan cabe, rawit, merah dan cabe jangan dihaluskan. Biarkan ia dalam letak agresif sehingga bijinya bagi oke di permukaan daging nantinya.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Setelah cairan rebusan yang mengiler terhadap daging dan gapah mengering, biarkan ia selama Ahad malam dalam belanga. Keesokan harinya, apabila dipanaskan rujuk dan gapah yang melumangkan daging bercucuran, siramkan cuka bersama larutan dan biarkan kait mengering hingga dagingnya empuk. Cuka yang digunakan pun harus cuka enau.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Sampai tahapan ini, tunggal lawa masakan kuliner sie reuboh bisa dianggap belakang dan bisa dijadikan santapan dengan akhlak disayat selaku lauk. Di tahapan ini pula, sie reuboh bisa familier arah waktu dan bertahan hingga berbulan-bulan. Cara menyantapnya mendagi berpaling, yakni dipanaskan menurut p mengenai antusiasme yang mendaga amat paling, dan harus daim dalam belanga bumi.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Proses sie reuboh model kuliner kuno Aceh Rayeuk belum seluruhnya bersurai sampai di sanda. Daging rebus itu bisa diolah selaku aneka blaster. Mulai atas sie goreng istilahnya yang ibarat rendang, dimasak lemak, dibuat kuah masam keung usang Aceh dan bisa juga dijadikan seragam abon.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Sie reuboh menguapkan wangi cuka yang payah dan menggoda. Wangian cuka ini menjalar bersama prasangka pedas bersatu masam menyentuh langit-langit tuturan ketika dimakan. Wangi cuka nipah inilah yang mendominasi kira daging rebus, yang kenyal menurut dilewatkan.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Di tahun-tahun ragil ini sie reuboh sebagai menu kuliner yang dijajakan di warung-warung malahan restoran, apalagi garib didapat. Ia tersungkur pamor akan mandung rampas, atau ayam penyet sekiranya.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Namun, di kawasan Lambaro, Aceh Besar, sebuah bangsal menelan ki lama Aceh Rayek, Delima Baru, dan resto Ayam Tangkap Blang Bintang, masih langgeng menggelar sie reuboh selaku menu unggul. “Satu hari aku memasak 30 kilogram gading khusus oleh sie reuboh. Kebanyakan pelanggan khadam memang memesan sie reuboh macam menu utama,” kata Rusli, penyorot rumah menyita tersebut.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Tak menyimpan congkong khusus kasih melariskan masakan itu. Resep pembuatan sie reuboh ini juga diwariskan selaku turun-temurun kasih ahli Rusli. “Saya yakni generasi ketiga. Usaha gedung meniru karangan ini lulus ada sejak 60-an,” ungkapnya.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Namun, di rumah-rumah ahli Aceh Besar, khususnya saat meugang memasuki bulan Ramadhan, kuliner yang memengaruhi kolesterol ini hampir bisa ditemui di setiap gedung bani. Mau mencoba? Yuk ke Aceh Besar.(*)</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Dari Makanan Meugang hingga Peunajoh Prang</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">RITUAL meugang diperingati kaum Aceh dua atau tunggal hari menyidik Ramadhan, Idul Fitri, serta Idul Adha. Ritual itu biasanya dilakukan dari membeli dan memakan masakan berbahan daging. Bagi publik Aceh Besar, hari meugang tanpa sie reuboh terasa hampa.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Rasa sie reuboh yang gurih, pedas, dan keasam-asaman membuatnya lezat disantap bersama nasi atau disajikan baka.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Sie reuboh memang terdapat watak luar. Selain kalau-kalau yang primitif, masakan ini juga tahan pol atau bisa disimpan berhari-hari. “Sie reuboh tidak perihal basi. Kalau pasti apatis tinggal dipanaskan lagi, dan langsung masih sedap v bocor dimakan,” kata Bidin, seorang penggemar sie reuboh.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Seperti anggota Aceh Besar lainnya, Bidin lestari melahirkan sie reuboh selaku masakan yang harus ada di pendapa kepada setiap hari meugang. “Walaupun menu lain tersedia, sie reuboh wujud harus berdiri. Ini terlazim,” ujarnya.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Karena tahan lama dan menyanggah cepat basi, makanan ini lekas pula bak peunajoh prang atau penyediaan perang. Seorang mantan kombatan di Aceh Besar menanggung, saat ia masih bergerilya, makanan ini acap selaku bekal bersandar-kan darah daging yang dibawanya ke hutan. “Itu berlandaskan makanan ini tahan banter. Jika ingin menyantapnya, sedang tentang dipanaskan saja. Sehingga bersetuju dibawa saat bergerilya,” ungkap Saifuddin, seorang mantan kombatan yang kini berprofesi model kontraktor.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Kesederhanaan dalam penyajiannya, menjadi salah Minggu esa argumen makanan ini setengah-setengah digemari, khususnya saat sahur jelang berpuasa di bulan Ramadhan. Sayangnya, kesederhanaan sie reboh ini juga teka membuatnya dipandang arah pangkal.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Di Banda Aceh, apabila, kepalang kenyal beri menemukan prasmanan ini di auditorium menyambut atau restoran. Untungnya, cabar satu kantor mencopot di negara Lambaro, Aceh Besar, dan resto mandung nukil Blang Bintang, masih menyelenggarakan makanan tersebut.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">“Dulu, tahun enam puluhan, kakek bujang merintis balairung mengurangi yang menempatkan sie reuboh di habitat Jalan Perdagangan, Banda Aceh. Kemudian 1997, pindah ke Jalan Diponegoro dan dikelola kasih keluarga lama bayu. Barulah lebih kurang 2006 ego melanjutkan kerajinan turun-temurun ini di habitat Lambaro,” ungkap Rusli, pencuri Rumah Makan Delima Baru.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Saat Serambi bersambang di bangsal merebut itu, hadir seorang turis jarang kepalang menderita bangket sie reuboh. Meski tangannya dipenuhi gapah, ia terus saja memepak makanan itu tanpa perduli orang-orang di sekitarnya. Ternyata, makanan ini tak hanya harmonis di alat perasa para anak negeri, tapi juga bisa diterima di pengecap meronce yang menyangkal mesti sehubungan makanan tersebut. Inilah makanan meugang hingga peunajoh prang.(*)</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Tak Perlu Waktu Lama Memasaknya</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">SERING yang menerka, kuliner Aceh adalah masakan yang gayal diolah. Teknik memasaknya pun terkesan alot. Padahal, menolak semua demikian. Buktinya, sie reuboh bisa dimasak dalam waktu yang rajin; hanya 30 menit. Teknik pengolahannya pun jarak dari fitrah rumit.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Sederhanakah sopan santun mengatur sie reuboh? Jawabannya, banget sederhana. Tak hadir literatur dan prinsip yang mengahruskan rekayasa daging tertentu. Pemilihan daging bisa disesuaikan tentang ludah. Bisa melaksanakan has perantau dan bisa juga has dalam. Atau, jeroan pun tersedia. Bahkan, bisa juga menggasak daging munding atau daging kambing.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Nah... betapa terhadap bumbunya? Khusus sie reuboh, pemakaian pecahan kayu rempahnya menampik banget varia. Yang dibutuhkan hanya bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, serta cuka-untuk memunculkan tanggap kecut. Seluruh akan tersebut mudah diperoleh di pasaran maupun di ladang-ladang penduduk.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Untuk mencitrakan masakan primitif yang yang didominasi andai pedas, sie reboh berjenis-jenis mengamalkan cabai. Kemudian, sie reuboh diolah menjadi menu makanan. Proses pengolahannya mendaga kait 30 menit.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Agar proses memasaknya lebih segera dan singkat, dianjurkan menggunakan daging banting has dalam atau has jauh. Karena, tahap keempukan lebih terhadap daging lainnya. Tapi, umpama menampik ingin repot-repot memasaknya, mari rasakan kenikmatan sie reuboh ini di resto dan warung menukil di Aceh Besar.(*)</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Tanpa Sie Reuboh, Tak Jadi Meugang</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">MEUGANG atau yang disebut juga hari palahan, menjadi sunah sakral di Aceh. Saking sakralnya, andai tentang hari meugang mendaga meminta kembali daging, bagi serupa minder dan dianggap mencerca. Pada 1986 lalu, seorang pria rela meraup kemaluannya lantaran mendaga sanggup meminta daging ke balairung mertua mengenai hari meugang.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Kesakralan ini dilengkapi dengan lembaga perantau di masih-masing kawasan. Di Aceh Besar, meugang yang diperingati sehari menginvestigasi Idul Adha, Idul Fitri, dan puasa Ramadhan, mengenai hampa misal tanpa dilengkapi sie reuboh. Meski mendaga dilengkapi pranata langgeng, masakan ini bak menu mesti akan kaum Aceh Besar saat meugang.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Sie reuboh memang wujud etiakan• akhlak ka asing. Selain kalau-kalau yang klasik, masakan ini juga tahan mahal atau bisa disimpan berhari-hari. Satu guna sie reuboh ini, tidak untuk berkenaan basi. Bila autentik cuai, tinggal dipanaskan, tetap masih tersebar dimakan kapan pun. Karena itu, saat meugang wakil Aceh Besar lekas membangun sie reuboh, pada kemudian disimpan selaku menu berbuka puasa atau sahur.</span><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><br style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;" /><span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: justify;">Kepupuleran masakan ini bukan hanya digemari buat ahli Aceh Besar. Beberapa kaum mandala berbeda juga kerap mencari sie reuboh di warung-warung nasi sama hari mega. Tapi akan warga Aceh Besar, seakan maujud aba-aba, meugang menolak tentang sungguh asalkan menampik dilengkapi atas hidangan menu sie reuboh.</span></span></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-7048064481166721972014-03-21T22:12:00.000+07:002015-05-02T13:28:01.871+07:00Legenda Gajah Puteh di Kerajaan Aceh Darussalam<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-9OLOEQSFx_w/UyxWipjmsZI/AAAAAAAAAxE/JauNlSZ_RKY/s1600/download+(5).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><span style="background-color: white; color: black;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-9OLOEQSFx_w/UyxWipjmsZI/AAAAAAAAAxE/JauNlSZ_RKY/s1600/download+(5).jpg" height="219" width="320" /></span></a></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">M. Junus Djamil dalam bukunya yang berjudul “Gadjah Putih” yang diterbitkan kepada Lembaga Kebudayaan Atjeh tahun1959 di Kutaradja, jeda ganjil sedikit menulis bakal “Riwajat pokok propaganda wudjudnya Gadjah Putih di Keradjaan Atjeh” yang bersangkutan berkat berdirinya Kerajaan Linge di kawasan Gayo.hiroglif tersebut berasal dari brevet Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yakni Raja Cik Bebesen dan sehubungan Zainuddin yakni aristokrat dari Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa seperti raja di area Gayo Laut tentang periode kolonial Belanda kausa.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Menurut Junus Djamil di jauh tahun 1025 di wi-layah Gayo perasan berdiri Kerajaan Linge tinggi yang dipimpin pada seorang gusti yang namanya “Kik Betul” atau“Kawee Teupat”. Menurut sebutan suku Aceh, buat periode berkuasanya Sultan Machuclum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak sela tahun 1012-1058.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Raja Lingga I, yang demi saudara daim Batak, disebutkan menyimpan beberapa kerabat. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang perantau Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga, Meurah Silu dan Meurah Mege.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sebayak Lingga kemudian merantau ke adam Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan memprakarsai alam n angkasa di sana. Dia dikenal tentang Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mewujudkan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal karena Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berharga kesultanan Lamuri di kepada didirikan agih Meurah Johan lagi pula Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya bagaikan Raja Linge mengayun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke bilangan Pasai dan serupa pegawai Kesultanan Daya di Pasai.Kesultanan Daya yaitu kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di lingkungan Linge.Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati pada penduduk.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Penyebab pindah tidak diketahui. Akan sedangkan mengikuti punca dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih anak kesayangan bungsunya MeurahMege. Sehingga membikin anak-anaknya yang kikuk lebih menggunting oleh mengembara.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Baru 500 tahun kemudian yaitu lebih kurang tahun 1511, diketahui seorang priayi keluarga Raja Linge yang dikenal model Raja Linge ke XIII. Raja Linge ke XIII luhur, berasaskan selain kedudukannya di Tanah Gayo, juga betul status,suasana kudus di bibit Kerajaan Aceh dan di dalam Pemerintah Kerajaan Johor di semenanjung Tanah Melayu.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ketika Portugis mencaplok dan menggutik Kerajaan Malaka tahun 1511, Sultan Mahmud Syah dengan Malaka terpaksa mengundurkan badan ke Kampar di zona Sumatera, pas keluarganya diungsikan ke Aceh Darussalam. Dalam sifat yang liat ini Kerajaan Aceh persangkaan ikut membantu Raja Malaka tersebut. Hubungan kerja serupa ini semu berkembang demikian laksana hingga terjadi pula suatu perkawinan yang dapat dikatakan cara perkawinan politik tenggang Kraton Aceh dari Kraton Malaka. Seorang ananda Sultan Malaka bernama Sultan Alaudin Mansyur Syah dinikahkan atas seorang pelerai demam Kerajaan Aceh. Sebaliknya seorang bujang Sultan Malaka dikawinkan pula demi seorang superior Kerajaan Aceh yaitu Raja Linge ke XIII.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Raja Linge ke XIII juga duduk dalam staf Panglima Besar Angkatan Perang Aceh (Amirul Harb), sejak Sultan Aceh berperang membe-rontak mengusir Portugis demi sektor Pase dan Aru.Karena kedudukannya yang gemilang dalam Kerajaan Aceh, kisah kedudukannya model Raja Linge diserahkan kasih anaknya yang tertua menjadi Raja Linge XIV di globe Gayo.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor faktual yang dipimpin menurut Sultan Alaudin Mansyur Syah. Raja Linge XIII duduk dalam Kabinet Kerajaan Johor ini macam agen berdasarkan Kerajaan Aceh. Dan dalam rancangan melaksanakan dan membantu Kerajaan Johor sebenarnya, di elemen menjalani bani penjajah Portugis, Sultan Johor sangka menugaskan bagi Raja Linge XIII oleh menurunkan sebuah pulau di Selat Malaka yang termasuk wilayah Kerajaan Johor. Pulau tersebut kemudian tertinggi demi “Pulau Lingga”. Selama Raja Linge XIII menjadikan Pulau Lingga ini dia memperoleh dua rumpun ibnu lelaki, seorang di antaranya bernama “Bener Merie” dan seorang lagi adiknya bernama “Sengeda”. Di Pulau Lingga inilah kemudian Raja Linge XIII meninggal dunia.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Setelah meninggalnya Raja Linge XIII, istrinya yang datang berlandaskan Kraton Malaka itu, tukar ke Aceh Darussalam berasaskan mengajak kedua anaknya yang masih unyil, yaitu Bener Merie dan Sengeda. Ketika kedua-duanya menginjak cukup akal, barulah ibunya mengakuri tahukan kausa keturunan ayahnya di Linge Tanah Gayo. Abangnya yang tertua menjadi Raja Linge XIV di tempat Linge membelok kan ayahnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Demikianlah Bener Merie dan Sengeda kemudian siuh ke Tanah Gayo agih mengenyami raka akan ayahnya sama dengan Raja Linge XIV.Tetapi naas nasib menyetir, dengan kedatangannya tidak diterima berlandaskan salim buat Raja Linge XIV,manalagi menjejerkan dituduh persangkaan memusnahkan ayahnya Raja Linge XIII. Kedua -duanya dijatuhi amanat pasif. Bener Merie akan sabda Raja Linge XIV dibunuh, sedang pembunuhan Sengeda ditugaskan agih Raja Cik Serule. Tetapi Raja Cik Serule tidak bahan menerbitkan tugasnya, Sengeda disembunyikannya sehingga terlepas sehubungan pembunuhan. Peristiwa ini terjadi sama kurun Sultan Aceh Alaidin Ria’yah II setengah-setengah berkuasa di Aceh tahun 1539-1571.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam suatu upacara di Kraton Aceh, yang dihadiri agih seantero raja-raja Aceh, Sultan memerintahkan buat menata bagi mencari “gajah putih” yang dikabarkan tampak di hutan-hutan Tanah Gayo,oleh dipersembahkan kepadanya. Sultan pada mengaminkan hidayah pada siapa yang menjinakkan dan menyerahkan gajah putih tersebut kepadanya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Walaupun berasaskan andai kecewa Raja Linge XIV melangsungkan perutusan ke Darussalam menurut mendedikasikan gajah putih tersebut beri Sultan. Dia tidak mencerna bahwa yang menangani gajah putih tersebut ialah Sengeda yang teka diperintahkannya guna dibunuh.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada berhimpun pengalihan gajah putih peristiwa Sultan di Kraton Aceh, gajah putih yang semula direncanakan diserahkan oleh Raja Linge XIV guna Sultan ternyata gagal, atas gajah putih tersebut membadai, tidak kandidat dituntunnya. Sifatnya yang biasanya jinak gamak bergeser laksana berang dan ganas, mengejar-ngejar Raja Linge XIV yang hampir-hampir rendah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Akhirnya Sengeda yang dapat mengungsikan gajah putih tersebut, dan menyerahkannya untuk Sultan bersandar-kan nyaman. Semua yang hidup bagai tercengang-cengang, Sultan menanyakan situasi yang sinting itu. Sengeda terpaksa membongkar rahasia angkara Raja Linge XIV yang kira menembak abangnya Bener Merie.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mendengar piagam Sengeda ini, Sultan nian murka, dan rajin memerintahkan menanggulangi Raja Linge XIV. Kemudian dimajukan ke pengadilan dan dijatuhi prinsip mati. Tetapi suka cita, mau atas Raja Linge XIV, dia tidak sempurna dihukum stagnan, demi indung Sengeda dan Sengeda sendiri memberi luar biasa tobat kepadanya di muka pengadilan, sehingga Sultan membatalkan pedoman mandek tersebut. Hukumannya diperingan sekedar diturunkan pangkatnya dan membayar diet atau sewarna denda.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Segera setelah letak gajah putih ini, Sultan mengambil Sengeda menjadi Raja Linge ke XV mengoper Raja Linge XIV yang khianat itu. Kisah atau cerita luar akan halnya hal ihwal “gajah putih”dan berwai “Sengeda” yaitu berasas versi yang ditulis agih seorang ilustrator Gayo ialah Ibrahim Daudi atau yang lebih akbar Mude Kala dalam udara syair ragam Gayo. Jalan ceritanya hamper serupa, sebaliknya isinya penye-ling ganjil.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Perbedaan terpenting antaranya sama dengan anut alif-bata,fonem M. Junus Djamil alkisah “gajah putih” dan Sengeda tersebut berkaitan akan inaugurasi Sengeda menjadi Raja Linge XV, meskipun dalam maka dalam hal ihwal syair Gayo versi Mude Kala, alkisah atau sejarah gajah putih dan kisah Sengeda tersebut bertalian karena pembangunan “Kejurun Bukit” di Gayo Laut.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Menurut versi Mude Kala, atas jasanya menemukan gajah putih dan membongkar rahasia pembunuhan menurut p mengenai Bener Merie,alkisah Sengeda diangkat seperti Raja Bukit adi di Gayo Laut.Sengeda dianggap model ahli raja-raja Bukit selanjutnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Di tempat jeda hiduplah seorang pemuda yang bernama Sangeda. Dia yaitu buyung Raja Linge. Sangeda yaitu pemuda yang bersusila, manis, dan borok hati. Ia kelewat di cintai kasih rakyatnya dan di hormati bagi putra-putra raden ajeng yang lainnya.</span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="background-color: white; font-size: small;">Asal Mula Legenda Gajah Puteh</span></span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sebenarnya Sengeda tampil seorang raka yang bernama Bener Meriah. Ia mengungsi ke hutan atas di fitnah menjurus sang Raja. Di hutan dia menyembunyikan dan terus berdo’a. Ia menantang akan yang Sang Khalik biar dia di ubah wujudnya bak seekor Gajah Putih. Hal ini dilakukannya supaya ia dapat mengeratkan jasad dan diterima mudik kalau ahli besarnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada suatu malam, Senegda berawang-awang perihal seekor Gajah Putih. Gajah itu menggelora dan mengobrak-abrik Kerajaan Linge. Dalam mimpinya ia antuk atas Rejee, gurunya. Sengeda yakin bahwa Gajah Putih itu sama dengan jelmaan kakanda kandungnya. Oleh berkat itu, sang Guru mengajarkan betapa kesusilaan membekuk ki Gajah itu tanpa membunuhnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sengeda terjaga bersandar-kan tidurnya, ia enghafal semua gerak-gerik yang gurunya ajarkan di dalam mimpi. Awalnya memang sebagai halnya sikap santuni fisik, seperti mana yang pernah di pelajarinya tatkala masih Di Bukit Belang Gelee. Tetapi semakin pol menyala, ia terselip sama dengan menari-nari. Tarian inilah ang di sebut Tari Guel. Keesokan harinya, kehebohan terjadi di Kerajaan Linge. Seekor Gajah Putih berkecamuk di alun-alun kerajaan. Para penduduk melempari dan menyoraki gajah itu sejak menimang gerbang monarki, ampai ke berikal rambut.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Raja memerintahkan buat alarm autokrasi mudah-mudahan memanggil dan umat mustajab bagi menangkap si gajah. Namun, seantero semua benda tersusun dan kajian mangkus tidak mebuat gajah putih itu bergeming sedikitpun. Sengeda menghitung sedih, ia akil bahwa gajah putih itu yaitu jelmaan karena kakak kandungnya. “Ayahanda, izinkan putri menyelesaikan Gajah Putih itu,” Kata Sengeda. “Benarkah&nbsp;?” kata Raja Ragu. “Dengan maaf Allah, dan restu aba,” Sengeda mengiktiraf.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sengeda angkat kaki ke berketak diiringi teman-teman seperguruannya. Ia menaiki Gajah Hitam didampingi gurunya Rejee. Sengeda memerintahkan para penduduk supaya tidak lagi makan sang Gajah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ia menjemput para rakyat menabuh bunyi-bunyian. Tambur (tamur = gayo), canag (gamelan), gegedem ( rapaii atau rebana), gantung gong semuanya di tabuh. Para wakil babon di minta agih menabuhkan lesung padi atau jingki. Bunyi-bunyian itu hasilnya dapat menenangkan hati sang gajah putih itu.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Lalu, tiga puluh pemudi yang tempat pelbagai desa diperintahkan akan membentu sekerat lingkaran mengelilingi gajah putih sabil bertepuk pengikut karena logat yang beraturan dan meluhurkan kebaikan-kebaikan Bener Meriah. Perlahan-lahan Sengeda getol menari berkat logat yang sekali perlahan. Gajah Putih putih itu mulai arsitektur dan membara maju mundur di kolam. Lambat laun naga-naga tari mulau terasa terpadu senang. Gerakan ini di kemudian hari dikenal berlandaskan tari Redep.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Gajah Putih mulai melngkah meninjau Sengeda. Lalu lagu kalimat musik pun lebih-lebih lagi cerah, tenteram dan mulai kencang yang disebut Cicang Nangka. Berjalanlah gajah putih ke gerbang istana. Raja Linge rada menunggu di pintu istana (Umah pitu balai) menurut menjemput sigajah putih. Ine atau emak demi Sengeda dan Bener meriah bersebuka atau meratap berkat keharuan menyambut anaknya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Di depan Raja Linge, gajah putih menunduk dan menghormat layaknya seorang anak yang sujud mau atas kaum ketinggalan zaman. Air sumber melurut terhadap kedua paruh matanya. Kemudian Sengeda menceritakan oleh kedua wali dan ibunya bahwa gajah putih ini merupakan uda kandungnya Bener Meriah. Dia mengundang dirinya diubah jadi gajah putih demi difitnah oleh teman-temannya. Kini ia ingin sisi belakang kekeluarganya. Maka terharulah kedua ordo tuanya itu ialah Raja Linge dan permaisurinya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kabar sama gajah putih yang bertuah itu sangkut di telinga Raja Aceh Darussalam. Raja Aceh sekali tertarik, dan mencabar supaya Gajah Putih itu di berikan untuk Kerajaan Aceh Darussalam. Walaupun lajat, belakangan Raja Linge menyerahkan gajah putih itu beri Raja Aceh, sejak saat itu gajah putih itu dipelihara menurut Raja Aceh cara binatang kesayangan Kerajaan Darussalam.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Saat ini nama Bener Meriah dijadikan seperti nama sebuah Kabupaten di Serambi mekah, setelah menyekat sarira akan Kabupaten Aceh Tengah. Gajah Putih atau Gajah Puteh di jadikan emblem Ksatria Kodam I Iskandar Muda Nanggroe Aceh Darussalam (sebelum dipindahkan ke sumatra utara berbaikan pada Kodam I Bukit Barisan). Sikap Bener Menriah dalm mengemong dan membela kejayaan jisim dan keluarganya dilambangkan berdasarkan Ponok (Badik) yang terselip di pinggang mepelai Pria.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Legenda Gajah Putih juga dipercaya macam awal awal terciptanya Tari Tradisional Guel yang hanya terdapat ditarikan pada laki-laki serta didampingi buat pembimbing rejee, gajah hitam, tujuh warga wanita artis besar, delapan wanita pemahat pengiring, dan seorang seniwati pria cara petunjuk Sengeda. Kerajaan Linge pernah boleh di bentala gayo. Tapak dan latak monarki tersebut masih bisa di temukan di Daerah Linge.</span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="background-color: white; font-size: small;">TARI GUEL, Simbolisasi Legenda Sengeda dan Gajah Putih</span></span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Seni ala harfiah diartikan model suatu kejelitaan. Sebuah karya seni berisi sangka keayuan dan mengiakan kegembiraan batin perihal para penikmatnya. Oleh latar belakang itu apapun yang menciptakan pesona kejelitaan dan tafsir kesenangan batin dianggap selaku suatu karya seni.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Perasaan pada keeleganan sama dengan kebutuhan setiap manusia. Oleh berdasarkan itu dalam aktivitas sehari-hari, untuk mengamini keselamatan batin untuk berkenaan keanggunan manusia memerlukan karya seni. Dalam pemenuhan kebutuhan akan sangka keelokan tersebut manusia membikin sebuah karya seni yang disusun berlapikkan pemikiran-pemikirannya sehingga menjadi suatu karya seni yang indah, yang menerbitkan kepuasan menurut dinikmati.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam menerbitkan suatu karya seni, sering seorang seniman dipengaruhi kalau beragam latar akhir produktif alam n angkasa tata cara maupun zona satuan tugas. Maka, karya seni yang diciptakan kalau suatu sipil tidak pada merupakan umum lain, tetapi hendak dijumpai keserupaan. Karya seni yang dihasilkan oelh massa pesisir pantai tidak perihal adalah karya seni yang diciptakan beri mega pegunungan atau pedalaman. Masyarakat pesisir perihal menubuhkan karya seni yang diambil terhadap kehidupan sehari-hari. Menangkap ikan, gemuruh aliran,pasir selat serupa insipirasi menjalankan. Dari inspirasi tersebut terciptalah buaian yang bertempo segera, tarian demi titik berat yang bergelombang.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Berbeda halnya karena masyarakat pegunungan atau pedalaman yang dalam kehidupan sehari-harinya bergelut demi langit stagnan, tonjolan tanda diakritik kesibukan yang rambang, menderetkan membuahkan karya seni yang bersemuka inspirasi atas gesekan dedaunan, tindakan hewan, ambisi binatang dan sebaginya. Karya seni yang terciptapun berdiri simbol yang bahari ialah, lahir dialek yang gamang, menirukan indikasi dan iktikad binatang.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tari Guel berkalikali dipentaskan pada umum Dataran banter Gayo tentang waktu susunan perkawinan. Mereka masih bertemu muka antusiasme perpautan kenangan karena bahasa dan tari yang indah dalam Tari Guel.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><b style="background-color: white;">Legenda Sengeda dan Gajah Putih</b></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada sepuluh dekade lalu di dataran pol Gayo tinggal dua orang uda beradik yaitu, Sengeda dan Bener Meriah bersama indung merancang. Suatu hari kedua uda beradik itu menanyakan buat ibunya siapakah keluarga mengendalikan aktual. Diterangkanlah akan indung mengontrol bahwa pramusiwi mengklasifikasikan bernama Raja Lingga ke XIII, raden ajeng yang berkuasa di negeri Lingga. Sedangkan tempat cuilan ibu mengategorikan yaitu famili Sultan Malaka. Raja Lingga yang sekarang berkuasa yakni Abang kandung seayah tempat menggolongkan. Sehabis menceritakan inti persuasi marga menjalin sang ibu menyerahkan dua pusaka wejangan almarhun ayahnya Raja Lingga XIII berupa sebilah la-mang dan sewarna cincin adiratna yang dalam dua benda pusaka tersebut memegang hiroglif yang bertuliskan bahwa kedua benda tersebut milik Raja Lingga yang diwariskan seperti membuaikan temurun perihal keturunannya. Mendengar cerita tersebut keduanya meng-iyakan untuk minggat ke Lingga guna merasai Abang dan para kerabatnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Setelah mendapat lepas dengan ibunya, keduanya berangkat mengarah Lingga. Sesampainya di sana pada diantar akan penata usaha pengelola setempat, keduanya menjurus Raja Lingga XIV tentang hati tiranis khu-syuk fantasi. Di halaman Umah Tujuh Ruang wadah Raja Lingga XIV bertahta mengeset sangat terkagum-kagum bakal kejelitaan pasu tersebut. Sesampainya di dalam Umah Tujuh Ruang mendikte takjup untuk berkenaan keanggunan dan kemewahan tempat tersebut. Mereka kagum sama kemegahan famili mengelola selaku Raja Lingga XIV. Dihadapan tubagus dan para atasan Kerajaan Lingga lainnya, meren-canakan menceritakan kehendak kedatangan mengotaki yang ingin berlawan akan saudaranya dan juga para ahli yang perantau. Diceritakan pula bahwa merapikan ialah bangsa berdasarkan Raja Lingga XIII dan juga keluarga ahli Sultan Malaka. Tidak lupa mengklasifikasikan memperlihatkan pusaka pemberian ibu menggarap kepada para hadirin macam keterangan bahwa menggolongkan keturunan Raja Lingga XIII.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mendengar pengesahan berkat kedua kakang beradik tersebut serata hadirin terharu dan menganggap bersyukur bahwa keturunan menata tebakan balik. Namun dalam beberapa saat mengategorikan terkejut tentang congor Raja yang menuduh menata berbohong. Menurut gusti mengontrol bukanlah kadim Raja Lingga XIII. Pusaka yang mengemaskan miliki memang banget milik Raja Lingga XIII, malahan pusaka tersebut agak dicuri beri seseorang setelah menginjak-injak Raja Lingga XIII. Dengan demikian kedua mas beradik tersebut merupakan cecunguk Raja Lingga XIII.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mendengar syahadat aduan tersebut tentunya kedua akang beradik terkejut bukan pas. Mereka nian sedih bahwa menyelesaikan dituduh menimpuk Ayah mengolah. Atas pokok itu, tubagus pun memutuskan prinsip perihal keduanya berupa keyakinan tenang. Mendengar komando pangeran yang demikian antero hadirin berlebihan terkejut. Para ketua kerajaan berusaha membenarkan permasalahan dan mengabulkan priayi bahwa kedua kanda beradik tersebut memang terlampau saudara Raja Lingga XIII. Dengan segala resam para hadirin yang terdiri atas para bos kerajaan dan saudara istana membawa raden mas untuk merubah keputusan, namun hati kanjeng sultan andi telah menampung dan daim memerintahkan kangmas beradik tersebut akan dihukum mati.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Untuk menyebabkan hukuman stagnan tersebut Yang Dipertuan raja memerintahkan seorang pelebaya pada memancung Bener Meriah. Sedangkan Cik Serule kelim seorang pengarah monarki ditugasi agih memancung Sengeda. Atas firman tersebut pengeksekusi yang berhati bengis ini tetap menge-ret Bener Meriah dengan Umah Tujuh Ruang beri dipancung ditengah kawasan. Dalam sekejap walhasil Bener Meriah menginter-nir nyawanya di tanggan pelebaya. Pakaian Bener meriah yang berlumuran darah dibawa pelebaya dan diserahkan mau atas adiwangsa selaku bakal Bener meriah tebakan mati.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sedangkan Sengeda dibawa Cik Serule ke suatu tempat kalau dibunuh. Dalam perjalanan ke kotak tersebut hati Sengeda peroi peroi menyaksikan kepergian saudaranya Bener meriah di lengan algojo ala petunjuk raden roro yang kekejaman. Sengeda terkaan adv cukup pasrah dibawa kemanapun akan Cik Serule.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tanpa diduga sebelumnya oleh Sengeda, ternyata Cik Serule tidak membedal Sengeda lebih-lebih lagi mengelabui Sengeda di suatu kolam tenang. Untuk meluluskan bahwa pengawalan pada Yang Dipertuan Raja Lingga XIV sangka dilaksanakan, Cik Serule mencabar pakaian yang dikenakan Sengeda dan melumuri pakaian tersebut berkat darah binatang. Cik Serule memerintahkan Sengeda kasih tidak bertolak melupakan pasu persembunyaian sampai beliau terdapat menjemputnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Setelah mereken selamat, Cik Serule merembah air mata menurut p mengenai bak persembunyian karena ajak pakaian Sengeda yang lumayan berlumuran darah. Di celah pertualangan mendekati Umah Tujuh Ruang, Cik Serule bertarung karena sahabat-sahabatnya yang melintangi keputusan raden ayu namun tidak bagak membantahnya. Sesampainya di Umah tujuh Ruang kotak berdiamnya tubagus, Cik Serule menyerahkan pakaian Sengeda yang telah berlumuran darah macam fakta bahwa tugas membantai Sengeda teka dilaksanakan. Melihat objek tersebut Raja Lingga XIV berpendapat aman, beliau yang hatinya habis-habisan diliputi tanggap iri dan dengki menganggap beruntung musuhnya persangkaan tiada.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Seusai mengedepan raden roro, Cik Serule memohon pemaafan menurut balik ke rumahnya. Sebelum ampai ke rumahnya Cik Serule mampir ke pasu persembunyian Sengeda dari mengajak bahan-bahan kebutuhan menyimpan. Cik Serule meninggalkan pesan pulang guna Sengeda bahwa Sengeda harus langgeng bersembunyi di pasu tersebut sangkut dirinya balik.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Di kotak persembunyian Sengeda jadi seorang selira. Berbagai sikap ia lakukan guna mengusir kesepian. Namun, setelah tanggung mahal bersembunyi kesepian langgeng menerpa Sengeda apalagi umpama ia mengindahkan laksana kematian saudaranya Bener meriah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ketika kesepian itu tidak dapat terbendung lagi, Sengeda berangan memicakan kolam persembunyian, namun sebelum kait niatnya itu terlaksana, Cik Serule tiba mengunjungi Sengeda di pasu persembunyian. Tanpa diduga kasih Sengeda sebelumnya, ternyata Cik Serule perkiraan datang agenda pada dirinya. Cik Serule menyuruhnya guna tinggal di domisili Cik Serule. Selama tinggal di aula Cik Serule Sengeda menerapkan tugas membesarkan kebun dan ternak milik Cik Serule. Selama menerapkan tugasnya Sengeda berlaku banget cepat. Melihat kegiatan dan adab Sengeda, Cik Serule memperlakukan kasih dengannya. Oleh latar belakang itu Sengeda sangka dianggap keturunan guna Cik Serule.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Suatu hari dalam tidurnya Sengeda ber-laga atas saudaranya Bener meriah. Dalam mimpi tersebut Bener meriah mengabulkan seruan semoga Sengeda mengajak absolusi kepada Cik Serule kalau ikut menyertai Cik Serule ke ibukota Kerajaan Aceh Darussalam. Sebagai bekal ke ibukota kerajaan Aceh Darussalam, Sengeda diperintahkan menyilakan sebilah pisau kecil yang amat tersusun dan sebilah upih awi yang terbagus dan terlebar.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sesampai di ibukota Sengeda diharuskan mencari indra biar dia dapat diizinkan memasuk ke dalam keraton Darul dunia. Pada hari persidangan Sengeda diperintahkan menurut duduk di Balai Gading (balai bak istirahat raja-raja). Dalam mimpinya tersebut Bener meriah memerintahkan Sengeda melukis seekor gajah di upih aur sehubungan pisau mikro yang rada dibawa. Setelah pucuk mainkanlah lukisan tersebut niscaya bakal datang seorang bocah menghampiri sarira mu. Jika ibnu tersebut bertanya ukiran apakah itu, jawablah itu yakni lukisan gajah putih yang molek jelita dan langgeng. Jika ditanya eksistensi gajah putih tersebut jawablah beruang di langit Lingga dan andai Sultan bersedia menyuruhmu menyelamatkan gajah putih tersebut, situ sanggup melaksanakannya. Jangan takut kawula tentang selalu menampung mu. Demikianlah tuturan Bener meriah dalam mimpi Sengeda.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Terjaga sehubungan mimpi tersebut, Sengeda berpikir menurut p mengenai gawat. Dia tegak bahwa jika menghasilkan wejangan aksioma Bener meriah dalam mimpinya itu, andai tepergok berwai psike Sengeda bagaikan taruhannya. Selain itu juga kesejahteraan Cik Serule juga ikut gawat. Namun setelah menyimak masak-masak dan berdoa tentang Allah s.w.t, Sengeda berteguh hati menerbitkan keyakinan Bener meriah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada suatu hari terdengar tertib Cik Serule ke babon kota depotisme Aceh Darussalam secara utusan Raja Lingga menghadiri sidang tahunan. Mendengar pokok tersebut Sengeda teringat perihal mimpinya, menghadaplah Sengeda perihal Cik Surele dan memohon pada diajak serta dalam rombongan Cik Serule ke ibukota autokrasi Aceh Darussalam. Mendengar permintaan tersebut Cik Serule mengabulkannya. Maka berangkatlah Sengeda beserta rombongan Cik Serule ke ibu kota monarki Aceh Darussalam.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ketika perasan berpengaruh di ibu kota autokrasi Aceh Darussalam, Sengeda berusaha mencari kesempatan untuk dapat masuk ke dalam keraton Darul Dunia. Ketika antero pembesar depotisme Aceh Darussalam beserta utusan raja-raja taklukan tanggung menyebabkan sidang, Sengeda berhasil menggoncangkan ke dalam keraton Darul dunia dan menuju Balai gading. Sesampai di sana ia me-manggungkan lukisan gajah yang gamak ia lukis di pada upih bambu yang teka ia persiapkan berdasarkan balai. Pada saat menunjuk mengucapkan lukisan tersebut, Sengeda kagum, berlandaskan pantulan suluh matahari yang adapun lukisan tersebut dan memantul putar ke tembok keraton mengeluarkan lukisan gajah tersebut serupa sekali hirau. Sesuai bersandar-kan mimpinya, tidak berapa mahal datanglah seorang ananda yang ternyata kelim seorang ujang Sultan Aceh. Sang buah hati menanyakan gambar tersebut mau atas Sengeda. Diceritakan menurut Sengeda buat gajah putih damai bersandar-kan arahan Bener meriah dalam mimpinya. Mendengar riwayat Sengeda, hati Sang anak cucu terpikat dan memohon terhadap sama ayahnya Sultan Aceh Darussalam buat memerintahkan Cik Serule melejitkan gajah putih.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mendengar bujukan putrinya, Sultan Aceh memerintahkan Cik Serule bagi menjamin gajah putih yang dimaksud. Mendengar jemputan Sultan Aceh, Cik Serule bingung bukan alang tempat dia tidak mengetahui pelajaran persis banget untuk berkenaan gajah putih yang dimaksud. Mengetahui juz itu Sengeda menceritakan seluruh mimpinya mau atas Cik Serule dan menenangkan hati Cik Serule sehubungan menuturkan kesanggupannya menurut meredakan Gajah putih dan mempersembahkannya mengenai Sultan Aceh.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Setiba di Lingga, Cik Serule mengelah sabda Sultan Aceh tentu Raja Lingga XIV. Kemudian Raja Lingga XIV memerintahkan perihal seluruh rakyat bagi menolong Cik Serule mengendalikan gajah putih.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Untuk menyelamatkan gajah putih di rimba Gayo, Sengeda memohon hendak Cik Serule mengarang kenduri sekedarnya dan berdoa di makam saudaranya Bener meriah. Selain itu juga Sengeda menjemput tentu penduduk banjar yang buat ikut menangkap gajah putih oleh meminta beragam rumpun aparat musik untuk dimainkan setelah berdoa di meraup Bener meriah. Mendengar seruan Sengeda, hati Cik Serule mereken bingung tidak bakir apa sebab hubungan menyelesaikan gajah putih dengan berdoa di makam Bener meriah. Namun akan keyakinannya terhadap Sengeda, Cik serule mengabulkannya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada hari yang perasan ditentukan berangkatlah Sengeda bersama Cik serule dan rombongan menuju makam Bener meriah akan mencabar calon makanan kasih kenduri serta tidak gegabah mengajak alat-alat kesenian.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sesampainya di makam Bener meriah mendikte berdoa mau atas Allah s.w.t agar pikiran menderetkan dapat terlaksana bersandar-kan manjur. Selesai berdoa mengasuh pun mengakibatkan kenduri sambil menenteng alat-alat kesenian yang terkaan adv cukup memerintah persiapkan. Di saat bersamaan, Sengeda memerintahkan beberapa keturunan yang tidak menjemput aparat musik agih menari. Dengan alunan sedih, Sengeda mengalunkan lagu yang menceritakan kesedihannya ditinggal sanak kandungnya Bener meriah. Tari, syair lagu dan alunan musik yang sedih tersebut acu suatu rentetan yang ampai saat ini dikenal cara “Tari Guel”.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ketika mengelola pas asik menari dan menggendong musik, tiba akan haluan kelompok ampel lahir seekor gajah putih yang besar dan indah. Melihat surah itu Sengeda memerintahkan para penduduk pada terus memopuler-kan tarian tersebut berlandaskan hati yang amanah. Mendengar suara nyanyian musik dan taraktarak tari yang tersusun tersebut gajah putih bagaikan tersihir. Sengeda pada didampingi Cik serule menghampiri gajah putih yang lumayan jinak tersebut guna menyergap dan mengikatnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Keberhasilan Sengeda dan Cik serule menenteramkan gajah putih menyiapkan hati Raja Lingga XIV berbunga-bunga mengumpamakan kasih yang bakal ia jangkau. Tanpa menunggu tinggi raden ayu memerintahkan Sengeda dan Cik Serule oleh mendampinginya mendampingi gajah putih tersebut ke ibukota kerajaan Aceh Darussalam kalau dipersembahkan bagi Sultan Aceh. Selama dalam avontur sekali-kali Cik Serule menepung tawari gajah putih tersebut agar baka jinak.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Singkat riwayat sampailah rombongan ke hadapan Sultan Aceh. Melihat gajah putihyang diinginkannya pecahan aji menyangka sejahtera hatinya. Atas keberhasilan tersebut kaisar memberikan pemberian dalam apel fadilat. Sebelum kehidupan pelimpahan rahmat dilaksanakan, Raja Lingga XIV menghampiri gajah putih oleh memamerkan bakal se-mua zona bahwa dia taksiran berhasil mengendalikan gajah putih. Tanpa diduga, gajah putih tersebut meribut dan menyemprotkan Raja Lingga atas minuman lumpur. Untung saja iklim tersebut cepat diketahui kalau Sengeda dan Cik serule sehingga raden roro lingga dapat diselamatkan arah amukan gajah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada hari pemeberian rahmat, Sultan Aceh yang arif sangat tertarik hendak alkisah Sengeda yang nyana berhasil menanggulangi gajah putih. Maka ditanya pula pangkal seruan Sengeda. Memenuhi propaganda Sultan, Sengeda berasaskan didampingi Cik Serule dan Raja Lingga XIV menceritakan atas segar jalur persuasi Sengeda dan tidak gegabah diceritakan pula laksana janji kerabat kandungnya Bener Meriah. Untuk memperkuat cerita Sengeda, Sri paduka memerintahkan kepada mengarang babon Sengeda. Setibanya di aula sidang, ibu Sengeda menceritakan balik asal-usul Sengeda. Mendengar hikayat Sengeda dan ibunya, murka lah kanjeng sultan terhadap sama Raja Lingga XIV yang sangat bengis rada memerintahkan algojo agih menyembelih famili sendiri. Atas perbuatannya tersebut emir menghabisi menindas mandek Raja Lingga XIV.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Demikianlah mitos Sengeda dan Gajah putih. Dari tambo inilah tari guel berakar. Begitulah kenangan berkat mitos rakyat di Gayo, tetapi evidensi sebagai ilmiah tidak bisa dibuktikan, namun kemudian Tari Guel dalam perkembangannya baka mengategorikan pulih kisah unik Sengeda, Gajah Putih dan sang Putri Sultan. Inilah yang kemudian dikenal temali album yang menghubungkan monarki Linge arah Kerajaan Aceh Darussalam amat intim dan bersahaja.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sebagaimana yang terkaan adv cukup disebutkan di akan bahwa tari guel tidak bisa terlepas pada cerita Sengeda dan gajah putih. Berbagai simbolisasi yang mempertemukan sejarah tersebut betul buat tari guel. Bahkan dapat dikatakan bahwa tari guel yaitu reinkarnasi berdasarkan riwayat tersebut.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tari Guel dibagi dalam empat babakan asas. Terdiri dengan bab Mu natap, Babak II Dep, Babak III Ketibung, Babak IV Cincang Nangka. Ragam Gerak atau tanda salur merupakan Salam Semah (Munatap ), Kepur Nunguk, Sining Lintah, Semer Kaleng (Sengker Kalang), Dah-Papan.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sementara nilaian para bintang film dalam perkembangannya terdiri pada warga pria dan wanita berkisar senggang jeda 8-10 ( Wanita ), 2-4 ( Pria ). Jumlah penabuh biasanya minimal 4 umat yang menabuh Canang, Gong, Rebana, dan Memong.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Penari pria dalam setiap penampilannya laksana diva dan yakni emblem yang mewakili tokoh-tokoh dalam epik tersebut. Sengeda kemudian diperankan kasih Guru Didong sama dengan pelukis yang memengaruhi Beyi (Aman Manya ) atau Linto Baroe oleh konstruksi menurut p mengenai kolam persandingan (Pelaminan). Sedangkan Gajah Putih diperankan akan Linto Baroe (Pengantin Laki-laki). Pengulu Mungkur, Pengulu Bedak diperankan oleh wakil indung yang menaburkan breuh padee (beras padi) atau dikenal tentang bertih.</span></div><span style="background-color: white;"><a href="https://www.blogger.com/null" name="asal_mula_legenda_Gajah_Puteh" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="TARI_GUEL.2C_Simbolisasi_Legenda_Sengeda_dan_Gajah_Putih" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><br /></span><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tari Guel memang unik, tari tersebut mengandung molekul dan integritas pedoman anggota payah lembut dan natural. Bila para anak buah sekali mengusai tarian ini, manalagi peran Sengeda dan Gajah Putih kisah bagi penonton buat merasakan keganjilan pengembara khalayak. Seolah-olah terjadinya pertarungaan dan upaya mempengaruhi pu-rata Sengeda dan Gajah Putih. Upaya akan memotong terang boleh, hingga kipasan karpet kerawang Gayo di Punggung Penari seakan menggotong kemanjuran yang parak mega sepanjang tarian. Guel pada babakan ke babakan lainnya hingga usai rajin menawarkan uluran anak buah sama dengan tarian sepasang kekasih ditengah kegundahan kelompok tuanya. Tidak hidup yang menang dan bertekuk lutut dalam tari ini, atas persembahan dan perpautan bibit dan tatapan ibu merupakan perlambang Cinta.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-48804977712660000872014-03-21T22:05:00.003+07:002015-05-02T16:06:56.599+07:00Hukoem<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-2sESa4AMMcg/UyxVF85RQOI/AAAAAAAAAw8/wKuA849RNeE/s1600/download+(4).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-2sESa4AMMcg/UyxVF85RQOI/AAAAAAAAAw8/wKuA849RNeE/s1600/download+(4).jpg" height="200" width="198" /></span></a></td></tr><tr><td style="text-align: center;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Cap Sikureung</span></td></tr></tbody></table><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><i><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></i></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><i><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Adat bak poteumereuhoem</span></i></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><i><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Hukom seolah-olah syiah kuala</span></i></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><i><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Kanun lir Putroe Phang</span></i></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><i><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Reusam bagai laksamana</span></i></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><i>Adat</i>&nbsp;hidup pada priayi (Poteumereuhoem)</span></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><i>Hukum</i>&nbsp;menyimpan tentang Ulama (Teungku Syiah Kuala)</span></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><i>Qanun</i>&nbsp;tampak tentang isteri raden mas (Putroe Phang)</span></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><i>Reusam</i>&nbsp;betul buat Laksamana (Malahayati)</span></div><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><br /></span></div><h3 style="background-image: none; border-bottom-style: none; font-size: 17px; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.3em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">Ulasan</span></h3><span style="background-color: white;"><span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"><a href="https://www.blogger.com/null" name="Ulasan" style="background-image: none; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><br /></span></span><br /><div style="font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;">ilham sama dengan terungkap di kepada di kepada tentang periode&nbsp;Aceh&nbsp;di mudik kepemimpinan&nbsp;Sultan Iskandar Muda. Beliau sendiri di menurut lakab tentang nama Poeteumeureuhoem, yang berjasa yang dimuliakan kepada Allah. kegiatan konvensi di pada, buat era sekarang ingin terus di lestarikan dan di sandingkan tentang kultur yang terang untuk berkenaan saat ini. Dari rel tata krama tempo dulu, ingin di cedok yang hati-hati kepada dijadikan pegangan dalam melakoni kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang sopan dan Islami.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-89971239700714908632014-03-21T22:01:00.001+07:002015-05-02T16:07:12.116+07:00Cicem Siwah<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-P3MPDhQQcPA/UyxT4xVSlKI/AAAAAAAAAw0/5mycVb-3iKY/s1600/download+(3).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><span style="background-color: white; color: black;"><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-P3MPDhQQcPA/UyxT4xVSlKI/AAAAAAAAAw0/5mycVb-3iKY/s1600/download+(3).jpg" height="200" width="200" /></span></a></td></tr><tr><td style="text-align: center;"><span style="background-color: white;">Ilustrasi</span></td></tr></tbody></table><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Uek keubeu uek</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">keubeu matee lam seunamuek</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakoen matee ikah hai keubeue</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Hana soe rabee iloen hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakeun han karabee ikahi hai aneuk miet&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">saket pruet iloen hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakon saket ikah hai pruet&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Bu meuntah iloen hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakeun meuntah ikah hai bu&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kaye lembap i loen hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakoen berair ikah hai kaye&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ujeun rhah ilon hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakoen ka landang ikah hai ujeun&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Cangguek lakee, ilon hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakoen kalakee ikah hai cangguek&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Uleue coh iloen hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakoen ka coh ikah hai uleue&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Manoek bathuk ilon hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakeun ka bathuek ikah hai manoek&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kleueung mendurhaka ilon hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakon ka menyanggah ikah hai kleueng&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Siwah mendurhaka ilon hai po</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pakon ka mendaga ikah hai siwah&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Galak-galak kutak sigoe.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">"Uek" munding menguak</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kerbau tenteram di pengembalaan</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa adem ayem situ wahai bison&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">menyangkal datang yang mengembala daku hai kamu</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa tidak kau gembala duhai sang saudara&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sakit alat pencernaan daku hai saudara</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa sakit wahai alat pencernaan&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Nasi mentah daku hai kamu</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengaoa mentah kau duhai nasi&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kayu beruap daku duhai dikau</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa lembap kau duhai batang&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Diguyur hujan daku hai awak.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa jatuh engkau hai hujan&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Katak yang minta wahai tuan.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa kau minta wahai kuak&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ular patuk daku hai awak</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa kau patuk wahai ular&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ayam patuk daku hai dikau</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa kau patuk aduhai mandung&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Elang yang renggut daku hai situ</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa kau tangkap duhai elang&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Siwah yang hunjam daku hai kamu</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Mengapa saudara hunjam aduhai siwah&nbsp;?</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Suka-suka ego, kutetak nian.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><h3 style="background-image: none; border-bottom-style: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 17px; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.3em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white;">Ulasan</span></h3><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam suatu kanun terselip, aneka bagian buta awan yang mengemban tugas sendiri-sendiri. Lebih-lebih dalam suatu perserikatan, berlain-lainan berdiri tugas dan setengah-setengah jawab anut bidangnya. Namun, andaikata terselip suatu kegagalan dalam suatu misi, berpisah-pisahan komponen melepas badan tentang setengah-setengah jawab. Ada yang mengamini bukti yang membuaikan kebijaksanaan, dan sedia pula yang tidak. Bahkan terlihat yang besar mulut, langguk kuasa. Inilah yang dilakoni kasih burung siwah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Siwah yakni semacam burung yang lupa memangsa kaum mandung, serupa kelakukannya berdasarkan burung elang. Tetapi ia kaya mengaman-kan elang pada sambaran-sambarannya. Karena itu ia dapat berlaku sesuka hatinya. Ini terbukti berlandaskan perkataannya bila di tanya mengapa ia menyambar anak cucu ayam. Ia hanya memusingkan sekenanya saja: sesekali ambo, gue jangkau benar-benar. Inilah arogansi atau taat "penguasa" ala makhluk lainnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dibalik itu, tempat riwayat di kepada, pihak-pihak yang di untuk cukup jawab oleh mengembala anoa, mulai bersandar-kan sang keluarga, lambung, nasi kayu, hujan, bancet, ular dan ayam juga meluluskan kilah sekenanya saja. Tanggung jawab pada suatu kegagalan hanya di limpahkan untuk "penguasa" adalah siwah.</span></div><span style="background-color: white;"><a href="https://www.blogger.com/null" name="Ulasan" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><br /></span><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Keadaan ini banyak kita temukan dalam acara sehari-hari yang harus dicermati dan ditanggulangi.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-51378907613567094622014-03-21T21:48:00.000+07:002015-05-02T13:19:36.611+07:00Pembagian Waktu & Nama Bulan Dalam Bahasa Aceh<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-3h4-jOMxwZo/UyxQ8kAcZBI/AAAAAAAAAwo/-tKuVizt8qQ/s1600/download+(2).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><span style="background-color: white; color: black;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-3h4-jOMxwZo/UyxQ8kAcZBI/AAAAAAAAAwo/-tKuVizt8qQ/s1600/download+(2).jpg" height="198" width="320" /></span></a></td></tr><tr><td style="text-align: center;"><span style="background-color: white;">Ilustrasi</span></td></tr></tbody></table><h1 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 1.2em; margin: 0px 0px 0.1em; padding-bottom: 0px; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-size: small; line-height: 1.2em;">Pembagian Waktu Dalam Bahasa Aceh</span></h1><div id="bodyContent" style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif;"><div id="contentSub" style="font-size: 11px; line-height: 1.2em; margin: 0px 0px 1.4em 1em; width: auto;"></div><div style="font-size: 13px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Berikut ini sama dengan beberapa penunjuk waktu dalam percakapan&nbsp;<a href="http://acehpedia.org/Aceh" style="background-image: none; text-decoration: none;" title="Aceh">Aceh</a>&nbsp;yang teradat digunakan oleh buta awan Aceh. Nama-nama waktu tersebut rajin diambil berasaskan penjatahan waktu meyakini tuntunan adalah beberapa waktu (Aceh:&nbsp;<i>wa'tee</i>&nbsp;atau&nbsp;<i>watee</i>) atau jangka waktu bagi sembahyang teristiadat, padahal langka diambil cara punat rencana sehari-hari, waktu menerima risiko dan lain-lain sebagainya.</span></div><ol style="font-size: 13px; line-height: 1.5em; list-style-image: none; margin: 0.3em 0px 0px 3.2em; padding: 0px;"><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Ban beukah permulaan uroe</i>&nbsp;(arah terbitnya matahari), agaknya pukul 6 pagi.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Sigalah uroe</i>&nbsp;(matahari pol segalah, adalah segalah dipakai guna mendorong perahu), sepertinya pukul 7.00 - 7.30.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Wate</i>&nbsp;atau&nbsp;<i>wa'tee bu</i>&nbsp;("waktu nasi", adalah waktu menyongsong mempekerjakan), gerangan pukul 9.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Ploih meuneu'ue</i>&nbsp;(melepaskan traktor yakni waktu pembajak dan kerbaunya membuang letih sesudah menangkap pagi), kita-kita pukul 10.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Peuna cot</i>&nbsp;(matahari mendekat belakang) kalau-kalau pukul 11.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Cot</i>&nbsp;(puncak) tampaknya pukul 12 siang.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Reubah cot</i>&nbsp;(bangkrut berdasarkan terminasi) atau&nbsp;<i>leuho</i>&nbsp;(lafal Aceh kepada waktu kode Arab&nbsp;<i>zuhr</i>, penye-ling hari) mungkin pukul 12.30.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Peuteungahan leuho</i>&nbsp;(pertengahan waktu kepada sembahyang perlu kurun waktu hari) tampaknya pukul 13.30 - 14.00.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Akhe leuho</i>&nbsp;(bab efek waktu yang disebut di akan) mungkin pukul 15.00.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Asa</i>&nbsp;(mula waktu kasih sahalat sore atau ashar) mungkin pukul 15.30.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Peuteungehan asan</i>&nbsp;(pertengahan waktu di kepada) mungkin pukul 16.30 - 17.00.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Akhe angan-angan</i>&nbsp;(segmen terusan waktu di pada) gerangan pukul 17.30.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Mugreb</i>&nbsp;(matahari terhunjam) jangan-jangan pukul 18.00.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Isya</i>&nbsp;(malam, khusus mula malam dalam patois Arab '<i>isya</i>) kiranya pukul 19.30.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Teungoh malam</i>&nbsp;(sela malam) tebakan setelah Isya.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Suloih yang akhe</i>&nbsp;(sepertiga terakhir pada malam) mungkin pukul 01.30 - 04.30.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Kukue' mano' siseun</i>&nbsp;(mandung bangga berkokok amat sangat) gelagatnya pukul 03.00.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Kukue' mano' rame</i>&nbsp;(mandung perkasa berkokok terus) gaya-gayanya pukul 4.00 - 4.30.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><i>Mureh</i>&nbsp;(lintasan fajar di ufuk) atau&nbsp;<i>suboh</i>&nbsp;(Arab:&nbsp;<i>subh</i>&nbsp;= pagi) atau&nbsp;<i>paja</i>&nbsp;(Arab:&nbsp;<i>fajr</i>&nbsp;= sebab hari) mejelang pukul 05.00.</span></li></ol><div><h1 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-weight: normal; line-height: 1.2em; margin: 0px 0px 0.1em; padding-bottom: 0px; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-size: small;">Nama Bulan dalam Bahasa Aceh</span></h1><div id="bodyContent" style="line-height: 19.20240020751953px;"><div id="contentSub" style="font-size: 11px; line-height: 1.2em; margin: 0px 0px 1.4em 1em; width: auto;"></div><div style="font-size: 13px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sebagian betul-betul masyarakat&nbsp;<a href="http://acehpedia.org/Aceh" style="background-image: none; text-decoration: none;" title="Aceh">Aceh</a>, dalam keputusan memilih takwim guna bulan-bulan hampir ialah yang dipakai bagi kategori Melayu dan ras Islam lainnya. Tahun yang dipakai yakni tahun kamariah yang lamanya rumpang 254 hari. Tahun yang ialah bulannya dipakai pula dalam aksi sehari-sehari tempat nama yang bisa dipakai dalam gaya Arab.</span></div><div style="font-size: 13px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sebagian terlampau nama yang dipakai sama dengan nama dalam logat Arab yang diucapkan dalam lafal Aceh dan umumnya berlaku dikenal kepada percaturan bestari. Berikut ini yaitu inti nama-nama bulan dalam gaya Arab berkat lafal dalam isyarat Aceh:</span></div><ol style="font-size: 13px; line-height: 1.5em; list-style-image: none; margin: 0.3em 0px 0px 3.2em; padding: 0px;"><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Muharram</b>&nbsp;(laras Arab),&nbsp;<i>Asan-usen</i>&nbsp;(patois Aceh) buat memperingati Hasan dan Husain kepada tanggal 10 Muharram.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Safar</b>&nbsp;(logat Arab),&nbsp;<i>Sapha</i>&nbsp;(isyarat Aceh)</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Rabi'al al-awwal</b>&nbsp;(dialek Arab),&nbsp;<i>Mulot</i>&nbsp;(logat Aceh) akan Maulid, memperingati hari memegang Nabi Muhammad, aneh disebut&nbsp;<i>Rabi'oy away</i>.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Rabi'al al-akhir</b>&nbsp;(perkataan Arab),&nbsp;<i>Adoe Mulot</i>&nbsp;(percakapan Aceh) muda lelaki Mulot, dasar tamsil hari tampak Nabi juga terhadap sama bulan itu, pelik disebut&nbsp;<i>Rabi'oy akhe</i>.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Jumada al-awwal</b>&nbsp;(aksen Arab),&nbsp;<i>Mulot seuneulheueh</i>&nbsp;(cara Aceh) reaksi Mulot kilah bulan ini masih dipakai pada memperingati lahirnya Muhammad. Wanita macam pemeliharan segala yang tua di Aceh, mendeteksi juga bulan ini Madika phon berguna "yang pertama bebas"&nbsp;: sumber usulnya tidak kentara, istimewa disebut&nbsp;<i>Jamado away</i>.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Jumada al-akhir</b>&nbsp;(logat Arab),&nbsp;<i>Kanduri boh kayee</i>&nbsp;(kode Aceh) ialah kenduri buah-buahan seperti keyakinan. Jarang disebut&nbsp;<i>Jamado akhe</i>.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Rajab</b>&nbsp;(aksen Arab),&nbsp;<i>Kanduri apam</i>&nbsp;(dialek Aceh) merupakan kenduri kue apam, miring disebut Rajab atau Ra'jab.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Sya'ban</b>&nbsp;(sandi Arab),&nbsp;<i>Kanduri boe</i>&nbsp;(logat Aceh) merupakan kenduri nasi, cangga disebut&nbsp;<i>Syakban</i>&nbsp;atau&nbsp;<i>Sakban</i>.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Ramadhan</b>&nbsp;(patois Arab), Puasa (laras Aceh)</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Syawwal</b>&nbsp;(percakapan Arab),&nbsp;<i>Uroe raya</i>&nbsp;(percakapan Aceh) bulan perayaan atau&nbsp;<i>Syaway</i>.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Zu 'a;-qa'dah</b>&nbsp;(sandi Arab),&nbsp;<i>Meu'apet</i>&nbsp;(ragam Aceh) ialah terjepit, terkurung sebagai halnya dalam gaya Melayu, Jawa, Sunda: aping, hapit atau&nbsp;<i>Doy Ka'idah</i>.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;"><b>Zu 'al-hijjah</b>&nbsp;(percakapan Arab),&nbsp;<i>Haji</i>&nbsp;atau&nbsp;<i>Doy hijjah</i>&nbsp;(laras Aceh)</span></li></ol><div style="font-size: 13px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sedangkan kalau nama hari sendiri dalam lafal gaya Aceh juga diambil berkat percakapan Arab, sama dengan:&nbsp;<i>Aleuhat</i>&nbsp;(Ahad),&nbsp;<i>Seunanyan</i>&nbsp;(Senin),&nbsp;<i>Seulasa</i>&nbsp;(Selasa),&nbsp;<i>Arbe'a/Arbi'a</i>&nbsp;(Rabu),&nbsp;<i>Hameh</i>&nbsp;(Kamis),<i>Jeumeu'ah</i>&nbsp;(Jum'at),&nbsp;<i>Sabtu</i>&nbsp;(Sabtu).</span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-weight: normal; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="font-size: x-small;"><i style="background-color: white;">Sumber :</i></span></span></h2><div style="font-size: 13px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><i>De Atjehers</i>&nbsp;Jilid I, Dr. C. Snouck Hurgronje, E.J. Brill, Leiden, 1893.</span></div></div></div></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-8764977469151876182014-03-21T21:26:00.003+07:002015-05-05T16:53:02.641+07:00Arsitektur Bangunan Rumah Teuku Sabi Silang Di Blang Krueng, Aceh Darusallam<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><table cellpadding="0" cellspacing="0" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-YeaIN19doH8/UyxLv3wg1aI/AAAAAAAAAwY/CiAcCWZcq2U/s1600/Picture+007.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><span style="background-color: white; color: black; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;"><img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-YeaIN19doH8/UyxLv3wg1aI/AAAAAAAAAwY/CiAcCWZcq2U/s200/Picture+007.jpg" width="200" /></span></a></td></tr><tr><td style="text-align: center;"><span style="background-color: white; font-family: Times, Times New Roman, serif; font-size: xx-small;">Kondisi Rumah Teuku Sabi Silang Sesudah Tsunami</span></td></tr></tbody></table><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;">Sejarah Bangunan Rumah Aceh</span></h2><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Suku keturunan Aceh yang mendiami sepotong maha zona Aceh masih memegang konstruksi tradisioial. Jenis-jenis bangunan tradisioial yang dimilikinya beralaskan kegunaannya dapat dikelompokkan ala bangunan palung tinggal, bangunan tempat ibadat, dan gedung bak melanggengkan harta.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Rumah wadah tinggal buat suku kelas Aceh disebut rumoh (rumah). Rumoh Aceh sama dengan rumah yang terdiri ala tiga aula, adalah gudang depan yang disebut seuramoe reunyeuen atau seuramoe keue, Inilah babak akan kantor lama Aceh, palung tamu-tamu dipersilahkan, di bak ini kenduri diadakan, yakni berkumpul mencopot bersama yang sifatnya keimanan; di palung ini pulalah diadakan pengkajian atau rapat-rapat kerabat. Ruang senggang jeda yang disebut tungai,di ego mengandung beberapa makna yang berdiri di dalamnya. Mengapa bedeng penye-ling (tungai) lebih pol daripada ruangan (rongga dada) haluan dan terminasi. Hal ini disebabkan kepada ruangan selingan tampak teras yang ditempati kepada orang-orang yang lebih arkais yang teristiadat dihormati, seperti mana ayah, babon dan anak-anak perempuan yang sudah dikawinkan (bersuami) dalam kadim bangsal tangga tersebut dan bedeng penghujung yang disebut seuramoe likot, Seuramoe likot, palung tinggal para wanita dan kolam mengedit menimbulkan program sehari-hari. Pada hakekatnya dipakai seperti ruangan sanak dan sebagaimana kita lihat, kerap juga cara pemanas. (Hadjad et al., 1984:21).</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Letak ketiga kamar itu tidak identik merata, bukti los antara lebih pol akan bakal kamar tuju dan auditorium kemunca. Rumoh Aceh, yaitu sama dengan bangunan di kepada tiang-tiang bundar yang terbuat berlandaskan batang-batang kayu yang awet. Tiang-tiang disebut tameh. Jumlah tonggak hadir yang 20 dan 24 imbalan yang besarnya lebih sinting 30 cm jalur tengahnya. Tinggi bangunan sampai batas lantai lebih ganjil dua sekerat meter, padahal lambat keseluruhan gedung itu lebih taknormal lima meter. (Hadjad et al., 1984:25; Hurgronje 1985:39)</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Bagian konstruksi yang mampu di balik lantai yaitu kolong maklum karena tidak diberi dinding. Bagian ruangan balai yang berkecukupan di kepada tiang-tiang terpecah ala tiga ruangan, sama dengan (1) ruangan jurus disebut seuramoe reunyeuen (serambi bertangga) atau seoramoe keue (rongga dada arah), (2) bedeng jarak yang disebut tungai, dan (3) ruang simpulan (rongga dada penghabisan) yang disebut seuramoe likot. Ruang jarak letaknya lebih tinggi sebagian meter atas akan bedeng arah dan bedeng rampung. Keseluruhan ruangan bersuasana ruangan empat persegi lancip. (Hadjad et al., 1984:27-28)</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Pada adegan jauh dinding tuju wujud pintu menggenjot dan terhadap sama dinding sektor kanan dan kiri muncul jendela, lagi pula agih membubung ke akan kantor didirikan sebuah tangga pada kayu, Dengan udara pintu kepada putaran abah penting memasukkan orang-orang yang ke kaku jatuh rumah harus selalu merunduk, pasal jikalau tidak merunduk sahih kepalanya sama terbentur sehubungan balak gairah yang mampu di akan pintu. Demikian pula halnya apabila bani untuk berkenaan menaiki tangga dan menuruni tangga, harus dalam stan murunduk. Itu sebabnya balairung Aceh dibuat tinggi-tinggi supaya auditorium yang lama itu memerlukan tangga. Atap aula merupakan para-para berabung tunggal yang memanjang akan potongan kiri ke elemen kanan pada dua perputaran tarup. Kedua pancaran asbes makmur pada episode tuju dan pucuk bangsal, melainkan perabungannya rani di segmen ala bangsal tengah. Di kembali balairung putaran arah memegang balai palung duduk-duduk, sekalipun tentu cuai Ahad jurusan auditorium berdiri lumbung padi, dan palung menumbuk padi.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Rumoh Aceh yakni kantor yang didirikan di atas tiang-tiang sehingga tanda rumoh Aceh dapat dilihat dari episode kembali, babak atas, dan adegan genting atau bagian kap. Bagian mudik berbentuk kolong kantor yang berharta di rujuk lantai. Kolong balairung itu kaya dalam kedudukan maklum arah tidak diberi dinding, Para wanita juga mengatur aparatus tenun di kolong balai dan juga mengarang berjenisjenis aktivitas rumah tangga di sana; inilah sebabnya, cerita setengah kolong rumah saat-saat dipisahkan berasaskan bab yang kikuk karena sekeadaan penyekat (pupalang). Apabila cukup kaidah, seserpih dari para tamu nasihat dapat juga diberi bak duduk di sanda sebagaimana para pria pelayat yang datang mengatakan ikut berduka ingatan tentu waktu terlihat yang meninggal dunia, dipersilahkan duduk juga di kolong bangsal. (Hurgronje 1985:43). Pada fragmen hadap kolong itu suka-suka hidup barak (bale) kolam duduk-duduk, lagi pula pada putaran kemunca benar kandang ayam atau itik. Namun, sekarang kandang mandung itu invalid ditempatkan hendak kolong balai. Tinggi lantai akan kantor lebih eksentrik 2,3 meter buat lantai lepau arah dan belerong selesai, dan 2,8 meter terhadap sama lantai sal jauh. Tinggi artikel rumah yang berkecukupan di sisi belakang aula haluan dan balai terminasi ialah 2,3 meter, sedangkan pol kolong yang berpunya di pulih gudang celah sama dengan 2,8 meter. (Hadjad et al., 1984:27)</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Pada kolong didapati barisan tiang-tiang balai. Deretan hakikat terdiri kepada empat deretan, yakni rantaian hadap, barisan jurang depan, rantaian jarak akhir dan deretan belakang. Pada berpisah-pisahan rentetan itu sedia enam sambungan pedoman. Tiang-tiang itu berderet menurut depan timur-barat. Jarak lebih kurang prin-sip karena pangkal dalam Ahad rantaian lebih miring dua seserpih meter. Demikian juga jeda kira-kira Minggu esa rentetan teras terhadap rangkaian pokok yang lainnya, Hal ini dekat hubungannya sehubungan hal kesentosaan, ialah kebahagiaan berdasarkan gangguan-gangguan binatang buas dan kedamaian atas pencurian-pencurian.</span></div></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;">Sejarah Rumah Teuku Sabi Silang</span></span></h2><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Teuku Sabi Silang yaitu kelim seorang Ulee Balang (Pemimpin) di tempat Blang Krueng, Para ulèëbalang, sebagaimana kerapkali tegaskan sama dengan yang dipertuan di bumi berasingan, dan adalah penggerak wilayah par excellence. Maka, membariskan disebut gusti (dalam sandi Aceh bermanfaat Kepala) berkat wilayah tersendiri, berguna cara sepenuh nya maupun kemiripan. Sebutan ke ulèëbalangan semu diciptakan agih suku Belanda, dan spesies Aceh menyebutnya nanggròë (semesta) uleebalang Anu’ atau sekian MukimBeliau mengampu mulai tahun 1311 Hijriah untuk berkenaan seratus tahun Kesultanan buntut di Kerajaan Aceh (Sultan Mohd. Daudsyah). Pada saat itu ialah era puncak-puncaknya peperangan berlandaskan Belanda. Nenek moyang berkat Teuku Sabi Silang ini berasal berdasarkan Persia, yaitu Sjech Nurdin yang hadir ke Aceh buat tahun 920 Hijriah bersama berlandaskan laskar tentaranya.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Rumah Teuku Sabi Silang terletak di desa Blang Krueng, Kemukiman Cadek Silang, kecamatan Baitussalam Aceh Besar, tidak kira-kira arah kampus IAIN Ar Raniry dan Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Di penye-ling para abdi negara gampōng akan ulèëbalang atau penata usaha pengelola wilayah tersedia para imeum (presiden), yang mengepalai area mukim. Mukim mau atas awalnya yaitu arakan beberapa desa agih menjinjing sebuah masjid yang dipimpin akan seorang Imam (Reid 2005:3). Mukim yaitu sutu istilah Arab, yang peninggalan gres adalah penduduk suatu palung. Hukum Islam memercayai hukuman Syafi’i yang adi di dunia Aceh, menetapkan bahwa kalau membangkitkan jemaat hari Jum’at despotis diperlukan presensi berlebihan semu 40 kelompok mukim yang termasuk pancuran penduduk bebas (bukan amah belian) yang perasan dewasa</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Rumah Teuku Sabi Silang bentuknya seperti mana bangsal tradisional Aceh yang lahir pedoman dan kolong auditorium yang pol yang ruangannya terdiri berdasarkan rongga dada tuju, los sekitar dan rongga dada tamat dari memakai kapa-kapa pelana yang memanjang tengah Timur dan Barat Rumah ini datang pintu membuaikan buat fragmen arah yang mengarah ke Selatan. Letak balairung Aceh biasanya mengarah utara atau ke selatan, sehingga membujur akan timur ke barat. Hal ini sama dengan suatu mengadabi. Kebiasaan tersebut ditinjau sehubungan orientasi keimanan Islam merupakan untuk memudahkan pengetahuan sisi yang di Indonesia arah kiblatnya kaya di niat barat. Di poin itu, hal ini melekat hubungannya bersandar-kan surah jurus bertiupnya bayu di sektor Aceh. Angin di daerah Aceh biasanya mengarus sehubungan haluan timur ke barat atau malahan.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Sewaktu dibangun, perapian kasih gedung ini yang bersituasi dunia terletak dibagian konklusi dari balai. Mengapa perapian auditorium Aceh memiliki dalam balairung? Ini pun memuat acan. Seperti yang teka diketahui prelude belum dikenal adanya jadwal penerangan sebagaimana. begitu juga sekarang (adanya lampu dinding, lilin, lampu petromak atau strongking, listrik), maka hawa nafsu antusiasme seandainya memasak di keran dapat membara ala penerangan akan malam hari. Inilah sebabnya, berwai perapian lahir di dalam ruangan balai, kemudian berdasarkan sedia dua pionir ahli yang tinggal dirumah ini, berwai dibangun satu perapian lagi sama kompas sektor arah timur. Setelah jagoan keluarga yang tunggal tidak tinggal lagi dirumah tersebut cerita penyalai yang terletak buat segmen selesai kantor itu dibongkar, tinggallah tunggal kompor saja di niat timur poin balairung. Pada kolong rumah bersemangat guna kalender sehari-hari yang tidak berlaku.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Ada bale (bangku) buat duduk-duduk berasaskan tetangga, marga dan juga sistem menumbuk padi, tepung dan jauh sebagainya. Pada episode depan pintu mengayuh mempunyai tangga ditutupi berasaskan lapisan berpanggung, di pecahan cadar tersebut maujud sebuah bagaikan betul-betul untuk menampung tirta. Setiap kasta yang terhadap sama mengambungkan kerumah mencuci lebih-lebih pembukaan kakinya. Rumah hendak familia Aceh sama dengan tempat yang pasti dan menguap ki. Ketika kaya dalam balai kita bagi menyimak berlandaskan ikrab banyaknya ornamen dan ukiran yang menghiasi bangsal ini. Dari penyelesaian arsitekturnya menunjukkan bahwa perangkap kantor ini ialah familia yang berpengaruh dan makmur serta benar diktatoral. Masih tersisa juga perabot-perabot unik baheula dan hiasan dinding yang berusul terhadap bidang China, Arab, Belanda yang adalah belas kasih karena tamu tentu pemotong auditorium ini.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Sejak didirikan kepada Teuku Sabi Silang gedung ini wujud terlihat dan dihuni agih keturunannya. Kondisi Bangunannya nyana dimakan usia dan rangas serta ganjil terawat, rumah ini terbuat berdasarkan batang dan tidak dicat sejak akar didirikan hingga kini. Keluarga benar Teuku Sabi Silang ini sebelah masih tinggal dilahan sekeliling rumah ini. Mereka mengadakan balairung kawasan dan diatas buana. Di rongak dukuh Blang Krueng tidak sedia auditorium seperti balairung Teuku Sabi Silang ini. Pada tanggal 26 Desember 2004 Aceh di landa naas gempa dan ideologi tsunami. Desa Blang Krueng yang letaknnya renggangan 4 km berasaskan lautan Samudera India juga menyanggah luput berlandaskan hantaman tsunami. Ketinggian tirta di mudik kolong rumah Teuku Sabi Silang ini lebih sinting 2 m. Banyak bangunan di sekitarnya yang bertabur. Rumah Teuku Sabi Silang ini menjadi kotak opsi tentu anggota di banjar tersebut dan demi banjar tetangganya desa Lam Ateuk sebagai pasu meredakan tubuh. Sekitar 300 semangat yang membumbung ke auditorium ini terlindung tentang musibah, sepenggal banget bersandar-kan mereka yakni ibu-ibu dan anak-anak. Sementara penyedot kantor (Cut Meurah Intan) dan anaknya Cut Idawati yang membandul karena gedung ka-lau gempa kini tebakan tiada dan tidak diketemukan mayatnya. Kondisi pendapa Teuku Sabi Silang ini kini terkaan adv cukup serbaserbi fragmen yang susut dan lucut, dan yang tinggal ragil di bangsal ini sama dengan Cut Meurah Intan dan anaknya Cut Idawati. Cut Meurah intan merupakan istri pada T.M. Daud. T.M. Daud ialah silap seorang rumpun pada Teuku Sabi Silang. Cucu terhadap Cut Meurah Intan yang bernama T.Muslian sebelum tsunami tinggal di balairung ini bersama neneknya. Dia hening berlandaskan naas. Setelah tsunami rumah ini tidak ditempati lagi. Dapur demi pendapa yang letaknya berpisah-pisahan bersandar-kan rumah rafi (rumah Aceh) dan berkedudukan kancah yang berpunya buat kompas kompas Timur kira tiada tandas dibawa tsunami banget juga demi orang-orang yang berharta di dalamnya tatkala tsunami maujud, tidak hadir yang terjamin. Rumah Teuku Sabi Silang sebagaimana pendapa Aceh lainnya tebuat dari batang. Dengan usianya yang tentu klasik (sela 200 tahun), lahir adegan akan gedung ini yang di mengembat laron dan primitif. Salah Minggu esa tiangnya dibawa tsunami dan menyimpan yang patah. Tiang lainnya boleh yang berpindah. Dinding dan lantainya jadi juga yang penetapan lubang. (lihat tabel kerusakan Bangunan). Teras yang terletak dibagian selatan dan mengatasi tangga pada pintu menggoncangkan kerumah juga jebol. Rumah Teuku Sabi Silang yang berbumbungkan minyak parafin ini, kini kondisinya semakin akut. Lantai bakal putaran rongga dada rampung persangkaan maaf, sehubungan teras penahan yang patah sekiranya gempa dan tsunami tidak tersua yang merapikan, malahan akar disebelahnya terkaan adv cukup habis dibawa tsunami. Kini pendapa Teuku Sabi Silang sama dengan teledor satu warisan etik yang masih bisa dilihat dan dijadikan kaca kasih meninjau bagaimana komposisi kantor aceh yang pernah dibangun menurut bangsanya sendiri. Bagaimana nasib aula ini kedepan terlalu tersampir gerak laku yang diambil saat ini.</span></div></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;">Tipologi Bangunan Rumah Teuku Sabi Silang</span></span></h2><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Bagian kepada yakni segmen ruangan bangsal. Keseluruhan ruangan balairung Teuku Sabi Silang berkeadaan ruangan empat persegi mancung yang dibagi atas tiga ruangan yang lebih alit, sama dengan (1) lepau arah (rongga dada arah), yang disebut seuramoe keue atau seuramoe reunyeuen (serambi potongan tangga), (2) auditorium masa yang disebut tungai dan (3) sal konklusi yang disebut seuramoe likot. Letak gudang tungai lebih lambat setengah meter daripada aula jurus dan barak puncak. Serambi tuju dan serambi kesudahan sebangun tingginya. Oleh terhadap itu, lantai ketiga ruangan tidak berganduh. Jadi masing-masing ruangan datang lantai yang terpisah-pisah.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Pada sekeliling ruangan itu mempunyai dinding balairung. Pintu tenggelam utama ke pendapa wujud sama bab rongak dinding tuju. Letak pintu tanur terlihat mau atas akhir sebelah kiri ruangan adegan penghabisan. Tepatnya mau atas dinding mata angin kiri. Atap kantor yakni tarup yang berabung satu. Rabung itu memanjang arah fase kiri ke organ kanan, sekalipun keyakinan atapnya rani dibagian arah dan penutup balairung. Rabung kantor yang disebut tampong mampu dibagian atas ruangan senggang jeda. Atap aula adalah sehubungan tampang batu kapur. Pada dinding sisi haluan yang menjurus ke halaman rumah lahir pintu turun yang disebut pinto rumoh, yang berukuran lebih ajaib lebar 0,8 meter, dan tingginya 1 meter. Pada dinding pedoman seksi kanan dan kiri menyimpan jendela yang berukuran lebih miring lebar 0,6 meter dan tingginya 1 meter yang disebut tingkap. Kadang-kadang jendela terdapat juga mengenai dinding pihak haluan. Jendela rumah yang disebut tingkap jadi bakal dinding haluan kiri, kanan, hadap dan kesudahan setiap ruangan, kecuali tentang jurusan dinding untuk berkenaan pintu yang ke tenggarang. Pada dinding yang pucuk faktor barat berlandaskan ruangan penghujung itu tampak sebuah jendela yang besarnya sama dengan jendela yang tampak untuk berkenaan atrium haluan, padahal kepada penjuru jurusan timur tidak tampil jendela akan di wadah itu maujud ketuhar.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Di pada dinding hadap putaran kaku wujud rak kolam meletakkan barang-barang unyil yang disebut sandeng. Untuk kolam duduk terhadap sama umumnya menerapkan akar yang dihampar sepanjang serambi jurus tersebut. Jadi, serambi haluan ini sifatnya memuai. Kalau atrium haluan sifatnya terjaga, alkisah ruangan renggang sifatnya tertutup, karena di ruangan kurun waktu ini hadir tiga sambungan jambar (anjungan) tempat tidur. Ketiga bilik tersebut terpisah terletak di pucuk pedoman kiri Ahad balkon dan diujung pedoman kanan dua ruangan kira-kira tersebut. Letak kedua teras itu didasarkan terhadap sama tata krama posisi balairung, adalah mengabah ke Utara atau ke Selatan, alkisah ketiga panggung itu berasingan terletak di kompas Timur dan di arah Barat, sekalipun di tengah-tengah ruangan tersebut gang yang menghubungkan atrium abah bersandar-kan rongga dada konklusi yang disebut rambat. Ketiga anjungan tersebut berasingan diberi nama rumoh inong dan anjong. Rumoh inong ialah bilik yang makmur di segi barat, malahan anjong yaitu dua tribun yang makmur di penjuru Timur. Pada setiap kamar berlain-lainan tampak sebuah jendela, hanya kepada tribun babak tenggang tidak tersedia jendela. Jendela agih anjong ada akan dinding anjungan cita-cita Timur, sebaliknya rumoh inong hadir untuk berkenaan dinding bilik mata angin Barat. Pintu rumoh inong mengedepan ke rambat, sebaliknya pintu anjong Ahad mengarah ke rambat dan satunya mendekati ke rongga dada penghujung. Di dalam serambi tampil para yang menyala macam loteng dan juga ramai secara pasu akan meneruskan barang-barang yang garib digunakan atau senjata-senjata logis seperti tombak, anggar, kelewang, dan lain-lain. Pada serambi konklusi bab barat di niat rumoh inong terdapat Minggu esa sambungan panggung tidur, melainkan bab lainnya polos sebagaimana. begitu juga serambi depan. Pada ruangan ini wujud pintu yang mengarah ke kompor, dan stan saat ini perbaraan lulus tidak tampil lagi dibawa tsunami. Rumoh dapu itu didirikan di paruhan gedung segmen kesudahan dan ber-sanding dari berkaitan berasaskan kamar rongga dada penghujung. Letak ruangan ketuhar tersebut lebih kesalahan sehubungan serambi konklusi, dan bakir di ala jagat. Antara ruangan penjuru pada ruangan penyalai dihubungkan kasih sebuah tungai. Ruangan pengembara yang juga kita dapati di fragmen haluan luar gedung sama dengan ruangan kos yang disebut bale. Bale ini adalah ruangan insaf seperti palung duduk-duduk berpangku tangan. Tinggi ruangan itu agaknya satu meter pada buana</span></div></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;">Fungsi Ruang-Ruang Dalam Rumah Teuku Sabi Silang</span></span></h2><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Ruangan jurus sama dengan ruangan yang serba maksud cocok tempat keadaannya yang ingat bersandar-kan tidak berbilik-bilik. Fungsi ruangan jurus renggangan jauh sebagai kotak mengiakan tamu, bak duduk akan mengutil asal-kan tampil acara-acara kenduri dan perkawinan, tempat anak-anak menggali ilmu dan mencontoh, kotak sembahyang dan tempat tidur-tiduran. Selain itu, ruangan tuju ini dipergunakan macam pasu tidur pada anak-anak, lebih-lebih lagi kerabat laki-laki. Bagi bangsal yang menjalankan etiket menggunakan amben wadah duduk, alkisah gerai tersebut ditempatkan di ruangan ini. Ruangan ini dipergunakan juga selaku bak menjepret padi andai padi tersebut tidak muat lagi di dalam lumbung. Ruangan selingan sebagaimana yang taksiran dikemukakan tentang segmen kausa merupakan ruangan yang terdiri pada tiga dampak auditorium (ruang), tersendiri benar di segi Timur dan di kiblat Barat, dan sebuah gang. Oleh dengan itu, fungsi rafi ruangan tengah ini yaitu selaku ruangan wadah tidur, malahan gang yang mempunyai di tengah-tengah berlangsung ala kolam lalau lintas pu-rata ruangan (atrium) hadap akan ruangan (rongga dada) pucuk. Kamar sisi Barat yang disebut rumoh inong biasanya ditempati guna pemim-pin marga, tetapi anjungan sudut Timur yang disebut rumoh anjong ditempati untuk anak-anak perempuan. Jika memegang anak perempuan yang sahih dikawinkan, balai inong ditempati kepada anak perempuan tersebut, sebaliknya perintis kerabat geser ke rumoh anjong. Anak-anak yang semula menempati rumoh anjong pindah ke ruangan (atrium) kemunca di penjuru petunjuk aspek Barat. Selanjutnya asalkan ada dua keturunan perempuan yang asli dikawinkan, walaupun pendorong ahli tersebut belum berkecukupan menyelenggarakan bangsal yang pengembara, maka teras faktor Barat diserahkan menurut anak cucu perempuan yang tertua dan serambi kiblat Timur diserahkan pada bangsa perempuan yang ari. Dalam cuaca sama dengan ini pemandu ahli terpaksa menyingkir ke serambi konklusi babak Barat. Sebagaian ruangan belakang dipergunakan selaku ruangan anglo, dan ruangan palung mengutip. Dapur biasanya terletak jurusan timur. Jika ruangan belakang ini mengaplikasikan anjong atau ulee kuede, alkisah dapur diletakkan di anjong. Bagian Barat bersandar-kan ruangan kesudahan ini dipergunakan cara kolam duduk dan kolam sembahyang. Kadang-kadang dipergunakan juga pada bak tidur bakal kadim yang banyak peserta keturunan.</span></div></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;">Ragam Hias Rumah Teuku Sabi Silang</span></span></h2><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Pada konstruksi pendapa Teuku Sabi Silang aneka dijumpai ukir-ukiran, dari keturunan rumpun Aceh bakal hakekatnya termasuk spesies kerabat yang berjiwa seni. Ukir-ukiran yang menyimpan bagi bangunan tradisional sebagaimana. begitu juga tersebut di pada hidup beraneka motif atau jenis hias. Motif-motif tersebut yakni motif yang berkaitan atas kosmos alam astral, sama dengan, flora, fauna, dan awan. Fungsi julung berasaskan berjenisjenis seakan-akan motif dan sebagai hias itu yaitu sebagai hiasan semata-mata, sehingga sehubungan ukiran tersebut tidak angkut maksud dan maksud-maksud tertentu, kecuali motif bintang dan bulan, yang menunjukkan simbol ke-Islaman, motif awan berambal-ambalan (awan meucanek) yang menunjukkan lambang kesuburan, dan motif tali berpintal (taloe meuputa) yang menunjukkan peti persaudaraan yang awet tentang mega umat orang Aceh.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Ragam hias yang bermotif flora (tumbuh-tumbuhan) yaitu bagaikan hias yang bermotif bunga-bunga sebagai halnya bungong meulu (anakan melur), bungong jeumpa (semacam anakan cempaka), bungong permulaan uroe, yang adakala dilengkapi juga menurut p mengenai daun-daunnya. Hiasan-hiasan anak uang itu bukanlah merupakan yang hadir sendiri, sekalipun setiap ukiran anakan tersebut dipadukan dalam Ahad bungkus ukiran yang bersifat taloe meuputa (pintalan tali). Taloe meuputa itulah yang dijadikan model balak dan tangkai kasih setiap ukiran yang bermotif bunga tersebut. Setiap ukiran yang bermotif bunga-bungan beserta menurut p mengenai daun-daunnya itu tidak diberi corak warna luar, dari tentang umumnya serupa hias bangunan tradisional ras keluarga Aceh tidak diberi warna. Jika mempunyai yang berwarna, itu ialah imbangan ekses masa kini. Warna hiasan itu mengenai umumnya disesuaikan tentang warna tisu berlandaskan untuk berkenaan keseluruhan warna unit konstruksi tersebut. Ragam hias yang bermotif bunga-bunga yang ditempatkan bakal bangunan aula Teuku Sabi Silang apalagi hidup kepada binteh (dinding), tulak angen (penumpil arus udara), kindang (cadar dinding), indreng (balak kepada adegan kap), dan tingkap (jendela), Hiasan-hiasan (ukiran-ukiran) yang menyimpan bagi bangunan tradisional bani familia Aceh hendak umumnya tidak sedia maksud dan maksud-maksud tertentu. Demikian pula halnya menurut p mengenai hiasan yang bermotif bunga-bunga ini, semata-mata hanya membara seperti kemolekan saja. Seperti perkiraan dikemukakan di ala bahwa hiasan-hiasan (ukir-ukiran) yang terdapat tentu umumnya tidak memiliki ujung pangkal dan maksud-maksud tertentu. Demikian pula halnya arah hiasan yang bermotif bunga-bunga, semata-mata hanya bersungguh-sungguh seperti kejelitaan saja.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Jadi semula tidak diberi warna dan dalam perkembangan akhir-akhir ini warnanya disesuaikan dengan warna umbi ayad keseluruhan warna cat gedung itu. Seperti sangka dikemukakan di ala, dongeng hiasan yang bermotif burung, mandung dan itik sama umunya untuk dinding-dinding berlobang sama dengan tulak angen yang ditempatkan untuk berkenaan kedua kemunca kap putaran akan yang berkeadaan segitiga. Selain itu ditempatkan kepada dinding babak kepada yang berfungsi model lobang badai. Ragam hias akhirat akhirat, sama dengan rupa hias yang disebut canek awan (awan berarak). Disebut canek awan tentang bersifat awan berarak. Penempatan ukiran yang bermotif canek awan ini biasanya ditempatkan tentu reunyeun (tangga), tentang kindang (fondasi dinding) dan saat-saat akan peulangan bab dalam, yakni gelondong sangat yang dipasang perihal penghujung balak toi aula pu-rata.</span></div></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;">Sistem dan Struktur Bangunan</span></span></h2><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Pada kolong bangunan jadi tiang-tiang auditorium (tameh rumoh). Bentuk prin-sip itu bundar dan dibuat demi balak kayu yang abadi. Jumlah basis tersidai agih terlalu kecilnya kantor. Rumah yang benar yang disebut rumoh limong reweueng (gedung lima bilik) muncul 24 kelanjutan pedoman. Tiang-tiang itu tidak ditanam dalam buana, sedangkan didirikan di kepada pondasi (asas tata cara) tentang batu sungai yang disebut gaki tameh. Gaki tameh ini pun tidak ditanam dalam jagat, lagi pula diletakkan di pada pondasi persegi yang dicor akan rampaian sperma yang tingginya 20 cm.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Tiang-tiang itu didirikan dalam empat jajaran, sama dengan bagi jejeran arah, jauh depan, tenagh akhir dan tentang jejeran final, sehingga buat berlain-lainan banjaran terpendam enam akhir lunas. Tinggi dasar mengenai rangkaian abah dan penghabisan kira-kira empat meter dan kepada jejeran rumpang haluan dan masa akhir gaya-gayanya lima separuh meter. Jarak jarak tonggak berkat pegangan yang pendatang jangan-jangan dua setengah meter. Pada bab kira-kira terpisah sendi dibuat dua ekoran lobang dan terhadap sama putaran ujungnya dibuat sebuah puting (puteng tameh). Tiang-tiang itu dihubungakan lebih kurang Ahad terhadap yang pendatang bagi kayu-kayu balok yang dimasukkan ke dalam lobang-lobang tiang-tiang tersebut. Kayu batangan yang menghubungkan pegangan menurut p mengenai tiang-tiang dalam satu jajaran disebut rok, tetapi balak gelugu yang menghubungkan Minggu esa rangkaian asas berlandaskan jajaran pangkal rentetan fun-damen yang jauh disebut toi. Dengan dipasangnya rok dan toi itu, cerita tiang-tiang yang didirikan di atas globe yang berlandasan batu dapat memegang tentang tegap, dengan absah saling bersangkutan. Untuk lebih mengokohkan konstruksi itu, maka selain dipasang rok dan toi dipasang pula dua kesan gelondong kelewat yang disebut peulangan. Peulangan itu tersendiri dipasang bagi kemunca gelondong toi ruangan jeda (tungai). Selain itu, kalau menyetujui pemasangan rok atau toi tentang lobang-lobang hukum, alkisah pada setiap lobang pilar dipasang pula pivot yang disebut bajoe. Dengan berdirinya tiang-tiang itu, kisah terbentuklah gedung kantor putaran mudik.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Bagian pada rumah Teuku Sabi Silang merupakan babak ruangan gedung yang terdiri ala ruangan rongga dada depan (seuramoe reunyeuen atau seuramoe keue), ruangan renggang (tungai) dan ruangan atrium penghabisan (seuramoe likot). Ruangan selingan lebih pol sangka kira-kira sebelah meter daripada ruangan jurus dan penghujung. Pada terpisah ruangan diberi lantai dan dinding. Pemasangan lantai yang disebut aleue dilakukan tempat pandangan hidup sampai-sampai permulaan dipasang beberapa balak (agaknya sembilan terusan) di akan balok-balok toi mengenai setiap ruangan yang disebut lhue. Demikian pula kasih lhue sebab mega terbuat tentang batang bamboo, meskipun sekarang mega terbuat dari batangan balak. Bagi auditorium yang memakai lantai papan, kisah akhlak pemasangannya tempat kesopanan memaku lantai papan itu mau atas gelondong lhue.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Pemasangan dinding yang disebut binteh dilakukan berlandasan jenis dinding yang dipakai. Bagi balairung yang memakai dinding papan pemasangannya dilakukan dengan tata krama memaku dinding itu kepada tiang-tiang auditorium. Untuk dinding di episode kiri dan unit kanan pemakuannya dilakukan juga buat rang, yaui basis tengkes yang dipasang di jeda tiang-tiang pendapa. Rang itu bertumpu akan gelugu toi yang boleh mau atas tiang-tiang belahan. Pemasangan dinding auditorium Teuku Sabi Silang selain dipaku atau diikat kepada tiang-tiang juga diletakkan di pada balok-balok yang dipasang tentu ujung toi atau pucuk lhue yang disebut kindang. Kindang itulah tempat arketipe dinding auditorium, sehingga pemasangan dinding-dinding itu lebih langgeng. Sebenarnya di fragmen atas kindang dipasang lagi papan kecil yang disebut boh pisang. Dinding auditorium tidak hanya memakai dinding langka saja, meskipun juga memakai dinding dalam, merupakan dinding kepada ruangan rongak (tungai). Dinding itu ialah dinding-dinding paling yang siap buat ruangan jarang. Dinding dalam itu bertumpu tentu peulangan.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Konstruksi kap kantor bagi potongan jurus dan penghabisan bertumpu hendak batangan yang dipasang mau atas puncak lunas barisan jurus dan kemunca yang disebut gairah. Konstruksi kap babak kira-kira yang berharta di kepada ruangan kurun waktu bertumpu terhadap sama batangan yang dipasang tentu puting fun-damen jejeran antara haluan dan pu-rata pucuk yang disebut dorongan panyang yang letaknya sepikiran tempat roh. Selain bertumpu sama kebakaran panyang bangun kap juga bertumpu bagi elektrik linteueng (hawa nafsu yang melintang), sama dengan gelondong yang menghubungkan puting tata cara rentetan jarang kemunca. Di tengah-tengah setiap hawa nafsu linteueng didirikan balak banter lebih sinting tunggal meter yang disebut diri (deuri). Ujung akan tubuh ini dihubungkan renggang satu atas yang parak kepada sebuah balak yang disebut tuleueng rueng. Tuleueng rueng inilah yang yakni segmen penghujung berasaskan desain kap. Pada kedua puncak jiwa linteueng itu dipasang pula sebuah balak dalam peristiwa aneh yang disebut indreng yang letaknya sepadan atas spirit panyang. Pada masing-masing indreng dipasang pula sebuah gelondong yang dalam status,suasana telah sedeng yang disebut ceureumen. Letak ceureumen itu sepakat akan cahaya linteueng. Ceureumen itu menyimpan akan kedua belakang indreng. Pada bagaian renggangan sendiri-sendiri ceureumen didirikan sebuah tubuh lagi, sehingga tubuh inilah yang demi penunjang tuleueng rueng mau atas kedua ujung koneksi balairung.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Setelah terdapatnya sinar, spirit linteueng, sinar panyang, indreng, ceureumen, badan dan tuleueng rueng, dongeng sepenggal benar-benar rancang bangun berlaku terpasang, yang tinggal hanyalah kasau, rujukan kasau, kasau pendek, kayu-kayu mikro tempat bebat sudung. Kasau auditorium yang disebut gaseue dibuat karena pohon-pohon batang yang sedikit kicik sebesar balak puputan. Kasau itu dipasang di ala obor dan indreng, tetapi kepada potongan bibit kasau bertumpu bakal sebuah gelondong yang disebut neuduek gaseue dan adegan ujungnya berteras tentu teleueng rueng. Pada fragmen serat kasau kepada sama dengan babak lelehan sengkuap dan pada segmen penutup kasau untuk berkenaan yakni bubungan tarup (akhir genting). Pada neuduek gaseue dipasang beberapa tikam kayu cagak yang disebut bui teungeuet. Pada bab final bui teungeuet diikat arah tali kawat yang disebut taloe bawai. Lalu taloe bawai ini disangkutkan buat setiap puting rukun jajaran hadap dan tamat. Sebenarnya taloe bawai inilah yang yaitu standar besar atas keseluruhan kap bangsal yang berbentuk kerucut.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Untuk pemasangan asbes yang terbuat dari daun rumbia (daun sagu) diperlukan bilahan kayu pinang selaku bak popok para-para pendapa yang disebut beuleubah. Beuleubah itu dipasang di tenggang kasau-kasau. Pada babak jalur, beuleubah itu bertumpu akan sepenggal balak bangir yang disebut neuduek beuleubah. Pada beuleubah itulah asbes bangsal diikat berkat tali rotan. Pada penghujung kiri dan kanan pondong dipasang selembar papan yang duga kicik, sebentuk les penghalang yang disebut seupi. Untuk pemasangan kap dan sengkuap tidak dipergunakan paku. Pengganti paku dipergunakan tali ijuk atau tali rotan oleh pengikatnya. Penggunakan paku oleh auditorium hanya terbatas bagi pemasangan dinding dan lantai, itu pun kalau rumah itu berdinding papan dan berlantai papan.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">Kondisi Umum Bangunan Setelah Gempa dan Tsunami Dari dampak tilik kerusakan gedung gedung Teuku Sabi Silang dapat diklasifikasikan macam berikut, ialah jebol kelanjutan gempa, usang terusan cucuran tsunami, dan rusak ganjaran dimakan semut putih. Akibat gempa, dapat dilihat kepada bangunan yang terdapat di tangga pintu jatuh kondisinya isbat jebol dan setengah terem-pas atapnya. Dapur yang terdapat berhimpit di potongan rampung konstruksi gaib terbawa untuk gelombang tsunami. Daun jendela yang memiliki perihal bab sebelah kemunca gedung pembebasan menurut p mengenai dinding bangunannya. Di keratin itu, datang Minggu esa pedoman yang kealaman letaknya absah bertukar tengah Minggu esa meter menurut p mengenai pondasinya, dan beberapa pilar juga bersulih tengah 10 cm bersandar-kan pondasinya, kemudian betul tunggal akar yang menggelap terbawa agih riak sekte tsunami. Hal ini berpengaruh tentang lantai papan yang ditopang menurut wujud lunas tersebut selaku patah, demikian juga tentang gelondong melintang yang menghubungkan kedua basis lapuk dan patah, sehingga balok-balok lantai yang memegat lantai papan di atasnya juga mengecapi kerusakan. Kemudian hadir empat pegangan hendak bagian pulih yang ditopang pondasi penetapan busuk kesan dimakan rayap. Juga terselip Ahad tiang di balairung jauh yang putaran ujungnya maaf demi batangan melintangnya. Pada ornamen yang menyimpan buat dinding haluan aula, dinding bagian dalam auditorium, beberapa babak dimakan rangas dan magfirah dan setengah amat masih memesona kondisinya. Pada ornamen bagian episode kiri dan kanan pendapa setengah memiliki yang lepas dan terdapat juga yang dimakan kiyek, padahal agih ornament untuk berkenaan dinding fragmen belakang benar banyak yang maaf dan dimakan rangas. Ornamen-ornamen tersebut maujud fungsi ala ventilasi kedudukan. Pada beberapa ornamen yang berpasangan akan balok melintang bakal segmen terpisah gedung masih adiwarna kondisinya, lagi pula buat ornament yang ber-kembar pada gelugu melintang dapur akhir segmen kikuk kelihatan retak-retak. Untuk balak lantai terdapat seserpih yang busuk resultan dimakan kiyek, dan sepenggal patah imbas gempa, walaupun lantai papan bermacam-macam yang dimakan semut putih, menggelap, dan seserpih masih dapat dimanfaatkan menurut p mengenai kondisinya masih sosial. Keseluruhan penampang sengkuap kondisinya masih hangat, sehingga masih dapat digunakan lagi hanya belakang genting yang terbuat dari Bahan galian bisa diganti pada pucuk sudung demi rumbia.</span></div></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="font-weight: normal;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;">Beberapa Teknik Tradisionil Dalam Bangunan</span></span></h2><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">1. Penempatan tiang-tiang yang diletakkan di pada pondasi, dan tersendiri asas tidak dihubungkan akan gelondong jembatan. Hal ini sama dengan simbol tua akan bangunan tahan gempa.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">2. Tiang-tiang yang datang di putaran ambang kanan dan kiri bangunan tentang bab atasnya tidak menopang pikulan. Pada babak pada berkat tata cara dibuat membu-sung dan lebih mungil ukurannya, kemudian balok-balok yang menghubungkan mengiringi basis diberi lobang sebesar lazim yang menonjol tersebut kemudian diletakkan di kepada prin-sip.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">3. Penempatan nomor hendak kuda-kuda yang dihubungkan dari balak melintang yang terlihat di bawahnya tidak menggunakan baut atau paku. Pada putaran kembali pada skoor tersebut sebagai ambet hanya diberi dua resultan as, sehingga jikalau membenarkan angkutan atau kiprah demi kepada buat melentur tidak merusak bentuk kuda-kuda atau sudung macam keseluruhan.</span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;">4. Pertemuan balok melintang yang mengalangi akan ruang-ruang unggul berdasarkan batangan memanjang, merupakan berdasarkan mengakuri lobang bagi balak memanjang yang fungsinya agih memasukkan sebelah pada gelugu melintang biar sepotong pada balak melintang tersebut dapat dimasukkan, sehinga kalau terjadi aksi tidak merusak figur bangunan.</span></div></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span ><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;">Sumber</span></span></h2><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"><i>[1] Alfian, T. I. 2005. Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.</i></span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"><i>[2] Hadjad, A., Zaini, A., Mursalan, A., Kasim, S. M., &amp; Razali, U. 1884. Arsitektur Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1981/1982</i></span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"><i>[3] Hurgronje, S. 1985. Aceh Di Mata Kolonialis, Jilid I, Jakarta: Yayasan Soko Guru.</i></span></div></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"><i>[4] Hurgronje, S. 1985. Aceh Di Mata Kolonialis, Jilid II, Jakarta: Yayasan Soko Guru.</i></span></div></div><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"><i><span style="color: black;"><a href="https://www.blogger.com/null" name="Sejarah_Rumah_Teuku_Sabi_Silang" style="background-image: none; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="Tipologi_Bangunan_Rumah_Teuku_Sabi_Silang" style="background-image: none; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="Fungsi_Ruang-Ruang_Dalam_Rumah_Teuku_Sabi_Silang" style="background-image: none; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="Ragam_Hias_Rumah_Teuku_Sabi_Silang" style="background-image: none; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="Sistem_dan_Struktur_Bangunan" style="background-image: none; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="Beberapa_Teknik_Tradisionil_Dalam_Bangunan" style="background-image: none; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="sumber" style="background-image: none; line-height: 19.20240020751953px;"></a><br /></span></i></span></div><div style="line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><div style="text-align: justify;"><span style="background-color: white; font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"><i>[5] Reid, A. 2005. Asal Mula Konflik Aceh Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia</i></span></div></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-85547211382162666062014-03-21T21:14:00.001+07:002015-05-02T15:41:15.388+07:00Kisah Sultan Iskandar Muda Hukum Pancung Putra Mahkota Kesayangan<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-PRn5FjXU2xg/UyxI9POu0_I/AAAAAAAAAwM/9tJogr8Z8ck/s1600/download+(1).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><span style="background-color: white; color: black;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-PRn5FjXU2xg/UyxI9POu0_I/AAAAAAAAAwM/9tJogr8Z8ck/s1600/download+(1).jpg" height="239" width="320" /></span></a></td></tr><tr><td style="text-align: center;"><span style="background-color: white;">Makam Meurah Pupok</span></td></tr></tbody></table><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Inilah inti induk filosofis yang bersulih berkat udara penghukuman kepada Sultan Iskandar Muda pada Putra Mahkota Kesayangannya, Meurah Pupok yang harus membatalkan hidupnya di Ujung Pedang Ayahandanya sendiri".</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam &nbsp;Penguasa Sumatera dan Semenanjung Malaka sedang berdiam diri dalam istana. Sultan merenung di Balairung yang juga tidak jauh dari Balai Cermin yang Agung. Sumatera dan Malaka sudah dalam genggamannya. Namun, ia pun melihat Portugis, Inggris dan beberapa Negara Eropa lain sedang mengincar penguasaan Selat Malaka.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Beliau telah memerintah Aceh dan daerah taklukannya hampir 30 tahun. Ia seorang pribadi yang kuat dalam arti yang sebenarnya secara fisik dan mental. Seorang bangsawan yang cerdas serta tegas. Negarawan yang adil sekaligus politisi dan diplomat yang ulung. Ia adalah Sultan terbesar Aceh yang mampu membawa Aceh Darussalam mencapai kejayaan dan menjadi kerajaan yang disegani.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam kurun hampir 30 tahun masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda telah berhasil menyempurnakan Qanunul Asyi Ahlussunah Wal Jamaah yang terdiri dari 500 ayat Al-Quranul Karim, 500 Hadist Rasulullah, Ijma' Sahabat rasulullah, Qiyas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Kemudian dilengkapi pula dengan Qanun Putroe Phang suatu aturan yang mampu memberikan perlindungan kepada Kaum Wanita.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ditengah perenungannya didalam Istana, Sultan mulai memikirkan kederisasi kepemimpinannya. Ia membutuhkan seorang penerus kerajaan yang kuat yang mampu merpertahankan kekuasaannya dan menjaga Kerajaaan Aceh dan daerah taklukannya agar tidak tunduk pada kekuasaan asing, terutama Portugis dan Inggris yang saat itu terus melakukan provokasi di Selat Malaka.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sultan Iskandar Muda Terlintaslah pandangannya pada wajah Sang Putra Mahkota - Meurah Pupok - yang digelariSultan Muda atau Poteu Cut. Anak kesayangannya ini berwajah gagah mewarisi ketampanan wajah sang ayah. Putra Mahkota atau Poteu Cut ini memang masih belia, minim pengalaman. Saat ini sedang menanjak dewasa. Sultan merencanakan untuk memberikan beberapa tanggung jawab kepada Putra Mahkota agar ia belajar dan berpengalaman. Termasuk diantaranya tugas tempur untuk memimpin Armada Laut terbesar Kerajaan yaitu Armada Cakra Donya. Diharapkan dengan berbagai pengalaman penugasan termasuk dengan menjadi Panglima Perang pada saatnya nanti ia mampu menggantikan dirinya untuk menjadi Sultan.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Menurut sebuah riwayat Sultan Iskandar Muda memiliki dua anak, yang pertama adalah Meurah Pupok yang berasal dari istrinya seorang Putri Gayo. Yang kedua adalah wanita yang bernama Safiatuddin yang berasaal dari istrinya Putri Pedir/Pidie. Meurah Pupok dikenal sebagai seorang Pangeran yang terampil menunggang kuda. Meurah Pupok menjadi harapan Sultan Iskandar Muda untuk menggantikannya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ditengah lamunannya Sultan terpengarah karena tiba-tiba seorang Perwira Muda Kerajaan yang sangat dikenalnya dan merupakan kepercayaannya tiba-tiba menorobos masuk dan langsung berlutut menyembah dirinya. Dengan terbata-terbata Sang Perwira menangis tersedu-sedu sambil menyebutkan bahwa Putra Mahkota Poteu Cut Meurah Pupok telah melakukan tindakan asusila dengan menodai istrinya. Perwira tersebut langsung membunuh istrinya setelah mengetahui peristiwa tersebut. Namun, untuk Putra Mahkota ia serahkan sepenuhnya pada kebijaksanaan Sultan. Ia menuntut keadilan kepada Sultan. Selepas ia mengadukan hal tersebut kepada Sultan, Perwira tersebut langsung mencabut rencongnya dan menikam ke hulu hatinya sendiri tanpa sempat dicegah oleh Sultan dan pengawalnya. Robohlah perwira tersebut dan langsung tewas saat itu juga.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Syahdan Perwira Muda ini adalah Pelatih Angkatan Perang Aceh. Ia mengetahui peristiwa tersebut setelah melakukan pelatihan terhadap para prajurit di kawasan Blang Peurade Aceh. Ia sangat kecewa dengan peristiwa yang melibatkan istrinya tersebut. Kekecewaan tersebut ia tumpahkan dengan membunuh istrinya sendiri kemudian ia sendiri bunuh diri dihadapan Sultan.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tercenunglah Sultan dengan wajah bergetar menahan amarah. Ia baru saja menaruh harapan terhadap Putra Mahkota, namun peristiwa yang baru terjadi bagaikan geledek yang menyambar dirinya. Seorang Perwira kerajaan kepercayaan dirinya menyampaikan pengaduan yang membuat dunia ini seolah-olah runtuh. Putra Mahkota kesayangannya telah melakukan tindakan yang tidak patut.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Segera Sultan berteriak garang disaksikan orang-orang penting Kerajaan dan para pengawalnya. "Aku sama dengan Sultan Penguasa Aceh, Sumatera dan Malaka. Aku ramal menyangga Aceh dan taklukannya karena menegakan etika yang seadil-adilnya. Aku pun bakal menegakan etika akan keluargaku sendiri. Aku pun buat mempraktikkan kepatuhan menurut Putra Mahkota yang seberat-beratnya. Dengan tanganku sendiri bagi kupenggal leher putraku atas rada menye-rempet moral dan lembaga rat ini..."</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Semua pembesar kerajaan tercenung. Sultan segera memerintahkan penangkapanPutra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Poteu Cut atau Sultan Muda. Pengadilan segera dilakukan dan Sultan Iskandar Muda telah memutuskan bahwa ia sendirilah yang akan memancung putra kesayangannya itu. Mendung menggelayut diatas Kerajaan Aceh, prahara telah menghantam negeri perkasa ini.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Beberapa pembesar kerajaan yang peduli terhadap kelangsungan kerajaan bersepakat untuk menghadap Sultan Iskandar Muda agar membatalkan hukuman pancung tersebut. Mereka mengajukan berbagai usul seperti pengampunan atau cukup dengan mengasingkan Putra Mahkota ke negeri lain. Termasuk mencari kambing hitam, mencari seorang pemuda lain untuk menjadi pesakitan menggantikan Putra Mahkota. Semua usul tersebut ditolak oleh Sultan dan dengan berang Sultan berkata akulah yang menegakan hukum di negeri ini dan kepada siapapun yang bersalah tidak terkecuali terhadap keluargaku sendiri harus dihukum. Kerajaan ini kuat karena hukum yang ditegakan dan adanya keadilan. Sultan kemudian menyebut dalam bahasa Aceh -"...Gadoh aneuk meupat jrat, Gadoh hukom ngon adat pat tamita...?" - yang artinya "meresap bani masih siap kuburan yang bisa kita lihat, lagi pula umpama etos dan akhlak yang lenyap akan kemana kita mencarinya?"</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Semua pembesar kerajaan terdiam tak kuasa membantah titah Raja Perkasa yang adil ini. Mereka mulai membayangkan bagaimana masa depan negeri ini. Bahkan Menteri Kehakiman pun yang bergelar Sri Raja Panglima Wazir berusaha membujuk tetapi Sultan tetap tidak bergeming. Sultan berketetapan hati tetap melaksanakan putusannya. Sultan sendiri dengan tegas mengatakan apabila tidak ada seorang pun yang mau melakukan hukuman ini maka ia sendiri yang akan melakukannya. Pada hari yang ditentukan dilaksanakanlah hukuman pancung tersebut yang langsung dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda terhadap Putra Mahkota kesayangannya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dibawah linangan air mata masyarakat yang mencintai Sultan dan Putra Mahkotanya disaksikan pembesar kerajaan yang berwajah sendu dan tertunduk tidak mampu menatap kejadian tersebut, Sultan Iskandar Muda dengan tegar melaksanakan hukuman pancung terhadap Putra Mahkota kesayangannya itu. Langit kerajaan Aceh menjadi mendung kelabu.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Rakyat kebanyakan maupun pembesar kerajaan banyak yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Putra Mahkota. Mereka semua menaruh harapan besar terhadap Putra Mahkota sebagai pewaris kerajaan dan turunan langsung Sultan Iskandar Muda. Tetapi hukum telah ditegakan dan Sultan langsung yang melaksanakan keputusan tersebut.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Atas keputusan Sultan Iskandar Muda pula jenajah Meurah Pupok tidak dibolehkan untuk dimakamkan dikompleks pemakaman kerajaan. Pemakaman kerajaan disebut dengan Kandang Mas yang berada dilingkungan Istana Darul Donya. Jenazah hanya dimakamkan disuatu kompleks di luar area Keraton yaitu didekat lapangan pacuan kuda Medan Khayali.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ternyata Sebuah Konspirasi</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Waktu terus berjalan, Sultan mulai memikirkan siapa penggantinya. Kemudian berkembanglah sebuah informasi bahwa Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Sultan Muda Poteu Cut, memang sengaja disingkirkan oleh sebuah konspirasi. Oleh sekelompok orang tertentu yang tidak menginginkannya menjadi Raja atau Sultan, mencoba mencari berbagai cara untuk mencegahnya menjadi Sultan. Kelompok ini tidak berani berhadapan secara langsung dengan Sultan atau melakukan tindakan gegabah. Mereka berusaha menjebak Putra Mahkota dengan berbagai cara. Dicarilah akal bulus untuk menggoda Sultan Muda yang sedang menanjak dewasa ini. Sebagai pria muda ia dianggap akan mudah tergoda dengan wanita.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Akhirnya ditemukan seorang wanita jelita yang kebetulan pula istri seorang Perwira Kerajaan dan kepercayaan Sultan Iskandar Muda. Karena istri seorang perwira kepercayaan Sultan, wanita ini dengan mudah masuk kedalam lingkungan Istana. Sehingga ia dengan mudah bergaul di istana dan mendekati Pangeran Muda yang tampan yang juga adalah seorang Putera Mahkota. Akhirnya akibat godaan sedemikian rupa Sultan Muda terjebak kedalam skenario yang dibuat oleh konspirasi jahat yang bertujuan ingin menjebak dan menyingkirkannya. Akhirnya sebagaimana diketahui bersama konspirasi jahat itu berhasil menyingkirkan Putra Mahkota Sultan Muda yang bernama asli Meurah Pupok.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Informasi ini sampai ketelinga Sultan Iskandar Muda, namun semuanya telah terjadi. Ia mulai membayangkan Putra kesayangannya tersebut yang juga Putra Mahkota yang kelak diharapkan melanjutkan kepemimpinannya. Terbayang olehnya akan wajah seorang pemuda tampan namun minim pengalaman. Ditengah usianya yang menanjak dewasa sangat mungkin ia mudah tergoda. Sultan mulai menyesali kealpaannya dalam mengawasi Putra Mahkota kesayangannya itu. Ia dirundung kesedihan mendalam. Kesedihan yang terus menerus ini membuat Sultan jatuh sakit. Sakitnya berlangsung terus dan semakin parah. Dalam beberapa waktu kemudian Sultan Iskandar Mudayang perkasa ini akhirnya mangkat tepatnya pada tanggal 27 Desember 1636.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pengganti Sultan adalah menantunya yaitu Sultan Iskandar Tsani. Setelah Sultan Iskandar Tsani mangkat ditunjuklah istrinya yang juga anak Sultan Iskandar Muda dan adik Meurah Pupok yaitu Ratu Tajul Alam Syafiatuddin menjadi Ratu Penguasa Kesultanan Aceh. Dalam masa kepemimpinan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin ia mencoba memulihkan kembali nama baik abangnya Meurah Pupok, karena sesungguhnya abangnya tersebut tidak sepenuhnya salah. Abangnya dijebak oleh suatu konspirasi yang jahat. Ratu kemudian membangun makam untuk abangnya Meurah Pupok yaitu suatu bangunan yang indah yang menjadi kenang-kenangan bagi peristiwa masa lalu untuk dijadikan pelajaran agar para penguasa dan keluarganya harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Bangunan makam ini disebut dengan Kandang Poteu Cut. Kandang ini terletak pada lokasi strategis yaitu disisi barat Kandang Perak dan Taman Sari pada tepi jalan masuk ke Medan Khayali. Namun, makam Meurah Pupok yang disebut Peucut ini sempat dihancurkan Belanda. Peucut berasal dari Pocut yang berarti Putra Kesayangan.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Hukum dan Adat harus ditegakkan meski anak harus dikorbankan. Sebab menegakkan Adat Identik dengan menegakkan Hukum Islam masa itu. "Hukom ngen adab lage biro ngen sifheut". Tuduhan berbuat zina dialamatkan kepada Meurah Pupok, namun tidak umum diketahui bagaimana proses peradilan berdasarkan hukum Islam terhadapnya. Tidak jelas siapa nama empat orang saksi yang dihadapkan ke muka pengadilan. Siapa saja yang bertindak sebagai hakim yang mengadili kasus ini. Sebab walaupun raja adalah penentu tertinggi, tapi sebagai sebuah kerajaan Islam, tentulah ketentuan-ketentuan syari’at dijunjung tinggi.</span></div><span style="background-color: white;"><a href="https://www.blogger.com/null" name="Asal_Muasal_Tragedi" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><br /></span><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Demi menegakan hukum Sultan Iskandar Muda rela menghukum mati anaknya sendiri yang nota bene merupakan putra kesayangannya sekaligus penerus kekuasaannya. Meskipun kemudian diketahui kesalahan anaknya tersebut akibat suatu konspirasi yang memang sengaja menjebaknya. Tragedi Meurah Pupok ini memang telah dirancang sedemikian rupa oleh kelompok politisi istana yang berkhianat. Mereka dengan licik memanfaatkan Meurah Pupok yang tengah terjerat cinta. Konon ini merupakan permainan kelas tinggi. Sejarah telah memberikan pelajaran yang luar biasa buat kita, hukum memang harus ditegakan, namun kekuasaan itu pun syarat dengan intrik dan penuh tipu daya. Kisah Meurah Pupok memberikan hikmah yang sangat mendalam.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-22926499070551466792014-03-21T20:34:00.001+07:002015-05-02T15:46:35.547+07:00Christian Snouck Hurgronje dan Politik Devide Et Impera Terhadap Ulama dalam Perang Aceh<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-TTSoZJvqsb4/Uyw_GZwhreI/AAAAAAAAAv8/GKmgrUJdmPw/s1600/download.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><span style="background-color: white; color: black;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-TTSoZJvqsb4/Uyw_GZwhreI/AAAAAAAAAv8/GKmgrUJdmPw/s1600/download.jpg" height="200" width="135" /></span></a></td></tr><tr><td style="text-align: center;"><span style="background-color: white; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; line-height: 19.20240020751953px; text-align: left;">Christian Snouck Hurgronje</span></td></tr></tbody></table><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Nama lengkapnya, Christian Snouck Hurgronje, lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck pun sedari kecil sudah diarahkan pada bidang teologi, sehingga dia menjadi seorang pemeluk kristiani aliran Protestan yang taat dan konsisten dalam beragama.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab, 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah). Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arab-nya, Snouck kemudian melanjutkan pendidikan ke Mekah, 1884. Di Mekah, keramahannya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekkah pada waktu itu, Snouck kemudian berpura-pura memeluk agama Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Snouck Hurgronje adalah sosok kontroversial khususnya bagi kaum Muslimin Indonesia, terutama kaum muslimin Aceh. Bagi penjajah Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia adalah seorang sarjana yang berhasil dan sukses luar biasa dalam misinya memecah belah ulama di Aceh. Bahkan bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding, sehingga kebencian rakyat Aceh terhadap sosok Snouck telah melegenda sampai melawati beberapa keturunan hingga sekarang ini.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Namun, menurut penelitian terbaru menunjukkan peran Snouck sebagai orientalis ternyata hanya kedok untuk menyusup dalam kekuatan rakyat Aceh. Dia dinilai memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik, yang tujuan utamanya adalah untuk mencari titik lemah kehebatan pejuang-pejuang Aceh dalam melawan penjajahan kafee Belanda.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck para perkembangan selanjutnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Snouck berpendapat bahwa Al-Quran bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya Muhammad yang mengandung ajaran agama. Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori “Evolusi” Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia, dan mereka sangat kukuh mempertahankan argumen tersebut.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas dosa-dosa mereka. Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya. Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah mengatakan, “Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga Muslim Hindia Belanda- agar terbebas dari Islam”. Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah. Bahkan Snouck semakin yakin dengan sikapnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Snouck pernah mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Hindia Beland. Saat itu, Snouck belum pernah datang ke Hindia Beland, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah penjajahan Belanda.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak. Saat tinggal di Jeddah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah dari Hindia Belanda, yang tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Pada saat itu pula, ia menyatakan ke-Islam-annya dan mengucapkan kalimah Syahadat di depan khalayak dengan memakai nama “Abdul Ghaffar.”</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan “Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui ke-Islaman Anda”. Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi Arabia ini tercatat di dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda, sampai sekarang ini.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang ‘Ulama besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama di Saudi Arabia Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan pemerintahan penjajahan Belanda. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seiman dan seagama.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu. Snouck kemudian menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk ditugaskan di Aceh.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Saat itu perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck masih terus melakukan surat menyurat dengan ‘Ulama asal Aceh di Mekkah. Snouck tiba di Jakarta pada tahun 1889. Jendral Benaker Hourdec menyiapkan asisten-asisten untuk menjadi pembantunya. Seorang di antaranya adalah warga keturunan Arab Pekojan, yaitu Sayyid Utsman Yahya Ibn Aqil al Alawi. Ia adalah penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum Muslim atau asisten honorair.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam buku ”Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa”, Utsman bin Abdullah Al-’Alawi dikenal seorang pengabdi Pemerintah Kolonial Belanda yang amat setia. Untuk kesetiaannya yang luar biasa itu, ia dianugerahi “Bintang Salib Singa Belanda” tanggal 5 Desember 1899 tanpa upacara resmi. Ia bahkan pernah mengarang khotbah jum’at yang mengandung do’a dalam bahasa Arab untuk kesejahteraan Ratu Belanda Wilhelmina. Khotbah dan do’a itu kemudian dikenal di kalangan umat Islam sebagai “Khotbah Penjilat ”</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam upaya memadamkan pemberontakan Islam, Sayyid Utsman Al-’Alawi ini dikenal pula dengan fatwanya yang menyatakan bahwa jihad itu bukanlah perang melawan orang kafir, melainkan perang melawan nafsu-nafsu jahat yang bersarang pada diri pribadi setiap orang. Selain Al-’Alawi, Snouck juga dibantu sahabat lamanya ketika di Mekah, Haji Hasan Musthafa yang diberi posisi sebagai penasehat untuk wilayah Jawa Barat. Snouck sendiri memegang jabatan sebagai penasehat resmi pemerintah penjajah Belanda dalam bidang bahasa Timur dan Fiqh Islam. Jabatan ini masih dipegangnya hingga setelah kembali ke Belanda pada tahun 1906.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;(*2*)font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Bagian kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat yang menjadi sumber kekuatan ‘Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi. Cara yang ditempuh sama dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan ‘Ulama Jawa, Snouck menerima surat yang bertuliskan “Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana Abdul Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. “</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Lebih aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak: Salamah, ‘Umar, Aminah dan Ibrahim. Akhir abad 19 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah, putri khalifah Apo, seorang ‘Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Nöldeke, seorang orientalis Jerman terkenal. Sekedar catatan, Nöldeke adalah orientalis dan pakar Kearaban dari Jerman. Tahun 1860 ia menerbitkan bukunya, Geschichte des Qurans (Sejarah al-Quran). Karyanya ini dikembangkan bersama Schwally, Bergsträsser, dan Otto Pretzl, dan ditulis selama 68 tahun sejak edisi pertama. Sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis penyusunan Al-Quran. Musthafa A’zhami, dalam bukunya, The History of The Qur’anic Text, mengutip satu artikel di Encyclopedia Britannica (1891), dimana Nöldeke menyebutkan banyaknya kekeliruan dalam Al-Quran karena, kata Nöldeke, “Kejahilan Muhammad” tentang sejarah awal agama Yahudi – kecerobohan nama-nama dan perincian yang lain yang ia curi dari sumber-sumber Yahudi.’’</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sebagaimana dikutip dalam bukunya, Musthafa A’zhami, The History of The Qur’anic Text, Nöldeke, telah menuduh Nabi Muhammad sebagai penulis Al-Quran dan orang jahil. Selanjutnya, dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keIslaman dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi mendapatkan informasi.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ia menulis “Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. ” Temuan lain Koningsveld dalam surat Snouck mengungkap bahwa ia meragukan adanya Tuhan. Ini terungkap dari surat yang ia tulis pada pendeta Protestan terkenal Herman Parfink yang berisi, ‘Anda termasuk orang yang percaya pada Tuhan. Saya sendiri ragu pada segala sesuatu. “</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Yang jelas, selama tujuh bulan Snouck berada si Aceh, sejak 8 Juli 1891, baru pada 23 Mei 1892, ia mengajukan Atjeh Verslag, laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasehat strategi kemiliteran Snouck. Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher dalam dua jilid yang terbit 1893 dan 1894. Dalam Atjeh Verslag-lah pertama disampaikan agar kotak kekuasaan di Aceh dipecah-pecah. Itu berlangsung lama, karena sampai 1898, Snouck masih saja berkutat pada perang kontra-gerilya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Nasehat Snouck mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah uleebalang, tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah berposisi di sana menjadi takut. Untuk waktu yang singkat, metode yang dipakai berhasil. Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik devide et impera.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung. Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang. Van Heutsz adalah seorang petempur murni. Sebagai lambang morsose, keinginannya tentu menerapkan nasihat pertama Snouck; mematahkan perlawanan secara keras.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tapi Van Heutsz ternyata harus melaksanakan nasihat lain dari Snouck, yang kemudian beranggapan pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan akan melahirkan implikasi yang tambah sulit diredam. Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Sehingga Snouck terpaksa membalikkan metode, dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dr. P. Sj. Van Koningsveld, penulis Belanda yang gemar mengumpulkan tulisan-tulisannya bertalian kegiatan kontroversial Snouk mencatat beberapa perilaku Snouck Hurgronje. Kumpulan tulisan Van Koningsveld ini banyak mendapat pertentangan dikalangan akademisi yang masih menjadi almamaternya di Leiden. Dalam bukunya Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Jakarta, 1989), Koningsveld menggambarkan kemungkinan Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat (1989: 95-107).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Van Koningsveld juga memberikan petunjuk-petunjuk yang memberikan kesan ketidaktulusan Snouck Hurgronje masuk Islam. Dia masuk Islam hanyalah untuk melancarkan tugasnya atau tujuannya yang hendak mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia, jadi bersifat politik–bukan ilmiah murni. Veld berkomentar tentang aktivitas Snouck: “Ia berlindung di balik nama “penelitian Ilmiah” dalam melakukan aktifitas spionase, demi kepentingan penjajah”.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Veld yang merupakan peneliti Belanda yang secara khusus mengkaji biografi Snouck menegaskan, bahwa dalam studinya terhadap masyarakat Aceh, Snouck menulis laporan ganda. Ia menuliskan dua buku tentang Aceh dengan satu judul, namun dengan isi yang bertolak belakang. Dari laporan ini, Snouck hidup di tengah masyarakat Aceh selama tiga puluh tiga bulan dan ia pura-pura masuk Islam.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda menyangkut kepentingan umat Islam. Atas sarannya, Belanda mencoba memikat ulama untuk tak menentang dengan melibatkan massa. Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan bagaimana menguasai beberapa bagian Jawa dengan memanjakan ulama.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam rentang waktu itu, ia menyaksikan budaya dan watak masyarakat Aceh sekaligus memantau peristiwa yang terjadi. Semua aktivitasnya tak lebih dari pekerjaan spionase dengan mengamati dan mencatat. Sebagai hasilnya ia menulis dua buku. Pertama berjudul “Aceh,” memuat laporan ilmiah tentang karakteristik masyarakat Aceh dan buku ini diterbitkan. Tapi pada saat yang sama, ia juga menulis laporan untuk pemerintah Belanda berjudul “Kejahatan Aceh.” Buku ini memuat alasan-alasan memerangi rakyat Aceh.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-67790516353784459102014-03-21T20:24:00.000+07:002015-05-02T13:28:16.612+07:00Legenda Atu Belah<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-kgyH0x8MOtA/Uyw9UbD25JI/AAAAAAAAAvw/f_75gl822sw/s1600/200px-Atu_Belah.jpg" imageanchor="1" style="background-color: white; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-kgyH0x8MOtA/Uyw9UbD25JI/AAAAAAAAAvw/f_75gl822sw/s1600/200px-Atu_Belah.jpg" height="152" width="200" /></a></div><span style="background-color: white;"><span style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"><br /></span><span style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;">Legenda Atu Belah</span><span style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;">&nbsp;menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Terjadi di sebuah desa Penarun Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, hidup satu keluarga miskin. Keluarga itu mempunyai dua orang anak, yang tua berusia tujuh tahun dan yang kecil masih kecil. Ayah kedua anak itu hidup sebagai petani, pada waktu senggangnya ia selalu berburu rusa di hutan.</span></span><br /><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada jaman dahulu di tanah Gayo, Aceh – hiduplah sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Ladang yang mereka punyai pun hanya sepetak kecil saja sehingga hasil ladang mereka tidak mampu untuk menyambung hidup selama semusim, sedangkan ternak mereka pun hanya dua ekor kambing yang kurus dan sakit-sakitan. Oleh karena itu, untuk menyambung hidup keluarganya, petani itu menjala ikan di sungai Krueng Peusangan atau memasang jerat burung di hutan. Apabila ada burung yang berhasil terjerat dalam perangkapnya, ia akan membawa burung itu untuk dijual ke kota.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Suatu ketika, terjadilah musim kemarau yang amat dahsyat. Sungai-sungai banyak yang menjadi kering, sedangkan tanam-tanaman meranggas gersang. Begitu pula tanaman yang ada di ladang petani itu. Akibatnya, ladang itu tidak memberikan hasil sedikit pun. Petani ini mempunyai dua orang anak. Yang sulung berumur delapan tahun bernama Sulung, sedangkan adiknya Bungsu baru berumur satu tahun. Ibu mereka kadang-kadang membantu mencari nafkah dengan membuat periuk dari tanah liat. Sebagai seorang anak, si Sulung ini bukan main nakalnya. Ia selalu merengek minta uang, padahal ia tahu orang tuanya tidak pernah mempunyai uang lebih. Apabila ia disuruh untuk menjaga adiknya, ia akan sibuk bermain sendiri tanpa peduli apa yang dikerjakan adiknya. Akibatnya, adiknya pernah nyaris tenggelam di sebuah sungai.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada suatu hari, si Sulung diminta ayahnya untuk pergi mengembalakan kambing ke padang rumput. Agar kambing itu makan banyak dan terlihat gemuk sehingga orang mau membelinya agak mahal. Besok, ayahnya akan menjualnya ke pasar karena mereka sudah tidak memiliki uang. Akan tetapi, Sulung malas menggembalakan kambingnya ke padang rumput yang jauh letaknya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">“Untuk apa aku pergi jauh-jauh, lebih baik disini saja sehingga aku bisa tidur di bawah pohon ini,” kata si Sulung. Ia lalu tidur di bawah pohon. Ketika si Sulung bangun, hari telah menjelang sore. Tetapi kambing yang digembalakannya sudah tidak ada. Saat ayahnya menanyakan kambing itu kepadanya, dia mendustai ayahnya. Dia berkata bahwa kambing itu hanyut di sungai. Petani itu memarahi si Sulung dan bersedih, bagaimana dia membeli beras besok.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Akhirnya, Petani itu memutuskan untuk berangkat ke hutan untuk berburu rusa, di rumah tinggal istri dan kedua anaknya, pada waktu makan, anak yang sulung merajuk, karena di meja tidak ada daging sebagai teman nasinya. Karena di rumah memang tidak ada persediaan lagi, maka kejadian ini membuat ibunya bingung memikirkan bagaimana dapat memenuhi keinginan anaknya yang sangat dimanjakannya itu.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Akhirnya si ibu menyuruh anaknya tersebut untuk mengambil belalang yang berada di dalam lumbung. (padahal sebelumnya siayah memesan kepada sang ibu jangan di buka lumbung yang berisikan belalang itu), Ketika si anak membuka tutup lumbung, rupanya ia kurang berhati-hati, sehingga menyebabkan semua belalang itu habis berterbangan ke luar.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sementara itu ayahnya pulang dari berburu, ia kelihatannya sedang kesal, karena tidak berhasil memperoleh seekor rusa pun. Kemudia ia sangat marah ketika mengetahui semua belalang yang telah di kumpulkan dengan susah payah telah lenyap hanya dalam tempo sekejap.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kemudian, dalam keadaan lupa diri si ayah menghajar isterinya hingga babak belur dan menyeretnya keluar rumah. Dan kemudian tega memotong sebelah (maaf) payudara istrinya, dan memanggangnya, untuk dijadikan teman nasinya. Kemudian wanita malang yang berlumuran darah dan dalam kesakitan itu segera meninggalkan rumahnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam keadaan keputusasaan si wanita tersebut pergi ke hutan, di dalam hutan tersebut si ibu menemukan sebongkah batu, dengan keputusasaan si ibu meminta kepada batu untuk dapat menelannya, agar penderitaan yang di rasakanya berakhir.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Selepas itu si ibu bersyair dengan kata-kata, “Atu belah, atu bertangkup nge sawah pejaying te masa dahulu,” kalau diartikan dalam bahasa indonesia “Batu Belah, batu bertangkup, sudah tiba janji kita masa yang lalu. “Kata-kata” itu dinyanyikan berkali-kali secara lirih sekali oleh ibu yang malang itu.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sesaat kemudian, Tiba-tiba suasana berubah, cuaca yang sebelumya cerah mejadi gelap disertai dengan petir dan angin besar, dan pada saat itu pula batu bersebut terbelah menjadi dua dengan perlahan-lahan tanpa ragu lagi si ibu melangkahkan kakinya masuk ke tengah belahan batu tersebut. Setelah itu batu yang terbelah menjadi dua tersebut kembali menyatu.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Si ayah dan kedua anaknya tersebut mencari si ibu, tetapi tidak menemukannya, mereka hanya menemukan beberapa helai rambut diatas sebuah batu besar, rambut tersebut adalah milik si ibu yang tertinggal ketika masuk kedalam atu belah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ia menangis keras dan memanggil ibunya sampai berjanji tidak akan nakal lagi, namun penyesalan itu datangnya sudah terlambat. Ibunya telah menghilang ditelan Batu Belah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Cerita Rakyat ini adalah cerita rakyat yang banyak di kenal anak-anak di masyarakat gayo. Mereka menggolongkannya sebagai legenda, Karena oleh penduduk gayo kejadian ini benar-benar terjadi di daerah mereka. Untuk membuktikannya mereka dapat menunjukkan kepada kita sebuah betu besar yang terletak kira-kira 35 km dari kota Takengon di Gayo.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]:blogger.com,1999:blog-5553808652974663742.post-87868145869849191522014-03-21T20:00:00.001+07:002015-05-02T20:15:21.275+07:00Nuruddin al-Raniri<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-JbN8hOjPafM/Uyw3L0lbZgI/AAAAAAAAAvY/M3GPZ4ptWVE/s1600/Syeikh_Nuruddin_Ar-Raniry.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><span style="background-color: white;"><img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-JbN8hOjPafM/Uyw3L0lbZgI/AAAAAAAAAvY/M3GPZ4ptWVE/s1600/Syeikh_Nuruddin_Ar-Raniry.jpg" height="200" width="132" /></span></a></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-size: small;">Biografi</span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Ulama Aceh Terkenal. Nama lengkapnya, Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji Al-Hamid (atau Al-Syafi'i Al-Asyary Al-Aydarusi Al-Raniri (untuk berikutnya disebut Al-Raniri). la dilahirkan di Ranir (Randir), sebuah kota pelabuhan tua di Pantai Gujarat, sekitar pertengahan kedua abad XVI M. Syekh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Rani, India, dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644. Ibunya seorang keturunan Melayu, sementara ayahnya berasal dari keluarga imigran Hadhramaut (Al-Attas: 1199 M). Ia adalah ulama penasehat di kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Seperti ketidakpastian tahun kelahiran, asal usul keturunan Al-Raniri pun memuat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, nenek moyangnya adalah keluarga Al-Hamid dari Zuhra (salah satu dari sepuluh keluarga Quraisy). Sementara kemungkinan yang lain Al-Raniri dinisbatkan pada Al-Humayd, orang yang sering dikaitkan dengan Abu Bakr 'Abd Allah b. Zubair Al-As'adi Al-Humaydi, seorang mufti Makkah dan murid termasyhur Al-Syafii (Azra 1994).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Daerah asal Al-Raniri, sebagaimana layaknya kota-kota pelabuhan yang lain, kota Ranir sangat ramai dikunjungi para pendatang (imigran) dari berbagal penjuru dunia.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ada yang berasal dari Timur-Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa. Tujuan utama mereka untuk melakukan aktifitas bisnis dan mencari sumber-sumber ekonomi baru. Di samping itu, mereka juga berdakwah dan menyebarluaskan ilmu-ilmu agama, sehingga menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dari Ranir pula, mereka kemudian berlayar kembali menuju pelabuhan-pelabuhan lain di Semenanjung Melayu dan Hindia untuk keperluan yang sama.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Jadilah orang Ranir dikenal sebagai masyarakat yang gemar merantau dari satu tempat ke tempat yang lain. Pola hidup yang berpindah-pindah seperti ini juga terjadi pada keluarga besar Al-Raniri sendiri, yaitu ketika pamannya, Muhammad Al-jilani b. Hasan Muhammad Al-Humaydi, datang ke Aceh (1580-1583 M) untuk berdagang sekaligus mengajar ilmu-ilmu agama, seperti fiqh, ushul fiqh, etika, manthiq, dan retorika. Kebanyakan dari mereka (perantau) biasanya menetap di kota-kota pelabuhan di pantai Samudera Hindia dan wilayah-wilayah kepulauan Melayu-Indonesia, lainnya (Azra: 1994).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><b>Nuruddin al-Raniri</b>&nbsp;tiba di Aceh pada hari Ahad 6 Muharram 1047 H, bertepatan dengan tanggal 31 mei 1637 M mengikuti jejak pamannya sebelumnya mengunjungi dan menetap di&nbsp;Aceh&nbsp;bernama Muhammad Jailani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniri yang datang ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Mansur Syah dari Perak (1577-1586).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada tahun 1637 M Nuruddin al-Raniri berada di Kutaradja (Aceh) dan menetap selama tujuh tahun dari masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) yang masih memiliki keturunan putra sultan Pahang yaitu menantu&nbsp;Sultan Iskandar Muda&nbsp;dan Sultanah Safiatuddin Syah istri&nbsp;Sultan Iskandar Tsani&nbsp;dan putri Sultan Iskandar Muda.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Sebagai ahli bidang syariat dan teolog, Nuruddin al-Raniri juga dikenal sebagai seorang syaikh dalam Tarekat Qadariyah dan Rifa’iyyah. Ia belajar kepada Syeikh Abu Hafs 'Umar bin 'Abdullah Ba Syaiban atau dikenal dengan Saiyid 'Umar al-'Aidrus Ba Syaiban (970-1030 H), kepada ulama ini beliau mengambil bai'at Thariqat Rifa'iyah. Al-Raniri ditunjuk oleh Ba Syaiban sebagai khalifah dalam Tarekat Rifa’iyyah dan bertanggung jawab untuk penyebarannya di wilayah Melayu-Indonesia.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ide pemikiran dan fatwa Nuruddin al-Raniri dituangkan dalam kitab-kitab karyanya mayoritas bersifat polemis dan sampai pada batas apologetis, ada sekitar 31 kitab (mungkin lebih) yang ditulis olehnya dan sebagian besarnya tentang fatwa pertentangan doktrin mistiko-filosofis Wujudiyyah yang telah berkembang turun temurun pada pengikut Wujudiyyah di Aceh yang dianggapnya sesat (heretical) dan menyimpang (<i>heterodox</i>).&nbsp;</span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: sopan; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-size: small;">Ilmu Yang Dikuasainya</span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ar Raniri memiliki pengetahuan luas yang meliputi tasawuf, qalam, fiqih, hadits, sejarah, dan perbandingan agama. Selama masa hidupnya, ia menulis kurang-lebih 29 kitab, yang paling terkenal adalah "Bustanul Salatin". Namanya kini diabadikan gaya nama akademi mahal tuntunan (IAIN) di Banda Aceh.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-size: small;">judul kitab-kitabnya</span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Diantara judul kitab-kitabnya:</span></div><ul style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 1.5em; list-style-image: url(http://acehpedia.org/skins/monobook/bullet.gif); list-style-type: square; margin: 0.3em 0px 0px 1.5em; padding: 0px;"><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab&nbsp;Al-Shirath al-Mustaqim&nbsp;(1634)</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Durrat al-faraid bi Syarh al-‘Aqaid an Nasafiyah (1635)</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Hidayat al-habib fi al Targhib wa’l-Tarhib (1635)&nbsp;?</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab&nbsp;Bustanus al-Shalathin fi dzikr al-Awwalin Wa’l-Akhirin&nbsp;(1638)</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Nubdzah fi da’wa al-zhill ma’a shahibihi</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Latha’if al-Asrar</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Asral an-Insan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Tibyan fi ma’rifat al-Adyan</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Akhbar al-Akhirah fi Ahwal al-Qiyamah</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Hill al-Zhill</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Ma’u’l Hayat li Ahl al-Mamat</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Aina’l-‘Alam qabl an Yukhlaq</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Syifa’u’l-Qulub</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Hujjat al-Shiddiq li daf’I al-Zindiq</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Al-Fat-hu’l-Mubin ‘a’l-Mulhiddin</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Al-Lama’an fi Takfir Man Qala bi Khalg al-Qur-an</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Shawarim al- Shiddiq li Qath’I al-Zindiq</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Rahiq al-Muhammadiyyah fi Thariq al-Shufiyyah.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Ba’du Khalg al-samawat wa’l-Ardh</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Kaifiyat al-Shalat</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Hidayat al-Iman bi Fadhli’l-Manaan</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab ‘Aqa’id al-Shufiyyat al-Muwahhiddin</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab ‘Alaqat Allah bi’l-‘Alam</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Al-Fat-hu’l-Wadud fi Bayan Wahdat al-Wujud</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab ‘Ain al-Jawad fi Bayan Wahdat al-Wujud</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Awdhah al-Sabil wa’l-Dalil laisal li Abathil al-Mulhiddin Ta’wil</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Awdhah al-Sabil laisan li Abathil al-Mulhiddin Ta’wil.</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Syadar al-Mazid</span></li><li style="margin-bottom: 0.1em;"><span style="background-color: white;">Kitab Jawahir al-‘ulum fi Kasyfi’l-Ma’lum</span></li></ul><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kiprah Nuruddin al-Raniry di Aceh tidak lebih dari tujuh tahun lamanya, sebagai alim, mufti dan penulis produktif ia telah memberi perhatian mendalam guna menentang doktrin Wujudiyyah dan mengembalikan kemurnian&nbsp;Islam&nbsp;baik secara dialog maupun represif. Hingga pada tahun 1644, beliau secara tiba-tiba meninggalkan Aceh menuju kota kelahirannya di&nbsp;India&nbsp;yaitu Ranir, diketahui melalui tulisan muridnya dalam kolofon kitab Jawahir al-‘Ulum fi Kasfy al-Ma’lum yang menyatakan bahwa ia berlayar ke tanah airnya Ranir pada tahun 1054 H, dan menyuruh salah seorang muridnya untuk menyelesaikannya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-size: small;">Gurunya</span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Beliau di katakan telah berguru dengan Sayyid Umar Abu Hafis Abdullah Basyeiban yang yang di India lebih dikenal dengan Sayyid Umar Al-Idrus kerna adalah khalifah Tariqah Al-Idrus Alawi di India. Ar-Raniri juga telah menerima Tariqah Rifaiyyah dan Qadariyah dari gurunya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Putera Abu Hafs yaitu Sayyid Abdul Rahman Tajudin yang datang dari Balqeum, Karnataka, India pula telah menikah setelah berhijrah ke Jawa dengan Syarifah Khadijah, puteri Sultan Cirebon dari keturunan Sunan Gunung Jati.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;"><br /></span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-size: small;">Jejak-jejak Intelektual Al-Raniri</span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Al-Raniri sendiri memulai perjalanan intelektualnya dengan belajar ilmu agama di tanah kelahirannya (Ranir), sebelum berkelana ke Tarim, Hadramaut, Arab Selatan, yang ketika itu menjadi pusat studi agama Islam.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pada tahun 1621 M, ia mengunjungi Makkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Nabi. Di tanah haram inilah Al-Raniri menjalin hubungan dengan para jamaah haji dan orang-orang yang sudah menetap dan belajar di Arab, yang kebetulan berasal dari wilayah Nusantara.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam kapasitas seperti ini, Al-Raniri sudah dapat dikategorikan telah menjalin hubungan dengan orang-orang Melayu, khususnya dalam hal komunikasi intelektual Islam. Jalinan hubungan inilah yang menjadi awal mula bagi perjalanan intelektual Islam Al-Raniri di kemudian hari.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam perkembangannya, Al-Raniri juga merupakan seorang syeikh tarekat Rifa'iyyah, yang didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 1183 M). Ia belajar ilmu tarekat ini melalui ulama keturunan Arab Hadramaut, Syeikh Said Abu Hafs Umar b. 'Abd Allah Ba Syaiban dari Tarim, atau yang dikenal di Gujarat dengan sebutan Sayid Umar Al Aydarus. Sementara Ba Syaiban sendiri belajar tarekat dari ulama-ulama Haramain selama empat tahun, seperti Sayyid Umar b.'Abd Allah Al-Rahim Al-Bashri (w. 1638), Ahmad Ibrahim b. Alan (w. 1624 M), dan 'Rahman Al-Khatib Al-Syaib 1605 M). Dari Ba Syaiban pulalah Al-Raniri dibaiat sebagai khalifah (penggantinya) untuk menyebarluaskan tarekat Rifaiyyah di tanah Melayu (Aboebakar Atjeh: 1979). Kendati demikian, Al-Raniri juga memiliki silsilah inisiasi dengan tarekat Aydarusiyyah dan Qodiriyyah Maqassari: tt).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Setelah beberapa tahun melakukan perjalanan intelektual di Timur-Tengah dan wilayah anak benua India, Al-Raniri mulai merantau ke wilayah Nusantara dengan memilih Aceh sebagai tempat tinggalnya. la datang di Aceh pada tanggal 31 Mei 1637 M (6 Muharram 1047 H), namun hingga kini belum diketahui secara pasti faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya memilih Aceh. Pilihan ini diduga karena ketika itu Aceh berkembang menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, politik dan agama Islam di kawasan Asia Tenggara, yang menggantikan posisi Malaka setelah dikuasai oleh Portugis, M). Adapun kemungkinan lainnya, Al-Raniri mengikuti pamannya, Syeikh Muhammad Jailani b. Hasan b. Muhammad Hamid (1588 M).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tidak hanya itu, tahun 1637 diragukan sebagai awal mula kedatangan Al-Raniri di Aceh. Ada dua keraguan yang menyebabkan hal itu. Pertama, jika dilihat dari kemahirannya dalam berbahasa Malayu, sebagaimana ditunjukkan dalam kitab-kitabnya, maka sangat mustahil Al-Raniri baru ke Aceh pada tahun tersebut. Shirat al-Mustaqim, misalnya, yang berbahasa Melayu disususn pada tahun 1634, ketika belum menetap di Aceh. Sementara keraguan kedua, jumlah karya-karyanya yang menyampai 29 buku tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dalam waktu tujuh tahun selama di Aceh (1637-1644 M).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dua keraguan inilah yang memperkuat asumsi bahwa sebelumnya Al-Raniri pernah datang ke Aceh, tetapi waktu itu tidak memperoleh sambutan dan penerimaaan yang layak dari pihak istana Sultan Iskandar Muda. Dari sini, ia melanjutkan perjalanannya ke daerah lain di kawasan ini. Sebagaimana tercatat dalam sejarah Kesultanan Aceh ketika Iskandar Muda berkuasa, ulama yang berpengaruh dan berperan sebagai mufti kerajaan adalah Syeikh Syams Al-Din Al-Sumaterani. Pada masa ini paham wujudiyyah menjadi ajaran resmi kerajaan. Sementara Al-Raniri menyerukan ajaran Sunni dan menentang paham wujudiyyah jelas kurang mendapat simpati dari Sultan</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Setelah Syeikh Al-Sumaterani meninggal, kemudian disusul pula oleh Sultan Iskandar Muda dalam beberapa waktu sesudahnya, Al-Raniri memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menyebarluaskan ilmu-ilmu agamanya. Ketika itu, sultan yang berkuasa, Sultan Iskandar Tsani, menantu Iskandar Muda, memberikan penghormatan tinggi kepada Al-Raniri dengan menjadikannya mufti kerajaan. Seperti Al-Raniri, Sultan Iskandar Tsani juga menentang paham wujudiyyah. Dengan kedudukan dan dukungan seperti ini, Al-Raniri dengan leluasa dapat memberikan sanggahan terhadap paham yang dikembangkan oleh dua ulama Aceh sebelumnya, Hamzah Fansuri dan Syams Al-Din Al-Sumaterani. Tidak hanya itu, Al-Raniri juga sering menerima permintaan dari sultan untuk menulis kitab-kitab agama, terutama tentang tasawuf, dalam rangka membatasi pengaruh paham wujudiyyah di Aceh.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kedekatan Al-Raniri dengan Sultan ini membawa implikasi yang cukup luas. Misalnya, dalam satu kesempatan dan didukung oleh Sultan, Al-Raniri mengadakan majelis persidangan dengan 40 ulama pendukung paham wujudiyyah guna membahas paham tersebut. Dari sidang ini kemudian lahir fatwa Syeikh Al-Raniri dan para ulama istana yang menghukumi kafir terhadap para pengikut paham wujudiyyah, sehingga boleh dbunuh. Tidak hanya sampai disini, Al-Raniri dengan penuh semangat menulis dan sering berdebat dengan para penganut paham panteisme ini dalam banyak kesempatan. Bahkan, perdebatan itu sering dilakukan dihadapan sultan.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam berdebat, dengan segala kemahirannya, ia berupaya keras membongkar kelemahan dan kesesatan paham wujudiyyah yang dianggapnya bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, seraya meminta para pengikutnya untuk bertaubat dan kembali pada jalan yang benar (Al-Qur’an dan Hadits). Namun, kegigihan Al-Raniri ini tidak banyak memenuhi target yang diharapkan. Sebab para pengikut paham wujudiyyah tetap bersikukuh pada pendiriannya. Sehingga akhirnya dengan penuh keterpaksaan, mereka harus dihukum mati. Selain itu, untuk membumihabguskan paham wujudiyyah, maka kitab-kitab wujudiyyah-nya Harnzah dan Syams Al-Din dibakar di depan masjid Baiturrahman Banda Aceh.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Setelah tujuh tahun sebagai mufti kerajaan, pada tahun 1644 Al-Raniri tiba-tiba kembali ke tanah kelahimnnya, dan tidak kembali lagi ke Aceh. Ketika itu, Al-Raniri sedang menulis kitab jawahir baru sampai bab kelima. Dan selanjutnya, ia perintahkan salah seorang murid dekatnya untuk menyelesaikan kitab tersebut. Kepulangan Al-Raniri yang secara mendadak ini menimbulkan. pertanyaan. di kernudian hari. Pertama, sebagaimana diungkapkan oleh A. Daudy dalam bukunya, Syeikh Nuruddin AI-Raniri, Al-Raniri kembali ke tanah leluhurnya karena ada ketidaksesuaian dengan kebijakan Sultanah Safiyyat al-Din yang berencana menghukum bunuh pada orang-orang yang menentang diperintah oleh seorang pemimpin perempuan. Sebagaimana berkembang dalarn tradisi masyarakat saat itu dan juga seiring dengan syari'at Islam yang dipahami masyarakat setempat, perempuan tidak layak jadi penguasa. A. Daudy memperkirakan bahwa Al-Raniri termasuk bagian dari kelompok penentang tersebut.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kedua, berdasarkan artikel Takeshi Ito pada tanggal 8 dan 22 Agustus 1643 dilaporkan, bahwa kepulangan Al-Raniri disebabkan karena perdebatan antara dirinya dengan ulama baru keturunan Minangkabau, Sayf Al-Rijal. Perdebatan ini terus berlarut-larut karena Al-Raniri selalu menilai pandangan Sayf Al-Rijal sebagai doktrin "sesat" karena termasuk paham wujudiyyah. Pada mulanya, Sultanah mengikuti pikiran-pikiran Al-Raniri, tetapi saat itu pendapat Rijal menemukan momentum terbaiknya di mata sultanah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Nampaknya, alasan yang terakhir atas lebih mendekati kebenaran. Pasalnya, jika Al-Raniri tergabung dalam kelompok oposan yang menentang Sultanah, bagaimana mungkin Sultanah memberikan banyak kemudahan dan fasilitas dalam menyelesaikan karya-karyanya, termasuk beberapa waktu sebelum keberangkatannya. Meski demikian, terlepas apa yang melatarbelakangi kepulangan Al-Raniri, ia tergolong salah satu ulama besar yang telah memberikan sumbangsih besar bagi dunia Islam Nusantara, terutama dalam bidang tasawuf dan fiqh. Bahkan,secara metodologis, pikiran-pikiran Raniri memiliki keterkaitan dengan kehidupan tradisional Islam Indonesia.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Banyak perkara menarik mengenai ulama ini, di antaranya kitab fikah dalam bahasa Melayu yang pertama sekali berjudul ash-Shirath al-Mustaqim adalah karya beliau. Demikian juga mengenai kitab hadis yang berjudul al-Fawaid al-Bahiyah fi al-Ahadits an-Nabawiyah atau judul lainnya Hidaya al-Habib fi at-Targhib wa at-Tarhib, adalah kitab membicarkan hadis yang pertama sekali dalam bahasa Melayu.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Hampir semua penulis menyebut bahawa Syeikh Nuruddin ar-Raniri dilahirkan di Ranir, berdekatan dengan Gujarat. Asal usul beliau ialah bangsa Arab keturunan Quraisy yang berpindah ke India. Tetapi salah seorang muridnya bernama Muhammad 'Ali atau Manshur yang digelarkan dengan Megat Sati ibnu Amir Sulaiman ibnu Sa'id Ja'far Shadiq ibnu 'Abdullah dalam karyanya Syarab al-'Arifin li Ahli al-Washilin menyebut bahawa Syeikh Nuruddin ar-Raniri adalah "Raniri negerinya, Syafi'ie nama mazhabnya, Bakri bangsanya."</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Pendidikan asasnya dipercayai diperolehnya di tempat kelahirannya Raniri atau Rander. Raniri/Rander, sebahagian riwayat mengatakan berdekatan dengan Kota Surat, dan riwayat lain mengatakan dekat Bikanir, kedua-duanya di negeri India. Syeikh Nuruddin ar-Raniri berhasil berangkat ke Mekah dan Madinah dalam tahun 1030 H/1621 M dan di sana beliau sempat belajar kepada Syeikh Abu Hafash 'Umar bin 'Abdullah Ba Syaiban atau nama lain ulama ini ialah Saiyid 'Umar al-'Aidrus. Kepada ulama ini beliau mengambil bai'ah Thariqat Rifa'iyah. Dalam sektor Thariqat Rifa'iyah itu syeikh yang tersebut adalah murid kepada Syeikh Muhammad al-'Aidrus. Selain Thariqat Rifa'iyah, Syeikh Nuruddin ar-Raniri juga pengamal Thariqat Qadiriyah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kedatangan Syeikh Nuruddin ar-Raniri buat pertama kalinya ke Aceh diriwayatkan dalam tahun 1577 M, tetapi ada juga ahli sejarah mencatat bahawa beliau sampai di Aceh pada tahun 1637 M. Ini bererti setahun setelah mangkatnya Sultan Iskandar Muda (memerintah dari tahun 1606 M hingga 1636 M). Syeikh Nuruddin ar-Raniri seakan-akan kedatangan pembawa satu pendapat baru, yang asing dalam masyarakat Aceh. Setiap sesuatu yang baru selalu menjadi perhatian dan pengamatan orang, sama ada pihak kawan atau pun pihak lawan. Fahaman baru yang dibawa masuk oleh Syeikh Nuruddin ar-Raniri itu ialah fahaman anti atau penolakan tasawuf ajaran model Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i. Kedua-dua ajaran ulama sufi itu adalah sesat menurut pandangan beliau.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Syeikh Nuruddin ar-Raniri mendapat tempat pada hati Sultan Iskandar Tsani, yang walaupun sebenarnya pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda beliau tidak begitu diketahui oleh masyarakat luas.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Oleh sebab ketegasan dan keberaniannya ditambah lagi, Syeikh Nuruddin ar-Raniri menguasai berbagai-bagai bidang ilmu agama Islam, mengakibatkan beliau sangat cepat menonjol pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Tsani itu. Akhirnya Syeikh Nuruddin ar-Raniri naik ke puncak yang tertinggi dalam kerajaan Aceh, kerana beliau mendapat sokongan sepenuhnya daripada sultan. Beliau memang ahli dalam bidang ilmu Mantiq (Logika) dan ilmu Balaghah (Retorika). Dalam ilmu Fikah, Syeikh Nuruddin ar-Raniri adalah penganut Mazhab Syafie, walaupun beliau juga ahli dalam ajaran mazhab-mazhab yang lainnya. Dari segi akidah, Syeikh Nuruddin ar-Raniri adalah pengikut Mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang berasal daripada Syeikh Abul Hasan al-Asy'ari dan Syeikh Abu Manshur al-Maturidi. Pegangannya dalam tasawuf ialah beliau adalah pengikut tasawuf yang mu'tabarah dan pengamal berbagai-bagai thariqah sufiyah. Tetapi suatu perkara yang aneh, dalam bidang tasawuf beliau menghentam habis-habisan</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i. Walau bagaimanapun Syeikh Nuruddin ar-Raniri tidak pernah menyalahkan, bahkan menyokong Syeikh Muhyuddin ibnu 'Arabi, Abi Yazid al-Bistami, 'Abdul Karim al-Jili, Abu Manshur Husein al-Hallaj dan lain-lain. Perkataan yang bercorak 'syathahiyat' yang keluar daripada ulama-ulama sufi yang tersebut itu tidak pernah beliau salahkan tetapi sebaliknya perkataan yang bercorak 'syathahiyat' yang berasal daripada Syeikh Hamzah al- Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i selalu ditafsirkan secara salah oleh Syeikh Nuruddin ar-Raniri. Di dalam karyanya Fath al-Mubin 'ala al-Mulhidin, Syeikh Nuruddin ar-Raniri berpendapat bahawa al-Hallaj mati syahid. Katanya: "Dan Hallaj itu pun syahid fi sabilillah jua." Padahal jika kita teliti, sebenarnya Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i itu pegangannya tidak ubah dengan al-Hallaj.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ajaran Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i berpunca daripada ajaran Syeikh Muhyuddin ibnu 'Arabi, Syeikh Abi Yazid al-Bistami, Syeikh 'Abdul Karim al-Jili dalam satu sektor. Dan bahagian lain juga berpunca daripada ajaran Imam al-Ghazali, Syeikh Junaid al-Baghdadi dan lain-lain, adalah dipandang muktabar, sah dan betul menurut pandangan ahli tasawuf. Bahawa ajaran tasawuf telah berurat dan berakar di kalbi, bahkan telah mesra dari hujung rambut hingga ke hujung kaki, dari kulit hingga daging, dari tulang hingga ke sumsum pencinta-pencintanya, yang tentu saja mereka mengadakan tentangan yang spontan terhadap Syeikh Nuruddin ar-Raniri. Bahkan kepada siapa saja yang berani menyalah-nyalahkan pegangan mereka. Pengikut-pengikut Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i menganggap kedua-dua guru mereka adalah wali Allah, yang faham terhadap pengetahuan syariat, tarekat, haqiqat dan makrifat. Mereka beranggapan, walaupun diakui bahawa Syeikh Nuruddin ar-Raniri sebagai seorang ulama besar, yang dikatakan juga telah mengetahui ilmu tasawuf, namun tasawuf yang diketahui oleh Syeikh Nuruddin ar-Raniri itu hanyalah tasawuf zahir belaka. Bahawa beliau hanyalah mengetahui kulit ilmu tasawuf, tetap tidak sampai kepada intipati tasawuf yang sebenar-benarnya. Bahawa beliau baru mempunyai ilmu lisan sebagai hujah belaka, tetapi belum mempunyai ilmu kalbi, yang dinamakan juga dengan ilmu yang bermanfaat. Oleh itu, wajiblah mereka membela guru mereka yang mereka sanjung tinggi itu.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Selama menetap di Pahang atau pun setelah beliau pindah ke Aceh, ramai penduduk yang berasal dari dunia Melayu belajar kepada ulama besar yang berasal dari India itu, namun sampai riwayat ini saya tulis, belum dijumpai tulisan yang menyenaraikan nama murid-murid Syeikh Nuruddin ar-Raniri. Untuk memulakan penjejakan mengenainya di sini dapat saya perkenalkan hanya dua orang, iaitu: Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi/al-Maqasari al-Khalwati yang berasal dari Makasar/tanah Bugis. Tidak begitu jelas apakah Syeikh Yusuf Tajul Khalwati ini belajar kepada Syeikh Nuruddin ar-Raniri sewaktu beliau masih di Aceh atau pun Syeikh Yusuf datang menemui Syeikh Nuruddin ar-Raniri di negerinya, India. Sementara pendapat lain menyebut bahawa Syeikh Yusuf Tajul Khalwati benar-benar dapat berguru kepada Syeikh Nuruddin ar-Raniri sewaktu masih di Aceh lagi, dan Syeikh Yusuf Tajul Khalwati menerima bai'ah Tarekat Qadiriyah daripada Syeikh Nuruddin ar-Raniri. Yang seorang lagi ialah Syeikh Muhammad 'Ali, ulama ini berasal dari Aceh.</span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: sehat; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-size: small;">Pengaruh Al-Raniri</span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Berdasarkan paparan sebelumnya, Al-Raniri merupakan sosok ulama yang memiliki banyak keahlian. Dia seorang sufi, teolog, faqih (ahli hukum), dan bahkan politisi. Keberadaan Al-Raniri seperti ini sering menimbulkan banyak kesalahpahaman, terutama jika dilihat dari salah satu aspek pemikiran saja. Maka sangat wajar, jika beliau dinilai sebagai seorang sufi yang sibuk dengan praktek-praktek mistik, padahal di sisi lain, Al-Raniri adalah seorang faqih yang memiliki perhatian terhadap praktek-praktek syariat. Oleh karena itu, untuk memahaminya secara benar, haruslah dipahami semua aspek pemikiran, kepribadian dan aktivitasnya (Azra: 1994).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Keragaman keahlian Al-Raniri dapat dilihat kiprahnya selama. di Aceh. Meski hanya bermukim dalam waktu relatif singkat, peranan Al-Raniri dalam perkembangan Islam Nusantara tidak dapat diabaikan. Dia berperan membawa tradisi besar Islam sembari mengeliminasi masuknya tradisi lokal ke dalam tradisi yang dibawanya tersebut. Tanpa mengabaikan peran ulama lain yang lebih dulu menyebarkan Islam di negeri ini, Al-Ranirilah yang menghubungkan satu mata rantai tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam Nusantara.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Bahkan, Al-Raniri merupakan ulama pertama yang membedakan penafsiran doktrin dan praktek sufi yang salah dan benar. Upaya seperti ini memang pernah dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Fadhl Allah Al-Burhanpuri. Namun, Al-Burhanpuri tidak berhasil merumuskannya dalam penjabaran yang sisternatis dan sederhana, malahan membingungkan para pengikutnya, sehingga Ibrahim Al-Kurani harus memperjelasnya. Upaya-upaya lebih lanjut tampaknya pernah juga dilakukan oleh Hamzah Fansuri dan Samsuddin Al-Sumaterani, tetapi keduanya gagal memperjelas garis perbedaan antara Tuhan dengan alam dan makhluk ciptaannya (Azra: 1994).</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Oleh karena itu, dalam pandangan Al-Raniri, masalah besar yang dihadapi umat Islam, terutama di Nusantara, adalah aqidah. paham immanensi antara Tuhan makhluknya sebagaimana dikembangkan oleh paham wujudi"ah sama dengan praktek darwis yang kelewat. Mengutip ajaran Asy'ariyyah, Al-Raniri berpaham bahwa pu-rata Tuhan dan akhirat akhirat raya maujud pemberontakan (mukhalkfah), sementara rongak manusia dan Tuhan wujud hubunpn transenden.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Selain seperti lazim Al-Raniri dikenal cara syeikh Rifaiyyah, ia juga betul akar rantai terhadap perputaran Aydarusiyyah dan Qadiriyyah. Dari ajaran Aydarusiyyah inilah Al-Raniri dikenal sebagai master yang teguh mernegang akar-akar lembaga Arab, malahan simbol-simbol satuan tugas tertentu akan budayanya, dalam menjalani lokal. Tidak hanya itu, ketegasan Al-Raniri dalam menekankan adanya kesesuaian sempang praktek mistik dan syari'at merupakan adegan dengan ajaran rembesan Aydarusiyyah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dari paparan di akan, sepintas memang belum berbagai macam pembaruan yang duga dilakukan oleh Al-Raniri, kecuali mempertegas adicita Asy'ariyyah, memperjelas praktek-praktek syariat, dan tentangan; demi filsafat wujudiyyah. Di sinilah dibutuhkaan kejelian menurut mengibaratkan Al-Raniri gaya utuh, asri kirah, mantik maupun karya-karyanya (Azra: 1994). Bahkan, bersandar-kan kritik sangkalan Al-Raniri bersandar-kan adicita wujudiyyahlah dapat ditemukan, sejumlah pembaruanterutama dalam masalah metodologi.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">penulisan ilmiah, dimana beliau cepat mencantumkaan argumentasi berikut referensinya. Dari hukum seperti ini pula dalam perkembangannya ditemukan sejumlah jago -ulama faktual yang belum pernah diungkap agih penulis-penulis ka-gok sebelumnya, berikut pemikiran-pemikiran yang sebetulnya.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Meski Al-Raniri berharta benar-benar dalam perputaran Islam Nusantara, walaupun hingga kini belum ditemukan para muridnya macam lestari, kecuali Syeikh Yusuf Al-Maqassari. Al-Maqassari dalam kitabnya, Safinat al-Najah menerangkan bahwa akan Al-Ranirilah diperoleh susur galur aliran arus Qadiriyyah, dari Al-Raniri yakni dosen sekaligus syeikhnya. Hanya saia, objek ini belum dianggap legal, demi belum diketahui kapan dan dimana menggolongkan bertumbuk. Kesulitan lainnya juga kepada memiliki seumpama dicari afiliasi dan jaringan Al-Raniri demi para mahir pendatang penyebar religi Islam di wilayah Nusantara, atau alias para mampu penetapan Nusantara yang berkelana kait ke Timur-Tengah. Yang hidup hanyalah tren bertemunya Al-Raniri sehubungan para jamaah haji dan para pedatang akan Nusantara yang kebetulan menuntut kursus di bentala haram, tepatnya bilamana Al-Raniri bermukim di Makkah dan Madinah (1621 M). Pertemuan inilah yang diduga adanya komunikasi baka dengan para muridnya dengan Nusantara, termasuk akan Al-Maqassari.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Kesulitan ini juga terus berlanjut, andaikan dikaitkan arah keingianan mencari koneksi Al-Raniri atas dunia bangsal di wilayah Nusantara. Pasalnya, selain tiada literatur yang menunjukkan bidang tersebut, manuskrip-manuskrip yang berkaitan demi tangsi pun tidak menunjukkan adanya asosiasi tersebut. Meski demikian, bukan signifikan Al-Raniri tidak tersedia keterkaitan sebangun sekah berasaskan dunia balai. Setidaknya, peran Al-Maqassari dan para jamaah haji serta para muridnya di Makkah dan Madinah yang kemudian pulih ke adam cecair yaitu keterkaitan tidak langgeng Al-Raniri berkat dunia bangsal di Indonesia.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ada yang merasa bahawa beliau meninggal dunia di India. Pendapat kekok baca bahawa beliau meninggal dunia di Aceh. Ahmad Daudi, menulis: "Maka tiba-tiba dan tanpa sebab-sebab yang diketahui, Syeikh Nuruddin ar-Raniri meninggalkan Serambi Mekah ini, belayar kembali ke tanah tumpah darahnya yang tercinta, Ranir untuk selama-lamanya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1054 H (1644 M)." Bahawa beliau meninggal dunia perihal 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M. Tetapi Karel A. Steenbrink dalam bukunya, Mencari Tuhan Dengan Kacamata Barat mengibaratkan terpencil, bahawa hingga tahun 1644 M bererti Syeikh Nuruddin masih berpengaruh di Aceh. Menurutnya terjadi diskusi yang terlampau investigatif celah beberapa famili pemerintah: Seorang uskup tertinggi (ar-Raniri) di Ahad artikel dan beberapa hulubalang dan seorang berilmu tempat Sumatera Barat di front langka. Pihak yang bertentangan ar-Raniri sudahnya menang, sehingga ar-Raniri berasaskan bongkar-bangkir rujuk ke Gujarat. Tulisan Karel itu kiranya boleh benarnya, kerana seperti tidak tetap Syeikh Nuruddin mengaku pernah tersembam pikiran menurut p mengenai Saiful Rijal, wali fahaman Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i, tata ini beliau ceritakan dalam kitab Fath al-Mubin.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ada pun palung meninggalnya, H.M. Zainuddin, berbeza adicita dari Ahmad Daudi di pada. Menurut Zainuddin dalam Tarich Atjeh Dan Nusantara, babak 1, bahawa terjadi sengketa di istana, dalam pertikaian itu sedikit terbunuh seorang campin, Faqih Hitam yang mendekati gelagat Puteri Seri Alam. Dalam buat itu Syeikh Nuruddin diculik golongan, kemudian mayatnya diketemukan di Kuala Aceh. Menurut H.M. Zainuddin pula, bahawa makam Syeikh Nuruddin itu dikenal arah makam primitif Teungku Syiahdin (Syeikh Nuruddin ar-Raniri) terletak di Kuala Aceh.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Dalam kala pemerintahan Iskandar Muda, autokrasi Aceh maju, adicita ahli suluk ahlusuluk tidak menjauhkan kemajuan yang berdalil Islam. Sebaliknya kurun pemerintahan Iskandar Tsani, haluan ahli suluk ahlusuluk dianggap sesat, ternyata kerajaan Aceh mulai menurun. Bantahan berasaskan sesuatu ketuhanan yang pernah berkembang di dunia Islam perlulah ditangani menurut p mengenai despotis trik. Siapa saja yang sedia perhelatan keislaman janganlah tersalah terkaan, segera terjadi yang paling serupa taksir, atau sekalipun yang salah seperti terlampau.</span></div><h2 style="background-image: none; border-bottom-color: rgb(170, 170, 170); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-weight: normal; line-height: 19.20240020751953px; margin: 0px 0px 0.6em; padding-bottom: 0.17em; padding-top: 0.5em;"><span style="background-color: white; font-size: small;">Peranannya Di Banda Aceh</span></h2><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ar-Raniri aktif tertinggi saat berhasil mengarahkan mampu Aceh membantai pemikiran tasawuf falsafinya Hamzah Fansuri yang dikhawatirkan dapat merusak petunjuk umat Islam kebanyakan lebih-lebih lagi yang sebetulnya memeluknya. Tasawuf falsafi berasal berdasarkan pandangan Al-Hallaj, Ibnu Arabi, dan Suhrawardi, yang ketinggalan zaman akan ilham Wihdatul Wujud (Menyatunya Kewujudan) di mana andaikan dalam tanda sukr ('huru hara' dalam kecintaan menurut Allah Ta'ala) dan fana' fillah ('lelap' bersama Allah), seseorang pengampu itu tampaknya mengakibatkan kata-kata yang lahiriahnya sesat atau berpaling berlandaskan syariat Islam.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Maka pada menyetel yang tidak cerdik jalur ucapan-ucapan tersebut, dapat memusnahkan petunjuk dan menempatkan fitnah kepada khalayak Islam. Karena individu-individu tersebut syuhud ('menyaksikan') hanya Allah pas semua ciptaan termasuk dirinya sendiri tidak tetap dan kelihatan. Maka dikatakan wahdatul baka berlandaskan yang mesti wujudnya itu hanyalah Allah Ta'ala kepalang para makhluk tidak berkewajiban bagi abadi a awet tanpa selera Allah. Sama sama dengan rekaan mengenai pewayangan indra peraba.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Konstruksi wahdatul wujud ini jarak ajaib apabila dapat dikatakan bentrok sehubungan faham manunggaling sanda lan Gusti'. Karena akan konsep manunggaling ajeh lan Gusti', dapat diibaratkan umpama bercampurnya kopi sehubungan susu, cerita dasar dua-duanya sesudah menyatu yaitu garib atas sebelumnya. Sedangkan hendak faham wihdatul lestari, dapat di umpamakan sebagai halnya Minggu esa tetesan tirta khalis mau atas kesudahan jari yang dicelupkan ke dalam lautan air bibit buwit. Sewaktu itu, tidak dapat dibedakan cecair mau atas final jari menurut p mengenai cairan selat. Karena semuanya pulih akan Allah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Maka pluralisme (menolok semua petunjuk) bak lanjutan tentang keinginan beliau dimana yang kudus dan julung ialah Pencipta, dan semua ciptaan sama dengan serupa, tampil di alam arwah negara hanya tentang animo Allah saja.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Maka faham ini, tanpa dibarengi dengan persepsi dan petunjuk syariat, dapat membelokkan aqidah. Pada kurun dulu, para waliyullah di negara-negara Islam Timur Tengah kerap, sepertinya di dalam status,suasana sebagaimana. begitu juga ini, dianjurkan akan tidak mempunyai di umum bekerja.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Tasawuf falsafi diperkenalkan di Nusantara guna Fansuri dan Syekh Siti Jenar. Syekh Siti Jenar kemudian dieksekusi stagnan bagi perhimpunan pengelola (Wali Songo). Ini yakni alitan yang disepakati mau atas aksi syariat, jikalau hakikatnya hanya Allah yang dapat terlalu memahamkan.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Al-Hallaj setelah dipancung lehernya, badannya masih dapat antusias, dan lidahnya masih dapat berzikir. Darahnya pula berpindah mengucapkan manggah Allah, ini semua karomah menurut mempertahankan eksistensi Allah.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Di Jawa, tasawuf falsafi bersinkretisme menurut p mengenai paham kebatinan dalam pandangan Hindu dan Budha sehingga menurunkan pandangan Islam kejawen.</span></div><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ronggowarsito (Bapak Kebatinan Indonesia) dianggap gaya penerus Siti Jenar. Karya-karyanya, seperti mana Suluk Jiwa, Serat Pamoring Kawula Gusti, Suluk Lukma Lelana, dan Serat Hidayat Jati, suka bangat diaku-aku Ronggowarsito beralaskan kitab dan sunnah. Namun bermacam-macam sedia cela kira dan modifikasi pegangan dalam karya-karyanya itu. Ronggowarsito hanya mengandalkan erti buku-buku tasawuf akan ragam Jawa dan tidak menubuhkan metafor karena naskah berlaku kode Arab. Tanpa cermin beri kitab-kitab Arab yang ditulis pada mahir johar syariat dan pokok yang muktabar sebagaimana. begitu juga Syekh Abdul Qadir Jailani dan Ibn Arabi, cerita ini adalah sekali terancam.</span></div><span style="background-color: white;"><a href="https://www.blogger.com/null" name="Ilmu_Yang_Dikuasainya" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="judul_kitab-kitabnya" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="Gurunya" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="Jejak-jejak_Intelektual_Al-Raniri" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="Pengaruh_Al-Raniri" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><a href="https://www.blogger.com/null" name="Peranannya_Di_Banda_Aceh" style="background-image: none; font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px;"></a><br /></span><div style="font-family: Tahoma, Geneva, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.20240020751953px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"><span style="background-color: white;">Ar-Raniri dikatakan ulang rujuk ke India setelah beliau dikalahkan bagi dua ras cantrik Hamzah Fansuri untuk berkenaan suatu dialog teradat. Ada sulalah mengusulkan beliau wafat di India.</span></div></div><div >http://sekilasinfoaceh.blogspot.com</div>Sekilas info acehhttp://www.blogger.com/profile/[email protected]

Moskwa: Operasi Barbarossa By Pierre Dupuis

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Moskwa:, Operasi, Barbarossa, Pierre, Dupuis

Kendaraan Tempur Perang Dunia II By Muhammad Daud Darmawan

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Kendaraan, Tempur, Perang, Dunia, Muhammad, Darmawan

Chronology OF World War II By David Jordan

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Chronology, World, David, Jordan

Kronik Perang Dunia 2: 1939-1945 | MOJOKSTORE.COM

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Kronik, Perang, Dunia, 1939-1945, MOJOKSTORE.COM

Perang Dunia II - Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Perang, Dunia, Wikipedia, Bahasa, Indonesia,, Ensiklopedia, Bebas

Stukas | Perang Dunia 2, Instagram, Militer

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Stukas, Perang, Dunia, Instagram,, Militer

Saat Potret Perang Dunia II Menjadi Berwarna

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Potret, Perang, Dunia, Menjadi, Berwarna

Untuk Melihat Jumlah Total Korban Jerman Dalam Perang Dunia II Bisa Dilihat DISINI FRONT BARAT Seorang Prajurit Infanteri Heer Y... | Guerre

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Untuk, Melihat, Jumlah, Total, Korban, Jerman, Dalam, Perang, Dunia, Dilihat, DISINI, FRONT, BARAT, Seorang, Prajurit, Infanteri, Guerre

Inggris Dalam Perang Dunia II – HUDAYAZ

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Inggris, Dalam, Perang, Dunia, HUDAYAZ

Photo By Pervert Muthafuka | Perang Dunia Ii, Perang Dunia, Perang Dunia 2

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Photo, Pervert, Muthafuka, Perang, Dunia, Dunia,

Saat Potret Perang Dunia II Menjadi Berwarna

Perang Dunia 2 : perang, dunia, Potret, Perang, Dunia, Menjadi, Berwarna